TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Sejarah Kuteks, Simbol Status hingga Terinspirasi dari Cat Mobil

Sudah hadir sejak ribuan tahun sebelum masehi

ilustrasi tangan dengan kuteks (pexels.com/Ari Roberts)

Penampilan kuku yang cantik dapat memberi kesenangan bagi pemiliknya. Saat ini terdapat banyak pilihan dalam mempercantik kuku melalui beragam produk dan teknik. Namun, tahukah kamu bahwa tren mewarnai kuku ternyata sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Tepatnya pada peradaban jauh sebelum masehi. Kala itu, penggunaan pewarna kuku menjadi simbol penting dalam tatanan sosial masyarakat. Bahkan, terdapat peraturan khusus terkait penggunaan warna yang harus dipatuhi. Mau tahu lebih lanjut? Berikut kisah di balik sejarah kuteks!

1. Pewarna kuku pada jejak peradaban kuno

ilustrasi peradaban mesir kuno (pexels.com/AXP Photography)

Dilansir Byrdie, kuteks telah hadir sejak ribuan tahun sebelum masehi. Pada tahun 3.200 SM, pria di Babylonia menggunakan pewarna kuku berbahan kohl berdasarkan ketentuan warnanya. Warna hitam bagi kalangan dengan status kelas tinggi, sedangkan warna hijau menandakan kelas bawah. Para prajurit pun mewarnai kuku mereka saat akan berperang.

Penggunaan serupa juga ditemukan di dinasti China 3.000 SM. Kala itu, pewarna merah dan hitam digunakan oleh kalangan bangsawan. Pewarna tersebut berbahan dasar lilin lebah, getah arab, putih telur, serta gelatin. Selanjutnya pada tahun 600 SM, warna emas dan silver mulai kerap digunakan.

Jejak penggunaan henna sebagai kuteks juga ditemukan di peradaban India dan Mesir Kuno. Ratu Cleopatra kala itu dikatakan menggunakan henna merah pada kukunya. Meski berbeda wilayah, terdapat kesamaan pada aturan warna kuku. Warna yang mencolok untuk kelas atas dan warna yang lebih netral untuk kelas bawah. Tak sembarangan, bagi siapa yang berani melanggar harus bersiap menerima hukuman mati.

2. Salon perawatan kuku pertama di Amerika Serikat

ilustrasi manikur kuku (pixabay.com/Engin_Akyurt)

Mary E. Cobb merupakan sosok wanita pemilik salon manikur pertama di Amerika Serikat. Awalnya ia mempelajari seni manikur di Prancis yang kemudian dimodifikasinya. Berbekal ilmu tersebut, Cobb pada tahun 1878 membuka salon manikur bernama "Mrs. Pray's Manicure". Pelanggan salonnya datang dari berbagai kalangan.

Tak hanya itu, Cobb berinovasi dalam menciptakan emery board atau alat pengikir kuku yang masih digunakan saat ini. Meski sulit untuk mengetahui di mana salon manikur pertama di dunia, namun salon milik Cobb menjadi bagian penting dari perkembangan seni manikur modern.

3. Evolusi produk kuku oleh brand Cutex

ilustrasi iklan produk Cutex (hagley.org)

Dikutip laman Hagley Museum & Library, pada tahun 1911 seorang ahli kimia bernama Northam Warren menciptakan produk pembersih kutikula bernama Cutex. Kesuksesan produk tersebut mendorongnya mengembangkan produk kuku lain. Termasuk produk kuteks cair bening di tahun 1916. Selanjutnya, produk Cutex dikembangkan dengan varian rose tinted dan diikuti koleksi warna lainnya.

4. Inspirasi yang bermula dari cat mobil

ilustrasi kuteks revlon yang terinspirasi dari cat mobil (unsplash.com/Fred Neethling | revloncorp.com)

Di sisi lain, ide kuteks modern pun datang dari seorang makeup artist kebangsaan Prancis bernama Michelle Menard. Awalnya Michelle terinspirasi dari kilauan cat mobil yang dilihatnya dan menginginkan produk kuteks yang bisa memberikan efek serupa. Ia lalu berkolaborasi dengan perusahaan tempatnya bekerja untuk memformulasikan produk. Pada tahun 1932, lahirlah kuteks cair dari brand yang kini kita kenal sebagai Revlon.

Verified Writer

Michelle

⸜(。˃ ᵕ ˂ )⸝☆

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya