Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pygathrix cinerea
Pygathrix cinerea (commons.wikimedia.org/VŨ HÙNG)

Intinya sih...

  • Primata Endemik Vietnam yang Super Langka

  • Habitat di hutan dataran tinggi Vietnam

  • Berpotensi hidup di hutan terdegradasi

  • Punya Wajah Cantik dan Lembut seperti Boneka

  • Bulu berwarna abu-abu, putih, hingga jingga

  • Perbedaan ukuran antara betina dan jantan

  • Vegetarian Sejati yang Ramah Lingkungan

  • Makanan utama terdiri dari dedaunan

  • Makan buah-buahan membantu regenerasi hutan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di antara lebatnya hutan pegunungan Vietnam Tengah, hidup salah satu primata paling indah yang pernah dikenal manusia, yaitu Grey-shanked Douc Langur (Pygathrix cinerea). Dengan wajah lembut berwarna abu-abu keperakan, mata ekspresif, dan bulu bergradasi halus dari abu, putih, hingga jingga, spesies ini tampak seperti karya seni hidup. Namun, di balik keindahannya, Grey-shanked Douc Langur menyimpan kisah tentang kelangkaan dan ancaman besar terhadap kelestariannya. Yuk, kenali lebih dalam fakta-fakta menarik tentang primata cantik asal Vietnam ini!

1. Primata Endemik Vietnam yang Super Langka

Pygathrix cinerea (commons.wikimedia.org/Superbass)

Primata ini hidup di hutan dataran tinggi di Vietnam tengah dan kemungkinan juga di sebagian kecil wilayah Kamboja. Sebagian besar, mereka tinggal di hutan hujan lebat yang selalu hijau di dataran rendah pegunungan. Selain itu, di lansir dari New England Primate Conservancy, mereka juga dapat tinggal di hutan yang sudah terdegradasi.

2. Punya Wajah Cantik dan Lembut seperti Boneka

Pygathrix cinerea (commons.wikimedia.org/VŨ HÙNG)

Primata ini dikenal karena memiliki penampilan yang amat mencolok. Bagaimana tidak, sebagian besar tubuh mereka ditutupi dengan bulu berwarna abu-abu, dan berwarna abu-abu terang di bagian perut mereka. Pada tubuh, mahkota, hingga lengannya terdapat bintik-bintik berwarna abu-abu muda. Sementara pada bahu, paha, dan sebagian bokongnya terdapat bintik-bintik berwarna putih. Selain itu, pada kaki dan tangannya berwarna hitam, sementara tungkai bawahnya berwarna abu-abu gelap.

Selain bulunya yang menawan, wajah mereka pun tidak kalah cantiknya – wajah yang tidak berbulu ini berwarna oranye di bagian atas dan berwarna putih di bagian bawah. Selain itu, terdapat bulu yang cukup panjang, menutupi sisi-sisi wajahnya. Kemudian pada bagian leher atau tenggorokannya berwarna putih dan terdapat garis berwarna oranye yang berbentuk seperti kerah, yang dibatasi garis hitam yang menghubungkan bintik-bintik hitam di bahunya.

Mereka juga menunjukkan adanya perbedaan ukuran antara betina dan jantan (dimorfisme seksual). Betina memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan dengan jantan. Betina memiliki ukuran badan sekitar 56 cm dengan berat sekitar 8,2 kg. Sedangkan jantan memiliki ukuran badan sekitar 59 cm dengan berat sekitar 10,9 kg. Ukuran ini belum termasuk ekornya – diketahui ekornya yang berwarna putih ini memiliki panjang yang sama panjangnya dengan ukuran tubuhnya.

3. Vegetarian Sejati yang Ramah Lingkungan

Pygathrix cinerea (commons.wikimedia.org/Superbass)

Mereka merupakan hewan folivora, yang artinya makanan utamanya terdiri dari dedaunan. Dikutip dari New England Primate Conservancy, sekitar setengah dari asupan makanan mereka terdiri dari daun muda, sekitar 10% daun tua, serta sisanya terdiri dari buah, biji, dan bunga. Diketahui juga bahwa mereka memakan setidaknya 166 spesies tumbuhan. Pola makan mereka juga di pengaruhi oleh musim – yang di mana pada musim kemarau mereka lebih banyak memakan daun muda, sedangkan pada musim hujan mereka lebih banyak mengonsumsi buah-buahan. Selain itu, kebiasaannya memakan buah-buahan juga dapat membantu dalam regenerasi hutan melalui penyebaran biji dari buah yang mereka makan.

4. Hidup di Pohon Tinggi dan Jarang Turun ke Tanah

Pygathrix cinerea (commons.wikimedia.org/VŨ HÙNG)

Sebagian besar waktunya ia habiskan di atas pepohonan (arboreal) dan sangat jarang sekali ia turun ke tanah. Jarang turun ke tanah, kemungkinan disebabkan oleh ketidak-perluannya mereka untuk pergi ke sumber air untuk minum – mereka tidak memerlukan air untuk menghidrasi tubuh mereka, karena makanan mereka cukup mengandung banyak air, sehingga dapat memenuhi hidrasi tubuh mereka. Selain itu, mereka bergerak dengan melompat dan berayun dari satu dahan ke dahan lainnya. Untuk memudahkan pergerakan ini mereka sudah dilengkapi dengan lengan dan kaki yang panjang, sehingga dapat beradaptasi dengan baik di kehidupan mereka yang tinggal di pepohonan. Selain itu, walaupun mereka sering menunjukkan gerakkan akrobatik, dikutip dari New England Primate Conservancy, mereka memiliki perut yang buncit, sehingga sedikit mengherankan untuk hewan yang atletis.

Selain itu, mereka juga terkadang sering bergelantungan di dahan menggunakan lengannya sambil memakan daun. Semua kebiasaan ini diketahui sebagai adaptasinya yang mengharuskan mereka menjadi sangat lincah untuk bisa memakan makanan favoritnya (daun muda) yang berada di ujung dahan.

5. Kehidupan Berkelompok yang Saling Merawat

Pygathrix cinerea (commons.wikimedia.org/Superbass)

Dikutip dari Bio Explorer, pada zaman dahulu, mereka dapat ditemukan berkelompok hingga 50 ekor. Namun, kini jumlahnya telah berkurang secara signifikan menjadi 4 hingga 15 ekor per kelompoknya. Biasanya jantan sangat mendominasi dalam kelompok, sehingga kelompok akan dipimpin oleh sang jantan.

Dalam kehidupan yang berkelompok ini, wajib untuk menjaga keharmonisan di setiap anggotanya. Mereka mempunyai kebiasaannya yang membuat hubungan mereka menjadi sangat kuat – kebiasaan itu adalah allogrooming atau perawatan diri. Perawatan diri ini berguna bagi ikatan sosial mereka agar tetap terjaga. Selain itu, perawatan diri ini sangat berguna untuk menghilangkan parasit di tubuh mereka. Dan biasanya kebiasaan ini dilakukan mereka pada saat sebelum tidur. Selain menggunakan allogrooming untuk menjaga ikatan sosialnya dan salah satu bentuk komunikasi mereka terhadap anggota kelompoknya, mereka juga mempunyai berbagai bentuk komunikasi. Mulai dari komunikasi visual hingga komunikasi verbal. Komunikasi visual biasanya meliputi postur tubuh dan ekspresi wajah. Sementara komunikasi verbal biasanya seperti berupa geraman hingga kicauan.

6. Berstatus Kritis di Alam Liar

Pygathrix cinerea (commons.wikimedia.org/VŨ HÙNG)

Sayangnya primata cantik ini telah berstatus kritis terancam punah atau Critically Endangered, dan masuk dalam The IUCN’s Red List of Threatened Species. Dikutip dari New England Primate Conservancy, populasi mereka telah menurun lebih dari 80% selama 36 tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh habitatnya yang terdeforestasi hingga perburuan secara ilegal. Habitatnya banyak dialih fungsikan menjadi lahan pertanian, pembangunan pembangkit listrik, dan pembangunan infrastruktur. Selain itu, perburuan liar yang terjadi, biasanya bertujuan untuk dijual di pasar hewan peliharaan ilegal, diambil dagingnya untuk dikonsumsi, dan dijadikan sebagai obat tradisional. Selain disebabkan karena habitatnya yang rusak dan perburuan, ternyata perubahan iklim yang terjadi di Vietnam menjadi faktor menurunnya populasi primata cantik ini. Hal ini dikarenakan distribusi atau wilayah jelajah mereka sangatlah kecil dan sempit, sehingga sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Kini upaya untuk menyelamatkan primata dari kepunahan ini telah dilakukan, mulai dari terdaftarnya di perjanjian CITES (Convention on Internasional Trade in Endangered Species) dan juga dilindungi oleh undang-undang perlindungan satwa liar Vietnam. Mereka juga telah dilestarikan di beberapa kawasan lindung di sana, dan juga pemberian edukasi kepada masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga spesies ini dan habitatnya dari kepunahan dan kerusakan.

Grey-shanked Douc Langur bukan hanya primata biasa, tetapi ia adalah simbol keindahan ekosistem alam Vietnam. Dari wajahnya yang menawan hingga perilakunya yang unik, semuanya memancarkan keanggunan alami yang sulit ditandingi. Sayangnya, habitatnya yang kian menyusut membuat keberadaannya berada di ujung tanduk. Menjaga kelestarian Grey-shanked Douc Langur berarti melindungi sebagian dari jiwa hutan Vietnam, agar pesona primata ini tetap hidup di pepohonan tropis Asia Tenggara untuk generasi mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team