Sebuah arsip atau ruang penyimpanan, khususnya Forum Granaries (Horrea) di Pompeii, yang sekarang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai artefak dan cetakan plester terkenal dari para korban letusan Gunung Vesuvius tahun 79 Masehi. (commons.wikimedia.org/Rodrigo Silva)
Pompeii, Herculaneum, dan Torre Annunziata secara kolektif ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1997 karena kemampuannya memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan Romawi abad ke-1 Masehi. Sementara Pompeii dikenal sebagai kota perdagangan luas dengan bangunan publik megah seperti amfiteater dan forum, Herculaneum menawarkan detail yang lebih intim dan terawat. Karena terkubur oleh material vulkanik yang berbeda, Herculaneum berhasil melestarikan benda-benda organik yang langka, seperti struktur kayu rumah, furnitur, kain, hingga sisa makanan dan gulungan papirus kuno yang masih utuh.
Keistimewaan wilayah ini juga terpancar dari vila-vila mewah di pinggiran kota, seperti Vila Misteri di Pompeii dan Vila Poppaea di Torre Annunziata, yang menampilkan lukisan dinding serta fresko ilusionistik paling indah dari zaman Romawi. Selain arsitekturnya, sisa-sisa manusia yang ditemukan—baik melalui cetakan gips di Pompeii maupun kerangka asli di garis pantai Herculaneum—menjadi sumber data ilmiah yang tak ternilai untuk memahami kesehatan dan gaya hidup masa lalu.
Meskipun sempat terkubur ribuan tahun, Pompeii kini hadir sebagai museum terbuka paling penting yang menghubungkan manusia modern dengan realitas kehidupan bangsa Romawi kuno secara utuh, di mana keberadaannya telah memberikan wawasan luar biasa tentang sejarah. Sayangnya, situs ini juga menghadapi tantangan besar berupa kerusakan akibat cuaca, padatnya wisatawan, dan pertumbuhan tanaman liar. Oleh karena itu, berbagai upaya konservasi dan pemugaran terus digalakkan agar jutaan pengunjung dari seluruh dunia tetap bisa mempelajari dan mengagumi bukti peradaban masa lalu yang sangat langka ini hingga masa depan.