Eucalyptus marginata (commons.wikimedia.org/Amanda Slater)
Beberapa spesies seperti Eucalyptus regnans, Eucalyptus globulus, dan Eucalyptus marginata memiliki kemampuan untuk pulih setelah kebakaran. Pada jenis tertentu, panas membantu membuka kapsul biji (sering disebut serotinous), sehingga biji baru dilepaskan setelah api lewat. Selain itu, banyak eukaliptus punya jaringan khusus di bawah kulit batang yang memungkinkan tunas baru tumbuh kembali setelah bagian atas terbakar. Mekanisme ini membuat populasi tetap bertahan meski sering terpapar api.
Adaptasi ini menunjukkan bahwa kebakaran bukan hal asing dalam siklus hidup eukaliptus. Setelah api, area menjadi lebih terbuka dan kompetisi berkurang sehingga pertumbuhan kembali bisa berlangsung cepat. Namun dalam kondisi lingkungan yang lebih kering dan panas, sifat ini juga ikut meningkatkan intensitas kebakaran. Karena itu, eukaliptus sering dikaitkan dengan kebakaran hutan berskala besar.
Eukaliptus mudah terbakar karena adanya kombinasi antara kandungan minyak volatil yang cepat menguap, tumpukan serasah kering yang terus terbentuk di permukaan tanah, serta jalur rambatan panas yang didukung struktur batang dan tajuknya. Seluruh proses ini bekerja berurutan, mulai dari pelepasan uap yang mudah menyala hingga penyebaran api yang bisa terjadi lewat udara dan permukaan sekaligus dalam waktu singkat. Kalau diperhatikan langsung di lapangan, ciri-ciri seperti aroma daun yang kuat dan kulit batang yang mudah terkelupas sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan kenapa pohon ini sering mempercepat kebakaran.
Referensi:
"The Old Gum Tree: the Reason for the Eucalyptus Having Flammable Bark may be Found in Game Theory." Cornell University. Diakses pada April 2026
"Eucalytus: A Complex Challenge." National Park Service. Diakses pada April 2026
"A Review of Leaf-Level Flammability Traits in Eucalypt Trees." MDPI Diakses pada April 2026