Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan Cuma Kanguru, 5 Fakta Evolusi Ganjil Khas Australia
kangguru (pexels.com/Sergey Guk)
  • Isolasi Australia dari Gondwana selama jutaan tahun menciptakan jalur evolusi unik, menghasilkan lebih dari 80% spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
  • Iklim dan garis Wallace menjadi penyaring alami migrasi fauna, sementara beberapa hewan seperti echidna menunjukkan arah evolusi langka dari makhluk air ke darat.
  • Perubahan iklim yang membuat benua mengering memperlambat laju evolusi, namun isolasi panjang juga memunculkan adaptasi ekstrem seperti kura-kura Fitzroy yang bernapas lewat kloaka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Australia seringkali identik dengan kanguru atau koala. Namun, benua yang terisolasi selama puluhan juta tahun ini menyimpan kisah evolusi yang jauh lebih aneh dan ekstrem, membentuk makhluk-makhluk yang seolah datang dari dunia lain. Proses ini bukan hanya tentang adaptasi, tetapi juga tentang kebetulan, iklim, dan perjalanan geologis yang dramatis.

Pemisahan Australia dari superbenua Gondwana sekitar 30 juta tahun lalu menjadi titik awal dari laboratorium evolusi raksasa ini. Terputus dari daratan lain, flora dan faunanya menempuh jalur evolusi yang sama sekali berbeda, menghasilkan lebih dari 80% spesies mamalia, reptil, dan katak yang tidak ditemukan di belahan bumi lain mana pun. Inilah yang membuat Australia menjadi sebuah etalase keunikan hayati yang penuh teka-teki.

1. Iklim menjadi filter yang menentukan siapa boleh masuk

ilustrasi iklim Australia (pexels.com/Rachel Claire)

Pernah bertanya-tanya kenapa ada banyak hewan dari Asia di Australia, tapi hampir tidak ada kanguru atau koala di Indonesia? Jawabannya terletak pada sebuah garis tak kasat mata bernama Garis Wallace dan filter iklim purba. Jutaan tahun lalu, saat lempeng tektonik Australia bergerak ke utara mendekati Asia, pulau-pulau vulkanik di antara keduanya menjadi jembatan bagi migrasi hewan.

Namun, arus migrasi ini ternyata berat sebelah. Dilansir Futurity, hewan-hewan yang berevolusi di iklim tropis Asia lebih mudah beradaptasi dan melintasi pulau-pulau tropis untuk sampai ke Australia. Sebaliknya, fauna Australia yang telah terbiasa dengan iklim yang lebih dingin dan kering merasa kesulitan untuk bertahan hidup di pulau-pulau tropis yang lembap, sehingga gagal menyebar ke arah Asia. Fenomena ini menciptakan pembatas biologis yang tegas dan menjelaskan mengapa fauna di kedua benua begitu berbeda.

2. Nenek moyang echidna ternyata adalah hewan air

echidna (Charles J. Sharp, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Echidna, mamalia mungil berduri yang bertelur, ternyata menyimpan rahasia evolusi yang sangat langka. Para ilmuwan meyakini bahwa hewan darat ini berevolusi dari nenek moyang yang hidup di air. Ini adalah sebuah "putaran balik" evolusi yang sangat jarang terjadi, karena biasanya mamalia berevolusi dari darat ke air, seperti yang terjadi pada paus atau anjing laut.

Menurut laporan The Guardian, beberapa ciri fisik echidna modern mendukung teori ini. Kaki belakangnya yang menghadap ke belakang, yang kini berguna untuk menggali, kemungkinan besar dulunya berfungsi sebagai kemudi saat berenang di sungai. Lebih unik lagi, echidna masih memiliki "refleks menyelam" bawaan yang membuat tubuhnya otomatis menghemat oksigen saat terendam air. Ini adalah sisa-sisa evolusi dari masa lalunya sebagai makhluk semi-akuatik.

3. Evolusi sempat melambat karena benua yang mengering

ilustrasi sabana di Australia (pexels.com/Helena Lopes)

Keanekaragaman hayati Australia tidak selamanya berada dalam mode "gas pol". Penelitian dari Australian National University (ANU) mengungkapkan bahwa setelah periode diversifikasi yang pesat, laju evolusi pada banyak kelompok hewan vertebrata justru melambat secara drastis dalam 10 juta tahun terakhir. Penyebab utamanya adalah perubahan iklim yang membuat benua Australia perlahan-lahan menjadi lebih kering dan gersang.

Mengeringnya benua ini menyebabkan hutan-hutan kuno menyusut dan terpecah-pecah, memaksa populasi hewan terisolasi di kantong-kantong habitat yang lebih kecil. Menurut para peneliti, kondisi terisolasi ini mengurangi tekanan kompetisi antarspesies untuk memperebutkan sumber daya. Karena tidak ada lagi persaingan ketat, dorongan untuk berubah atau berevolusi menjadi bentuk yang berbeda pun menurun drastis, sehingga mereka cenderung tetap mirip satu sama lain selama jutaan tahun.

4. Isolasi menciptakan adaptasi yang super aneh

kura-kura Sungai Fitzroy (By CraigL - Own work, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Jutaan tahun dalam isolasi total memungkinkan evolusi untuk "bereksperimen" dengan berbagai bentuk adaptasi yang ekstrem dan terdengar mustahil. Contoh sempurna datang dari dunia reptil, yaitu kura-kura Sungai Fitzroy. Dilansir The Nature Conservancy Australia, kura-kura air tawar ini mampu bertahan di bawah air hingga 21 hari karena memiliki kemampuan bernapas melalui bagian belakang tubuhnya atau kloaka.

Tidak hanya itu, dunia marsupial juga menyimpan keunikan yang tak terduga. Thylacine atau harimau Tasmania yang kini telah punah, memiliki kantung khas marsupial. Uniknya, kantung ini tidak hanya dimiliki oleh betina, tetapi juga oleh pejantan. Kantung pada Thylacine jantan berfungsi sebagai pelindung organ reproduksinya saat berlari menembus semak-semak lebat.

5. Lebih dari 80 persen spesiesnya tidak ada di tempat lain

kangguru (pexels.com/Sergey Guk)

Angka ini adalah bukti paling nyata dari keunikan evolusi di Australia. Akibat terpisah dari superbenua Gondwana jutaan tahun silam, kehidupan di Australia berjalan di jalurnya sendiri tanpa intervensi dari luar. Proses ini menciptakan tingkat endemisitas yang luar biasa tinggi, di mana sebagian besar satwanya bersifat unik dan hanya bisa ditemukan di benua tersebut.

Dari mamalia yang bertelur seperti platipus, reptil purba seperti buaya air asin, hingga serangga dengan sayap transparan seperti ngengat Eeang pellucid, semuanya adalah hasil dari laboratorium evolusi yang terisolasi ini. Setiap spesies menceritakan kisah adaptasi yang luar biasa terhadap lingkungan Australia yang seringkali keras dan tak kenal ampun, menjadikan benua ini sebuah harta karun keanekaragaman hayati global.

Kisah evolusi di Australia adalah pengingat bahwa alam selalu punya cara yang tak terduga untuk beradaptasi. Keunikan fauna di benua ini bukan hanya sekadar keanehan, melainkan bukti nyata dari kekuatan isolasi geografis dan perubahan iklim dalam membentuk kehidupan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team