Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BRIN Ungkap Cara Mengendalikan Populasi Ikan Sapu-sapu
Ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Raphaël Covain)
  • Ikan sapu-sapu menyebar luas di sungai dan danau Indonesia karena daya adaptasi tinggi, reproduksi cepat, serta minimnya pemanfaatan oleh masyarakat yang menyebabkan gangguan pada ekosistem lokal.
  • BRIN menekankan pengelolaan terpadu melalui pencegahan, pengendalian, dan pemanfaatan seperti penangkapan intensif, edukasi publik, serta pemanfaatan ikan invasif untuk bahan pakan atau produk industri.
  • Strategi jangka pendek mencakup monitoring dan penangkapan massal, sedangkan jangka panjang fokus pada restorasi habitat, reintroduksi ikan lokal, riset lanjutan, serta kolaborasi multipihak untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) kini banyak ditemukan di berbagai sungai, termasuk Sungai Ciliwung. Spesies ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi air yang buruk dan kadar oksigen rendah, tingkat reproduksi tinggi, serta perilaku menjaga telur yang meningkatkan keberhasilan hidup larva. Tubuhnya yang dilapisi lempeng tulang juga membuatnya relatif tahan terhadap predator.

Minimnya pemanfaatan ikan sapu-sapu oleh masyarakat turut memperparah kondisi tersebut. Populasinya terus meningkat tanpa kontrol, sehingga berpotensi mengganggu spesies lokal dan struktur ekosistem.

Untuk mengatasi persoalan ini, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto menekankan pentingnya pendekatan pengelolaan terpadu yang mencakup pencegahan, pengendalian, dan pemanfaatan. Upaya pencegahan dilakukan melalui pengawasan ketat terhadap introduksi spesies baru serta edukasi publik agar tidak melepas ikan non-lokal ke perairan umum.

Intervensi yang terencana

Pengendalian populasi ikan asing yang masuk ke wilayah Indonesia dapat dilakukan melalui penangkapan intensif atau eradikasi lokal di wilayah tertentu. Di sisi lain, pemanfaatan spesies invasif sebagai bahan baku pakan, pupuk, atau produk industri dinilai dapat menjadi solusi tambahan untuk menekan populasinya.

Secara strategis, pengendalian spesies invasif perlu dilakukan dalam dua horizon waktu. Dalam jangka pendek (1–2 tahun), langkah yang dapat diambil meliputi monitoring rutin, identifikasi habitat, penangkapan massal, edukasi masyarakat, serta eksplorasi pemanfaatan alternatif. Sedangkan dalam jangka panjang (3–10 tahun), diperlukan upaya lebih sistematis seperti restorasi habitat, peningkatan kualitas air, reintroduksi ikan lokal, penguatan regulasi, riset lanjutan, serta kolaborasi multipihak.

Triyanto menegaskan, tanpa intervensi yang terencana dan berkelanjutan, invasi spesies asing berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya perairan darat Indonesia. 

“Ini bukan sekadar isu keanekaragaman hayati, tetapi juga menyangkut ketahanan ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada perairan,” sebutnya.

Peta sebaran ikan sapu-sapu

ikan sapu-sapu (Wikimedia Commons/Lauricdd)

Ikan sapu-sapu tercatat di ≈20 persen danau dan ≈35 persen sungai di Indonesia. Berikut adalah data sebaran ikan sapu-sapu di kepulauan Indonesia:

  • Jawa: 35 persen.

  • Sulawesi: 54 persen.

  • Sumatra: 20 persen.

  • Kalimantan: 15 persen.

  • Bali: 5 persen.

  • Nusa Tenggara: 10 persen.

Cara mengendalikannya

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro memberikan sejumlah strategi pengendalian populasi ikan sapu-sapu yang kini mulai mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. 

“Pertama, tangkap langsung secara periodik. Jadi terjadwal, rutin dan berkelanjutan. Cari musuh alaminya, contohnya ikan betutu atau Oxyeleotris marmorata,” ujarnya.

Pihaknya juga menekankan pentingnya restorasi lingkungan perairan yang rusak akibat aktivitas ikan sapu-sapu, serta edukasi masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan hias. Terakhir, ia mendorong adanya implementasi nyata dari pemerintah terkait pengawasan. 

“Edukasi masyarakat tentang memelihara atau jangan sampai membuang ikan ke perairan umum,” tegasnya.

Editorial Team