Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bir Tawil
ilustrasi Bir Tawil (wikimedia.org/لا روسا)

Intinya sih...

  • Bir Tawil adalah tanah tanpa pemilik di perbatasan Mesir dan Sudan

  • Wilayah ini gersang, tidak memiliki nilai ekonomi, dan terjepit dalam sengketa wilayah yang lebih berharga

  • Suku Ababda merupakan penghuni asli Bir Tawil, namun wilayah ini menarik perhatian penambang emas ilegal

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia modern saat ini hampir seluruhnya telah terbagi habis ke dalam batas-batas negara yang jelas, tapi Bir Tawil muncul sebagai pengecualian hukum yang sangat langka di muka bumi. Wilayah ini dikenal sebagai terra nullius, sebuah istilah Latin yang berarti "tanah tanpa pemilik” karena secara resmi tidak diklaim oleh negara mana pun di dunia.

Fenomena ini sangat unik mengingat biasanya negara-negara saling berebut wilayah, sementara dalam kasus ini, Mesir dan Sudan justru kompak untuk tidak mengakui Bir Tawil sebagai bagian dari kedaulatan mereka. Status hukum yang menggantung ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan, melainkan hasil dari strategi politik yang rumit terkait sengketa wilayah lain yang jauh lebih berharga. Hal ini menjadikan Bir Tawil sebagai salah satu dari sedikit tempat di planet ini di mana hukum internasional seolah-olah kehilangan pijakannya secara administratif. Mari kita bedah lebih dalam mengapa wilayah seluas 2.060 km persegi ini bisa terjebak dalam kekosongan status kewarganegaraan selama lebih dari satu abad.

1. Letak geografis dan status hukum yang mengambang

ilustrasi Bir Tawil (wikimedia.org/Vyacheslav Argenberg)

Dilansir laman MicroWiki, secara geografis, Bir Tawil terletak di perbatasan antara Mesir dan Sudan, berbentuk trapesium dengan sisi utara yang jauh lebih panjang daripada sisi selatannya. Status hukumnya yang membingungkan berawal dari perbedaan antara batas administratif tahun 1902 dan batas politik tahun 1899 yang ditetapkan oleh Inggris. Karena kedua negara bersikeras menggunakan peta yang menguntungkan klaim mereka atas wilayah tetangganya, Bir Tawil akhirnya terabaikan dan tidak dimasukkan ke dalam peta resmi kedua negara tersebut.

Mesir berpegang pada batas tahun 1899, sedangkan Sudan berpegang pada batas tahun 1902, yang secara otomatis membuat Bir Tawil berada di luar garis klaim keduanya. Kondisi ini menciptakan kekosongan kedaulatan di mana tidak ada pemerintahan yang memungut pajak, menyediakan layanan publik, atau menegakkan hukum secara formal di sana. Akibatnya, wilayah ini menjadi satu-satunya tempat di luar Antartika yang benar-benar tidak dimiliki oleh entitas politik apapun di dunia.

2. Lanskap gersang dan tantangan iklim yang ekstrem

ilustrasi Bir Tawil (wikimedia.org/Vyacheslav Argenberg)

Dilansir laman The Sun, Bir Tawil bukanlah sebuah surga tropis atau wilayah subur, melainkan hamparan gurun yang sangat gersang dan didominasi oleh pasir serta bebatuan. Kondisi geografisnya sangat menantang dengan suhu udara yang bisa melonjak hingga lebih dari 45 derajat Celsius pada puncak musim panas. Iklim di wilayah ini termasuk dalam kategori gurun hiper-kering, di mana curah hujan sangat jarang terjadi bahkan dalam hitungan tahunan.

Tanahnya tidak memiliki sumber air permukaan yang stabil, sehingga vegetasi yang tumbuh hanya berupa semak-semak kering yang mampu bertahan di kondisi ekstrem. Angin kencangnya juga sering kali membawa badai pasir yang dapat menutupi pandangan dan mengubah kontur bukit pasir dalam waktu singkat. Tanpa adanya infrastruktur jalan atau pemukiman permanen, perjalanan melintasi Bir Tawil membutuhkan persiapan logistik yang sangat matang dan fisik yang tangguh

3. Dua peta berbeda dan Segitiga Hala'ib

ilustrasi Segitiga Hala'ib (wikimedia.org/Ahmedsalahemam)

Dilansir laman Britannica, penyebab Bir Tawil menjadi yatim piatu adalah keberadaan Segitiga Hala'ib, sebuah wilayah pesisir Laut Merah yang jauh lebih kaya akan sumber daya dan memiliki nilai strategis tinggi. Inggris pada masa kolonial mengeluarkan dua peta berbeda, yakni peta tahun 1899 yang memberikan Hala'ib kepada Mesir, dan peta administratif 1902 yang memberikannya kepada Sudan.

Dalam skenario ini, Bir Tawil bertindak sebagai "umpan" dimana jika sebuah negara mengklaim Bir Tawil, maka secara otomatis mereka harus melepaskan klaim atas Segitiga Hala'ib. Karena Segitiga Hala'ib memiliki akses laut dan potensi ekonomi yang besar, baik Mesir maupun Sudan memilih untuk melepaskan Bir Tawil demi mempertahankan klaim atas Hala'ib.

Persaingan memperebutkan Hala'ib inilah yang membuat Bir Tawil terjepit dalam ketidakpastian sejarah yang belum terpecahkan hingga hari ini. Oleh karena itu, peta resmi Mesir dan Sudan akan selalu terlihat "bolong" atau tidak sinkron satu sama lain saat membahas titik pertemuan perbatasan ini.

4. Bir Tawil dianggap tidak memiliki nilai ekonomi maupun keberadaa strategis

ilustrasi Bir Tawil (wikimedia.org/Mostafameraji)

Dilansir laman Times News Network, secara pragmatis, tidak ada negara yang mau mengklaim Bir Tawil karena wilayah ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi maupun strategis yang sepadan dengan beban diplomatiknya. Selain tanahnya yang gersang dan tidak bisa ditanami, ketiadaan akses ke laut menjadikannya wilayah yang terisolasi secara logistik dari jalur perdagangan dunia.

Jika Mesir atau Sudan mengambil alih Bir Tawil secara resmi, mereka akan kehilangan legitimasi hukum internasional untuk memperebutkan wilayah lain yang lebih menguntungkan secara politik. Biaya untuk membangun infrastruktur dasar seperti listrik, air bersih, dan keamanan di tengah gurun yang luas ini tentu akan membebani anggaran negara mana pun.

Tidak adanya populasi permanen juga berarti tidak ada potensi pendapatan pajak atau tenaga kerja yang bisa dimanfaatkan dalam jangka pendek. Selain itu, risiko konflik diplomatik dengan komunitas internasional terkait perubahan garis perbatasan menjadi pertimbangan yang sangat berat bagi pemerintah kedua negara.

5. Jejak sejarah dan kehidupan penghuni asli Suku Ababda

ilustrasi Suku Ababda (wikimedia.org/Gerhard Haubold)

Meski secara administratif tidak bertuan, Bir Tawil bukanlah tanah yang benar-benar kosong dari jejak manusia karena secara tradisional merupakan wilayah lintasan suku nomaden. Dilansir laman Bir Tawil Principality, sejarah mencatat bahwa suku Ababda, yang merupakan penduduk asli daerah gurun antara Mesir dan Sudan, telah melintasi wilayah ini selama berabad-abad untuk menggembala ternak. Bagi mereka, batas-batas politik modern yang dibuat oleh Inggris tidaklah relevan dibandingkan dengan hak tradisional mereka atas sumber daya air yang terbatas di sana.

Di masa lalu, wilayah ini mungkin digunakan sebagai tempat persinggahan kafilah dagang yang bergerak di sepanjang rute Nubia menuju Mesir Hulu. Meskipun tidak ada pemukiman permanen yang besar, kehadiran suku-suku ini membuktikan bahwa tanah ini tetap memiliki fungsi sosial bagi masyarakat lokal. Mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang titik-titik air bawah tanah yang tersembunyi dan rute-rute aman di tengah badai gurun yang ganas.

6. Potensi tersembunyi di balik "Debu Tambang Emas"

ilustrasi Bir Tawil (wikimedia.org/لا روسا)

Dalam beberapa tahun terakhir, Bir Tawil mulai menarik perhatian kembali bukan karena status hukumnya, melainkan karena potensi kandungan emas yang ada di bawah tanahnya. Dilansir laman Bir Tawil Principality, para penambang tradisional dari berbagai daerah mulai berdatangan ke wilayah tak bertuan ini untuk mencoba peruntungan mereka dengan peralatan sederhana.

Karena tidak ada hukum negara yang berlaku, aktivitas penambangan di sini berlangsung secara liar tanpa adanya regulasi lingkungan maupun standar keamanan yang jelas. Banyak dari mereka yang membangun kamp-kamp sementara yang sangat sederhana untuk bertahan hidup selama berminggu-minggu di tengah gurun. Meskipun belum ada survei geologi skala besar yang membuktikan jumlah cadangan emasnya, laporan-laporan dari para penambang lokal terus memicu minat orang untuk datang.

Keunikan status Bir Tawil akhirnya memicu fenomena aneh di dunia maya, di mana beberapa individu dari berbagai negara mencoba mengklaim diri mereka sebagai "Raja" di sana. Salah satu kasus yang paling terkenal adalah seorang pria Amerika Serikat yang pergi ke Bir Tawil hanya untuk menancapkan bendera buatan sendiri demi memenuhi keinginan putrinya menjadi seorang putri kerajaan. Meskipun aksi-aksi ini viral dan menarik perhatian media internasional, klaim semacam itu tidak memiliki kekuatan hukum sedikit pun di mata PBB atau hukum internasional. Hingga saat ini, Kamu tidak bisa mendapatkan visa resmi untuk mengunjungi Bir Tawil karena memang tidak ada kedutaan atau otoritas yang berhak mengeluarkannya. Pengunjung biasanya harus masuk melalui Mesir atau Sudan dengan izin khusus yang seringkali sulit didapat karena alasan keamanan perbatasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team