gambar kaldera hasil letusan Gunung Tambora tahun 1815 (commons.m.wikimedia.org/Jialiang Gao)
Gak bisa dimungkiri jika erupsi gunung terutama erupsi eksplosif sangatlah berbahaya. Erupsi gunung sendiri sering kali diawali dengan gempa besar yang merusak bangunan dan pemukiman terdekat. Ketika erupsi itu akhirnya terjadi, lava dan awan panas yang menuruni lereng dengan cepat akan menyebabkan kebakaran hutan. Belum lagi abu vulkanik yang dapat dengan mudah menyebar hingga ratusan mil lewat udara, dan menyebabkan terjadinya sejumlah masalah pernapasan. Dalam kasus yang lebih parah, erupsi gunung berapi bahkan bisa memicu bencana global seperti yang terjadi pada tahun 1816, tepat satu tahun setelah Gunung Tambora erupsi.
Dilansir Britannica, Gunung Tambora dulunya merupakan gunung api berketinggian 4.300 mdpl. Pada tanggal 10 April 1815, gunung ini mengalami erupsi yang luar biasa mengerikan. Gak hanya menyebabkan tsunami dan menewaskan 10.000 penduduk di Pulau Sumbawa, erupsi Gunung Tambora juga melontarkan 60 megaton sulfur ke atmosfer. Akibatnya sinar matahari gak bisa mencapai permukaan Bumi, dan membuat suhu rata-rata global turun hingga 3 derajat Celsius. Di tahun 1816, orang-orang di Eropa dan Amerika mengalami “Tahun Tanpa Musim Panas”, menyebabkan kelaparan dan sejumlah besar wabah penyakit.
Erupsi gunung memang merupakan salah satu bencana mengerikan. Kabar baiknya, dengan teknologi saat ini, kerusakan yang diakibatkan oleh erupsi gunung bisa ditanggulangi. Namun tetap aja kita gak boleh kehilangan kewaspadaan, terutama jika kita tinggal di lereng gunung berapi yang statusnya memang masih aktif.