Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemandangan indah Arthur's Seat dan cakrawala Edinburgh, Skotlandia.
Pemandangan indah Arthur's Seat dan cakrawala Edinburgh, Skotlandia. (unsplash.com/Mike Newbry)

Intinya sih...

  • Edinburgh resmi menjadi ibu kota Skotlandia pada abad ke-15 di bawah pemerintahan James III, berkembang pesat menjadi pusat budaya dan politik.

  • Edinburgh memiliki bentang alam yang unik karena dibangun di atas bekas gunung berapi purba, dengan cuaca sedang dan stabil sepanjang tahun.

  • Kota ini memiliki perpaduan antara keindahan alam dan bangunan bersejarah, serta memiliki kota bawah tanah yang dapat dikunjungi sebagai bagian dari sejarah kelam Edinburgh.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Edinburgh terletak di tenggara Skotlandia, membentang di antara perbukitan Pentland Hills dan muara sungai Firth of Forth yang dekat dengan pelabuhan ramai, Leith. Kota ini memiliki pemandangan yang dramatis dan unik karena dibangun di atas sisa-sisa gunung berapi purba yang sudah punah. Salah satu bukti paling ikonik adalah Castle Rock, sebuah batu basal hitam besar yang menjadi fondasi Edinburgh Castle, serta perbukitan Arthur's Seat setinggi 251 meter yang mendominasi langit kota.

Itu baru permulaan, karena di balik kemegahan alamnya, ibu kota Skotlandia ini menyimpan banyak fakta menarik yang akan membuatmu terpukau. Mari jelajahi lebih dalam keunikan kota yang menjadi inspirasi bagi dunia Harry Potter ini!

1. Menelusuri sejarah ibu kota Skotlandia

Pemandangan dari ketinggian kota bersejarah Edinburgh, Skotlandia. (unsplash.com/Joss Broward)

Edinburgh resmi menjadi ibu kota Skotlandia pada abad ke-15 di bawah pemerintahan James III, setelah sebelumnya ditetapkan sebagai kota kerajaan oleh Raja Robert I. Sejak saat itu, Edinburgh berkembang pesat menjadi pusat budaya dan politik, mulai dari pembangunan istana di dekat Biara Holyrood hingga pengoperasian mesin cetak pertama di Skotlandia. Karena terbatasnya lahan sementara populasi terus melonjak, penduduk pada abad ke-16 dan ke-17 membangun rumah susun yang sangat tinggi, yang kini menjadi ciri khas unik dari area Kota Tua.

Memasuki abad ke-18, Edinburgh menjadi pusat intelektual dunia melalui gerakan Pencerahan Skotlandia, meskipun sempat kehilangan kemandirian politiknya akibat persatuan dengan Inggris. Memasuki era modern, kota ini berhasil mengatasi tantangan industri dan kepadatan penduduk dengan melakukan kebangkitan budaya serta memperkuat pelestarian warisan sejarahnya. Puncaknya pada tahun 1999, Edinburgh kembali mengukuhkan perannya sebagai jantung politik Skotlandia melalui pembentukan Parlemen Skotlandia yang baru.

2. Pesona kota yang dibangun di atas gunung berapi

Kastil Edinburgh, sebuah benteng bersejarah ikonik yang mendominasi cakrawala Edinburgh, Skotlandia, dari posisinya di atas batuan vulkanik kuno. (unsplash.com/Jörg Angeli)

Edinburgh memiliki bentang alam yang unik karena dibangun di atas bekas gunung berapi purba. Pusat kotanya didominasi oleh Castle Rock, sebuah batu basal hitam setinggi 76 meter yang terbentuk dari aktivitas vulkanik jutaan tahun lalu. Keunikan wilayah ini juga dipengaruhi oleh pergerakan es zaman purba yang menciptakan formasi tebing dan landasan miring ke arah timur. Di sepanjang puncak landasan inilah Kota Tua Edinburgh mulai dibangun sejak abad ke-12.

Cuaca di sana sedang dan stabil karena letaknya yang dekat dengan laut, sehingga suhunya tidak pernah terlalu ekstrem. Musim dingin di sana pun cenderung cukup hangat di atas titik beku, sementara musim panasnya terasa sejuk dan jarang melebihi 21°C. Meskipun kota ini jarang mendapatkan sinar matahari yang terik dalam waktu lama, tetapi curah hujannya tergolong sedang dan merata sepanjang tahun. Pengunjung biasanya akan sering melihat pemandangan awan yang berubah-ubah, yang justru menambah suasana khas pada langit Edinburgh.

3. Harmoni kota tua dan keanggunan kota baru

Area Kota Baru (New Town) Edinburgh, Skotlandia. (commons.wikimedia.org/David Dixon)

Ciri khas utama kota Edinburgh adalah perpaduan antara keindahan alam dan bangunan bersejarah, di mana pusat kotanya terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama adalah Kota Tua yang dibangun sejak abad ke-12 di atas tebing batu basal hitam bekas gunung berapi purba, sedangkan bagian kedua adalah Kota Baru yang direncanakan dengan rapi antara tahun 1767 hingga 1833 untuk menyeimbangkan kepadatan penduduk.

Keunikan arsitektur Edinburgh juga terlihat dari struktur kotanya yang seolah-olah memiliki dua tingkat berbeda, seperti jalan Cowgate yang posisinya berada jauh di bawah jalan High Street. Karena dibangun di atas sisa-sisa puing glasial yang miring, banyak bangunan di Edinburgh tampak menjulang tinggi dan saling bertumpuk di teras-teras batu. Struktur dua tingkat ini menciptakan lorong-lorong sempit dan jembatan yang menghubungkan berbagai area kota, sehingga memberikan pemandangan dramatis bagi siapa pun yang berjalan menyusurinya.

4. Memiliki kota bawah tanah

Momen di dalam Edinburgh Vaults, yang juga dikenal sebagai South Bridge Vaults, di Skotlandia. Ruang bawah tanah ini dibangun di dalam sembilan belas lengkungan Jembatan Selatan, yang selesai dibangun pada tahun 1788. (commons.wikimedia.org/Shadowgate)

Dahulu, kawasan Cowgate di Edinburgh dikenal sebagai "Little Ireland" karena menjadi tempat bernaung bagi para imigran Irlandia dan penduduk Dataran Tinggi Skotlandia yang melarikan diri dari kelaparan pada abad ke-19. Karena ledakan populasi yang tidak sebanding dengan jumlah hunian, kaum miskin kota akhirnya terpaksa tinggal di Blair Street Underground Vaults, yaitu rangkaian ruangan di bawah lengkungan Jembatan Selatan yang awalnya dibangun sebagai gudang dan bengkel pengrajin. Sayangnya, karena kebocoran air dan kondisi yang sangat lembap, para pemilik toko meninggalkan tempat tersebut, sehingga ruang bawah tanah yang gelap dan dingin itu berubah menjadi pemukiman kumuh bagi keluarga buruh yang sangat membutuhkan tempat tinggal.

Kini, jejak kehidupan "kota bawah tanah" tersebut masih tersisa dan dapat dikunjungi sebagai bagian dari sejarah kelam Edinburgh. Sebagian dari ruangan bawah tanah tersebut telah ditemukan kembali pada tahun 1980-an bersama dengan berbagai artefak peninggalan penghuninya, sementara bagian lainnya kini beralih fungsi menjadi tempat pertunjukan musik dan pub. Meskipun tampak modern dari luar, melangkah ke bawah tanah South Bridge akan membawa pengunjung kembali ke masa lalu untuk melihat sisa-sisa kehidupan masyarakat yang pernah mendiami salah satu sudut paling misterius di ibu kota Skotlandia ini.

5. Jejak budaya Skotlandia

Sebuah marching band tradisional Skotlandia berjalan di sepanjang rute prosesi di Edinburgh sebagai bagian dari perayaan Hogmanay 2025. (unsplash.com/Bruno Bradbury)

Skotlandia merupakan negeri yang kaya akan takhayul kuno dan tradisi unik yang masih terjaga hingga kini. Masyarakatnya memercayai berbagai pertanda nasib, mulai dari larangan nelayan melaut jika berpapasan dengan pendeta, hingga mitos bunga heather putih yang dianggap pembawa keberuntungan bagi pengantin karena berasal dari air mata pahlawan Celtic. Tradisi seperti Hogmanay (Tahun Baru) juga sangat kental dengan ritual, seperti first-footing, di mana tamu pertama harus membawa hadiah simbolis agar tuan rumah beruntung sepanjang tahun. Selain itu, ada pula ritual kecantikan pagan seperti membasuh wajah dengan embun pagi di bukit Arthur's Seat setiap tanggal 1 Mei yang dipercaya memberikan vitalitas dan awet muda.

Di sisi lain, identitas budaya Skotlandia sangat melekat pada kuliner, pakaian, dan keseniannya. Wiski Single Malt dari wilayah Speyside dan hidangan khas haggis menjadi simbol kebanggaan nasional, berdampingan dengan penggunaan kilt (rok tartan) yang melambangkan sejarah perlawanan klan-klan Skotlandia. Wisatawan dapat merasakan langsung semangat budaya ini melalui tarian ceilidh yang meriah, mendengarkan lantunan alat musik bagpipe yang megah di jalanan kota, atau mengunjungi situs warisan dunia UNESCO seperti Kota Tua Edinburgh yang bergaya Gotik. Perpaduan antara sejarah kelam, festival seni modern seperti Fringe, dan kuliner yang beragam menjadikan Skotlandia destinasi yang penuh kejutan sekaligus keramahan.

6. Kota literasi pertama UNESCO

Perpustakaan Nasional Skotlandia (National Library of Scotland) terletak di pusat kota Edinburgh, tepatnya di George IV Bridge, antara kawasan Kota Tua (Old Town) dan area universitas, dan merupakan pusat penting untuk penelitian sejarah dan budaya Skotlandia dengan koleksi jutaan objek. (commons.wikimedia.org/Jwslubbock)

Edinburgh dinobatkan sebagai Kota Sastra UNESCO pertama di dunia pada tahun 2004 karena sejarah literaturnya yang luar biasa sebagai rumah bagi penulis legendaris seperti J.K. Rowling dan Sir Arthur Conan Doyle. Kota ini menjadi pusat ekosistem buku global dengan kehadiran perpustakaan keliling pertama di dunia, Perpustakaan Nasional Skotlandia, serta lebih dari 50 toko buku dan berbagai lembaga literasi yang aktif sepanjang tahun. Puncak perayaan sastranya terjadi setiap bulan Agustus melalui Festival Buku Internasional Edinburgh, festival buku terbesar di dunia yang mendatangkan ratusan penulis mancanegara.

Dengan warisan akademis dari universitas-universitas tua dan komitmen untuk terus berkolaborasi dengan kota kreatif lainnya, Edinburgh terus memimpin strategi pengembangan sastra dan seni di tingkat internasional.

7. Ada monumen untuk penulis terbesar di dunia

Monumen Scott di Princes Street Gardens, Edinburgh, Skotlandia. (commons.wikimedia.org/Carlos Delgado)

Monumen Scott merupakan menara bergaya Gotik Victoria setinggi 61 meter yang menjulang di Princes Street, Edinburgh. Bangunan megah ini memegang rekor sebagai monumen penulis tertinggi di dunia, yang didedikasikan khusus untuk Sir Walter Scott, pencipta novel sejarah ternama seperti Ivanhoe dan Waverley. Menara ini dihiasi dengan 68 patung kecil yang menggambarkan karakter dari novel-novelnya serta tokoh penulis Skotlandia lainnya, sementara di bagian dasarnya terdapat patung besar Scott bersama anjing kesayangannya, Maida, yang dipahat dari satu bongkahan marmer utuh.

Selain keindahan arsitekturnya, pengunjung dapat mengeksplorasi bagian dalam monumen yang menyediakan ruang museum mengenai perjalanan hidup dan karya Scott. Bagi yang memiliki stamina cukup, bisa menaiki 288 anak tangga sempit menuju puncak untuk menikmati panorama Kota Edinburgh yang luar biasa dari ketinggian. Sebagai penghormatan atas pengaruh besarnya, nama salah satu novel terkenalnya, Waverley, bahkan diabadikan menjadi nama stasiun kereta api utama di pusat kota Edinburgh.

8. Aturan baru 2026: Edinburgh segera terapkan pajak turis 5%

The Balmoral, sebuah hotel mewah ikonik dan landmark di Edinburgh, Skotlandia. (commons.wikimedia.org/Tony Hisgett)

Mulai 24 Juli 2026, Edinburgh akan memberlakukan pajak turis sebesar 5% bagi wisatawan yang menginap di hotel, Airbnb, atau hostel, tetapi biaya ini hanya dikenakan untuk lima malam pertama saja. Pajak yang dibayarkan saat check-in atau check-out ini bertujuan untuk mengumpulkan dana guna memperbaiki fasilitas kota, merawat situs bersejarah, serta mendukung pariwisata yang lebih ramah lingkungan. Dengan aturan baru ini, pemerintah setempat berharap Edinburgh tetap menjadi kota budaya yang nyaman, aman, dan berdaya saing global baik bagi pengunjung maupun warga lokal.

Edinburgh adalah kota yang luar biasa karena memadukan keindahan arsitektur dengan sejarah unik yang berdiri di atas gunung berapi purba. Sebagai Kota Sastra UNESCO yang kaya akan karya legendaris dan misteri kota bawah tanah, ibu kota Skotlandia ini menawarkan pengalaman lebih dari sekadar wisata biasa. Melalui upaya pelestarian warisan masa lalu dan kebijakan pariwisata berkelanjutan, Edinburgh berhasil menjaga sejarahnya tetap hidup sehingga setiap pengunjung dapat merasakan langsung detak jantung masa lalu di setiap sudut kota modern ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team