Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Indonesia Sering Beda Lebaran dengan Arab Saudi? Ini 5 Alasannya!
ilustrasi lebaran di Arab Saudi (pexels.com/Hafiz Humayun Khan)
  • Perbedaan Lebaran antara Indonesia dan Arab Saudi disebabkan oleh faktor astronomi, seperti posisi geografis yang memengaruhi waktu terbenam matahari dan visibilitas hilal di masing-masing wilayah.
  • Kriteria visibilitas hilal berbeda antarnegara; Indonesia memakai standar MABIMS dengan batas ketinggian dan elongasi tertentu, sedangkan beberapa negara Timur Tengah menggunakan aturan lebih longgar.
  • Selain faktor cuaca dan atmosfer, metode penentuan kalender Hijriah serta tradisi administrasi keagamaan turut membuat keputusan awal Syawal di tiap negara tidak selalu sama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap tahun menjelang akhir Ramadan, umat Islam di berbagai negara menunggu satu pertanyaan penting, “Kapan Idulfitri dirayakan?” Menariknya, tanggal Lebaran di Indonesia sering kali berbeda dengan yang diumumkan di Arab Saudi. Namun, Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan dalam sejarah kalender Islam modern, perbedaan tersebut sudah berulang kali terjadi dan sering memunculkan perdebatan di ruang publik.

Jika dilihat dari sudut pandang ilmu pengetahuan, perbedaan itu sebenarnya tidak sesederhana “siapa yang benar atau salah”. Ia berkaitan dengan astronomi bulan, metode pengamatan hilal, serta perbedaan standar visibilitas bulan sabit pertama. Para astronom menjelaskan bahwa bulan sabit muda sangat tipis dan sulit dilihat, sehingga faktor geografis, atmosfer, hingga metode penentuan kalender dapat memengaruhi hasilnya. Karena itulah Indonesia—melalui Kementerian Agama Republik Indonesia—kadang menetapkan tanggal Lebaran berbeda dari pengumuman pemerintah Pemerintah Arab Saudi. Yuk, kita telusuri apa saja alasan ilmiah mengenai penetapan Lebaran yang berbeda tersebut!

1. Perbedaan lokasi geografis mengubah posisi bulan

ilustrasi hilal yang dipengaruhi geografis (pexels.com/Elmira Danilova)

Salah satu alasan paling mendasar adalah perbedaan posisi geografis antara Indonesia dan Arab Saudi. Indonesia berada jauh di timur dibandingkan Timur Tengah, sehingga waktu matahari terbenam dan posisi bulan relatif terhadap matahari juga berbeda.

Dalam astronomi, hilal hanya bisa terlihat setelah matahari terbenam. Jika pada saat matahari terbenam di Arab Saudi posisi bulan sudah cukup tinggi, maka hilal mungkin bisa terlihat di sana. Namun, ketika matahari terbenam di Indonesia beberapa jam kemudian, posisi bulan bisa saja sudah terlalu rendah atau bahkan sudah terbenam lebih dulu.

Menurut Jean Meeus dalam buku Astronomical Algorithms, posisi bulan relatif terhadap matahari sangat bergantung pada koordinat geografis pengamat, sehingga visibilitas hilal dapat berbeda di berbagai wilayah Bumi.

2. Kriteria visibilitas hilal yang tidak sama

‎ilustrasi hilal yang punya banyak visibilitas (pexels.com/Soly Moses)

Setiap negara atau organisasi Islam memiliki kriteria berbeda untuk menentukan apakah hilal sudah layak dianggap terlihat. Indonesia menggunakan kriteria visibilitas hilal yang disepakati oleh negara-negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura).

Standar tersebut menetapkan bahwa hilal baru dianggap mungkin terlihat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi sekitar 6,4 derajat dari matahari. Kriteria ini digunakan dalam sidang isbat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Sementara itu, beberapa negara Timur Tengah menggunakan standar berbeda yang lebih longgar atau lebih bergantung pada laporan rukyat lokal. Perbedaan kriteria visibilitas inilah yang membuat satu negara menyatakan hilal sudah memenuhi syarat, sementara negara lain menyatakan belum mungkin terlihat.

3. Faktor atmosfer dan cuaca pengamatan

ilustrasi hilal yang sulit dilihat karena atmosfer (pexels.com/Efrem Efre)

Hilal adalah salah satu objek langit paling sulit diamati karena cahayanya sangat redup dan sangat dekat dengan cahaya matahari senja. Kondisi atmosfer bumi dapat memengaruhi apakah hilal bisa terlihat atau tidak.

Menurut Louay J. Fatoohi, dalam penelitian yang diterbitkan di Durham e-Theses, faktor seperti kabut, debu, polusi udara, dan awan tipis dapat membuat hilal yang sebenarnya mungkin terlihat menjadi mustahil diamati oleh mata manusia.

Karena kondisi atmosfer di Indonesia dan Arab Saudi tentu berbeda, kemungkinan melihat hilal juga tidak selalu sama. Dalam beberapa kasus, hilal bisa terlihat di satu wilayah tetapi tidak terlihat di wilayah lain pada hari yang sama.

4. Perbedaan metode penentuan kalender Hijriah

ilustrasi hilal bagian dari tradisi dan ilmu astronomi (pexels.com/Jay Brand)

Perbedaan Lebaran juga dipengaruhi oleh metode penentuan kalender Islam. Secara umum ada dua pendekatan utama, yaitu rukyatul hilal (observasi langsung) dan hisab (perhitungan astronomi).

Di Indonesia, penentuan awal bulan biasanya dilakukan melalui kombinasi keduanya. Data hisab digunakan untuk memprediksi posisi bulan, kemudian rukyat dilakukan di berbagai titik pengamatan untuk memastikan apakah hilal benar-benar terlihat.

Menurut astronom Thomas Djamaluddin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, pendekatan kombinasi ini dianggap lebih ilmiah karena perhitungan astronomi membantu memprediksi kemungkinan visibilitas hilal, sementara pengamatan lapangan menjadi verifikasi empiris.

5. Tradisi penetapan kalender yang berbeda

ilustrasi hilal yang punya tradisi penetapan berbeda (freepik.com/wirestock)

Selain faktor astronomi, tradisi administrasi kalender juga memengaruhi keputusan akhir. Beberapa negara cenderung mengikuti laporan rukyat dari wilayah tertentu, sementara negara lain mengutamakan standar astronomi regional.

Arab Saudi memiliki otoritas penetapan kalender sendiri yang digunakan terutama untuk menentukan jadwal ibadah di Tanah Suci. Sementara Indonesia menggunakan mekanisme sidang isbat nasional yang mempertimbangkan laporan pengamatan dari berbagai daerah.

Perbedaan sistem ini membuat keputusan akhir tidak selalu sama, meskipun fenomena bulan yang diamati sebenarnya sama. Dalam praktiknya, kalender Hijriah global memang belum sepenuhnya seragam karena masih dipengaruhi oleh tradisi, otoritas keagamaan, dan interpretasi metode astronomi.

Perbedaan Lebaran antara Indonesia dan Arab Saudi sebenarnya merupakan hasil dari kombinasi faktor astronomi, geografis, atmosfer, serta metode penentuan kalender Islam. Bulan sabit pertama yang menjadi penanda awal bulan Hijriah adalah fenomena langit yang sangat tipis dan sensitif terhadap berbagai kondisi.

Karena itu, tidak mengherankan jika dua wilayah yang berjauhan di bumi dapat menghasilkan keputusan berbeda mengenai awal Syawal. Bahkan bagi para astronom, fenomena ini justru menunjukkan betapa kompleksnya proses melihat hilal di langit senja.

Pada akhirnya, baik rukyat maupun hisab sama-sama berusaha membaca tanda yang sama di langit: sepotong cahaya bulan yang sangat tipis, tetapi memiliki makna besar bagi jutaan orang yang menanti hari kemenangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team