5 Hewan Endemik Sri Lanka, dari Raksasa Hutan hingga Penghuni Mini

Sebagai sebuah pulau tropis yang dijuluki “permata Samudra Hindia”, Sri Lanka memiliki kekayaan alam yang tak bisa diremehkan. Meski luasnya relatif kecil dibandingkan negara di sekitarnya, pulau ini dianugerahi bentang alam beragam, mulai dari hutan hujan, savana kering, hingga pegunungan. Keragaman lingkungan inilah yang menjadikan Sri Lanka salah satu pusat biodiversitas dunia, rumah bagi satwa liar yang tidak ditemukan di belahan bumi lainnya.
Menariknya, banyak dari hewan-hewan ini bukan hanya unik secara penampilan, tetapi juga memiliki nilai budaya, ekologis, bahkan spiritual bagi masyarakat Sri Lanka. Dari predator besar yang gagah hingga hewan nokturnal mungil yang misterius, setiap spesies menghadirkan daya tarik tersendiri. Yuk, simak lima hewan endemik Sri Lanka yang jadi kebanggaan pulau tropis ini.
1. Gajah Sri Lanka

Gajah Sri Lanka adalah subspesies gajah Asia yang hanya hidup di Sri Lanka. Mereka merupakan yang terbesar di antara gajah Asia, dengan kulit lebih gelap dan bercak khas di telinga, wajah, belalai, serta perut. Dahulu hewan ini bisa ditemui hampir di seluruh Sri Lanka, tetapi kini populasinya menurun akibat hilangnya hutan dan terpecahnya habitat. Jumlahnya diperkirakan tinggal sekitar 2.500–4.000 ekor, sehingga masuk kategori terancam punah.
Selain unik, gajah Sri Lanka juga punya peran penting bagi alam. Saat berjalan dan merumput, mereka ikut menyebarkan biji tumbuhan yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Kehadirannya juga menjadi daya tarik wisata, karena banyak turis datang untuk melihat gajah di taman nasional. Sayangnya, konflik dengan manusia terus terjadi, terutama ketika wilayah jelajah gajah makin menyempit dan bersinggungan dengan permukiman.
2. Macan tutul Sri Lanka

Macan tutul Sri Lanka adalah kucing besar endemic sekaligus predator puncak di pulau ini. Populasinya telah lama terpisah dari macan tutul di daratan utama dan kini menjadi salah satu dari sedikit subspesies yang tersisa. Mereka tergolong terancam punah dan tercatat dalam CITES Appendix I, sehingga keberadaannya sangat penting bagi keanekaragaman hayati Sri Lanka.
Dahulu macan tutul hidup hampir di semua ekosistem pulau, dari hutan kering hingga pegunungan. Kini mereka masih ditemukan di taman nasional seperti Wilpattu, Minneriya, Maduru Oya, dan Knuckles Range, meski hutan tersisa semakin terfragmentasi. Mereka juga menempati lahan semi-liar, perkebunan, dan jalur hutan yang terhubung.
3. Ayam hutan Sri Lanka

Ayam hutan Sri Lanka adalah burung endemik sekaligus burung nasional negara tersebut. Pejantan memiliki bulu oranye-merah mencolok dengan ekor gelap dan leher keemasan, sedangkan betina tampil lebih sederhana dengan bulu cokelat bercorak putih yang membantunya berkamuflase saat menjaga sarang.
Burung ini aktif di darat dengan memakan biji, buah jatuh, dan serangga. Betina biasanya bertelur 2–4 butir, baik di tanah hutan maupun di sarang burung atau tupai yang ditinggalkan. Pejantan tidak ikut mengerami telur, tetapi berperan menjaga wilayah. Pola hidup ini membuat Ayam Hutan Sri Lanka dikenal sederhana namun tangguh dalam bertahan di habitat alaminya.
4. Tupai raksasa beruban

Tupai raksasa beruban adalah tupai besar yang hidup di pepohonan, terutama di hutan kering dan hutan dataran rendah dekat sungai. Penampilannya khas, bulunya abu-abu kecokelatan dengan bercak putih halus yang memberi kesan “grizzled” alias berbintik. Tubuhnya besar, dengan panjang total mencapai sekitar 90 cm, tetapi tetap gesit dan mahir bergerak di kanopi hutan yang menjadi rumahnya.
Hewan ini memiliki gaya hidup arboreal dan aktif pada siang hari. Makanannya berupa buah, biji, dan kadang serangga atau kulit pohon, sehingga ia berperan penting dalam penyebaran benih dan menjaga keberlanjutan hutan. Meski demikian, status konservasinya adalah Near Threatened akibat penyusutan habitat, fragmentasi hutan, dan tekanan perburuan di beberapa daerah.
5. Red Slender Loris

Red Slender Loris adalah primata kecil endemik dengan berat hanya 100–170 gram. Matanya yang besar membantu penglihatan tajam di malam hari, menjadikannya pemburu ulung serangga, kadal, hingga katak. Tubuh mungil tanpa ekor dilengkapi tangan dan kaki ramping yang sangat fleksibel, membuatnya lincah berpindah di antara dahan pohon hutan hujan Sri Lanka.
Sayangnya, spesies ini berstatus Endangered menurut IUCN karena hilangnya hutan, fragmentasi habitat, serta perburuan. Populasinya terus menurun, sehingga upaya konservasi dan perlindungan habitat menjadi sangat penting. Keberadaannya bukan hanya menambah pesona satwa Sri Lanka, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem malam hari.
Lima hewan endemik ini hanyalah sebagian kecil dari kekayaan biodiversitas Sri Lanka. Setelah mengenal mereka lebih dekat, terlihat bahwa setiap satwa menyimpan keunikan sekaligus peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Keragaman hayati ini adalah warisan tak ternilai yang harus terus dijaga agar tetap hidup dan memberi cerita bagi generasi mendatang.


















