Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Kontaminan dalam Ikan Sapu-Sapu dan Bahayanya

6 Kontaminan dalam Ikan Sapu-Sapu dan Bahayanya
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)
Intinya Sih
  • Ikan sapu-sapu (pleco) sering hidup di perairan tercemar, sehingga berpotensi mengakumulasi logam berat dan polutan.

  • Kontaminan seperti merkuri, timbal, dan bakteri patogen dapat berdampak pada kesehatan manusia jika dikonsumsi.

  • Risiko tidak hanya berasal dari jenis ikan, tetapi juga dari kualitas lingkungan tempat hidupnya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Beberapa waktu terakhir, pemusanahan ikan sapu-sapu di berbagai wilayah Jakarta menjadi perhatian. Selain karena sifatnya yang invasif dan merusak ekosistem, muncul pula kekhawatiran terkait keamanannya jika sampai dikonsumsi. Ikan ini dikenal sebagai “pembersih” karena kebiasaannya memakan lumut, sisa organik, dan material di dasar perairan, yang sayangnya sering kali merupakan limbah.

Di tengah kondisi sungai perkotaan yang terpapar limbah domestik dan industri, peran ekologis ikan sapu-sapu justru menempatkannya pada posisi rentan sebagai akumulator kontaminan. Artinya, zat berbahaya yang ada di lingkungan dapat terakumulasi dalam tubuh ikan ini dan berpotensi berpindah ke manusia melalui rantai makanan.

Di bawah ini dipaparkan daftar kontaminan dalam ikan sapu-sapu dan bahayanya.

Table of Content

1. Logam berat: merkuri (Hg)

1. Logam berat: merkuri (Hg)

Merkuri adalah salah satu kontaminan paling berbahaya yang dapat ditemukan pada ikan, terutama di perairan yang terpapar limbah industri. Paparan merkuri, khususnya dalam bentuk metilmerkuri, dapat merusak sistem saraf pusat dan berbahaya bagi perkembangan otak.

Ikan sapu-sapu yang hidup di dasar perairan memiliki risiko lebih tinggi terpapar merkuri karena logam ini cenderung mengendap di sedimen. Penelitian menunjukkan bahwa ikan bentik (yang hidup di dasar) punya kecenderungan akumulasi logam berat lebih tinggi dibanding ikan yang hidup di permukaan.

Jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu dan terus-menerus, merkuri dapat terakumulasi dalam tubuh. Dampaknya meliputi gangguan neurologis, penurunan fungsi kognitif, hingga gangguan perkembangan pada anak.

2. Timbal (Pb)

Beberapa pejabat dan petugas lapangan menangkap ikan sapu-sapu di saluran air Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, dalam kegiatan operasi kebersihan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung hadiri kegiatan Operasi Penangkapan Ikan Sapu-Sapu di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (17/4/2026). (Dok. Pemprov DKI)

Timbal adalah logam berat lain yang sering ditemukan di perairan tercemar, terutama akibat limbah industri dan aktivitas urban. Tidak ada tingkat paparan timbal yang benar-benar aman bagi tubuh manusia.

Penelitian menunjukkan, ikan yang hidup di lingkungan dengan paparan limbah perkotaan memiliki kadar timbal yang signifikan dalam jaringan tubuhnya. Ikan sapu-sapu, dengan pola makan detritivor (pemakan sisa-sisa bahan organik), berpotensi menyerap timbal dari sedimen dan bahan organik yang terkontaminasi.

Paparan timbal pada manusia dapat menyebabkan gangguan sistem saraf, penurunan fungsi ginjal, serta gangguan perkembangan pada anak-anak.

3. Kadmium (Cd)

Kadmium adalah logam berat yang berasal dari limbah industri seperti baterai, plastik, dan logam. Zat ini dapat terakumulasi dalam tubuh ikan dan memiliki efek toksik jangka panjang.

Kadmium dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan gangguan metabolisme kalsium pada manusia. Menurut penelitian, ikan di perairan tercemar sering mengandung kadmium dalam konsentrasi yang dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi secara rutin.

Kadmium juga memiliki waktu paruh yang panjang dalam tubuh manusia, sehingga efeknya bisa bersifat kumulatif dan sulit dihilangkan.

4. Polutan organik persisten (POPs)

Beberapa petugas berada di saluran air dangkal sambil menarik jaring besar berisi ikan sapu-sapu dan sampah di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung hadiri kegiatan Operasi Penangkapan Ikan Sapu-Sapu di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (17/4/2026). (Dok. Pemprov DKI)

Polutan organik persisten seperti PCB (polychlorinated biphenyls) dan dioksin merupakan senyawa kimia yang sulit terurai di lingkungan. Zat ini dapat masuk ke dalam rantai makanan dan terakumulasi dalam jaringan lemak ikan.

POPs memiliki sifat toksik, bioakumulatif, dan dapat menyebabkan gangguan hormon serta kanker.

Penelitian menunjukkan, ikan di perairan urban memiliki tingkat kontaminasi POPs yang lebih tinggi dibanding perairan yang lebih bersih.

Karena ikan sapu-sapu hidup di lingkungan yang sering tercemar, risiko paparan POPs menjadi perhatian penting, terutama jika ikan tersebut dikonsumsi.

5. Bakteri patogen dan kontaminasi biologis

Selain kontaminan kimia, ikan sapu-sapu juga berpotensi membawa bakteri patogen dari lingkungan yang tercemar. Air yang mengandung limbah domestik sering menjadi tempat berkembangnya bakteri seperti E. coli dan Salmonella.

Konsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri patogen dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan, mulai dari diare hingga infeksi serius.

Ikan dari perairan tercemar memiliki risiko lebih tinggi membawa mikroorganisme patogen. Jika tidak diolah dengan benar, konsumsi ikan yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan dan infeksi.

6. Mikroplastik

Petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengenakan topi oranye dan hijau saat menangkap ikan sapu-sapu di perairan Jakarta Utara.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)

Mikroplastik kini menjadi kontaminan yang makin banyak ditemukan di perairan, termasuk sungai dan danau di wilayah perkotaan. Partikel plastik kecil ini dapat tertelan oleh ikan dan masuk ke dalam jaringan tubuhnya.

Menurut penelitian, ikan air tawar juga terpapar mikroplastik, terutama di wilayah dengan aktivitas manusia tinggi.

Mikroplastik tidak hanya menjadi masalah fisik, tetapi juga dapat membawa bahan kimia berbahaya seperti pestisida dan logam berat. Ketika dikonsumsi, partikel ini berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia.

Meski dampak jangka panjangnya masih diteliti, tetapi keberadaan mikroplastik dalam rantai makanan sudah menjadi perhatian global.

Ikan sapu-sapu bukannya secara alami berbahaya, tetapi lingkungan tempat hidupnya berperan besar dalam menentukan keamanannya. Hidup di perairan yang sering terpapar limbah membuat ikan ini berpotensi mengakumulasi berbagai kontaminan, mulai dari logam berat hingga bakteri patogen. Menghindari konsumsi ikan dari lingkungan tercemar adalah langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko paparan zat berbahaya.

Referensi

World Health Organization. “Mercury and Health.” Diakses April 2026.

Yi, Y., et al. “Bioaccumulation of Heavy Metals in Fish.” Environmental Research (2011). https://doi.org/10.1016/j.envres.2011.03.001

Centers for Disease Control and Prevention. “Lead Toxicity.” Diakses April 2026.

Hazrat Ali and Ezzat Khan, “Bioaccumulation of Non-essential Hazardous Heavy Metals and Metalloids in Freshwater Fish. Risk to Human Health,” Environmental Chemistry Letters 16, no. 3 (April 6, 2018): 903–17, https://doi.org/10.1007/s10311-018-0734-7.

Food and Agriculture Organization. “Cadmium in Food.” Diakses April 2026.

Monisha Jaishankar et al., “Toxicity, Mechanism and Health Effects of Some Heavy Metals,” Interdisciplinary Toxicology 7, no. 2 (June 1, 2014): 60–72, https://doi.org/10.2478/intox-2014-0009.

United Nations Environment Programme. “Persistent Organic Pollutants.” Diakses April 2026.

Bommanna G. Loganathan, and Kurunthachalam Kannan. “Global Organochlorine Contamination Trends: An Overview.” Ambio 23, no. 3 (1994): 187–91. http://www.jstor.org/stable/4314197.

World Health Organization. “Food Safety.” Diakses April 2026.

Hans H. Huss. "Assurance of Seafood Quality." FAO Fisheries Technical Paper No. 334 (Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations, 1994).

A. L. Lusher et al., “Sampling, Isolating and Identifying Microplastics Ingested by Fish and Invertebrates,” Analytical Methods 9, no. 9 (October 24, 2016): 1346–60, https://doi.org/10.1039/c6ay02415g.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More