Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bumi
Bumi (commons.wikimedia.org/Kevin M. Gill)

Intinya sih...

  • Panas inti Bumi berpindah melalui konduksi batuan padat

  • Arus konveksi mantel memindahkan panas tanpa menghancurkan kerak

  • Aktivitas vulkanik menjadi saluran pelepas panas alami

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Panas di dalam Bumi bukan sekadar sisa energi dari masa lalu, melainkan bagian aktif dari sistem yang terus bekerja hingga hari ini. Fakta Bumi menunjukkan bahwa suhu di bagian dalam planet ini bisa mencapai ribuan derajat Celsius, jauh lebih panas dari permukaan yang kita pijak setiap hari. Meski begitu, Bumi tidak pernah “meledak” atau pecah karena tekanan panas tersebut.

Ada mekanisme alami yang membuat panas itu dilepas secara perlahan dan terkontrol, tanpa merusak struktur planet secara keseluruhan. Untuk memahami proses ini dengan jernih, berikut penjelasan dari berbagai sudut pandang yang memaparkan mengenai sistem Bumi mengeluarkan panas dari dalam tanpa meledak.

1. Panas inti Bumi berpindah melalui konduksi batuan padat

ilustrasi inti Bumi (commons.wikimedia.org/Kelvinsong)

Panas dari bagian terdalam Bumi tidak langsung meloncat ke permukaan, melainkan merambat perlahan melewati lapisan batuan padat. Proses ini terjadi karena atom-atom di batuan yang panas bergetar dan menyalurkan energi ke atom di sekitarnya. Meski terdengar lambat, mekanisme ini bekerja terus-menerus selama miliaran tahun.

Kecepatan rambat panas ini sangat kecil jika dibandingkan dengan panas api atau ledakan. Justru kelambatan inilah yang membuat panas tidak menumpuk secara ekstrem di satu titik. Batuan padat berperan seperti dinding tebal yang menyaring energi agar keluar sedikit demi sedikit. Tanpa proses ini, panas dari inti akan jauh lebih sulit dikendalikan.

2. Arus konveksi mantel memindahkan panas tanpa menghancurkan kerak

ilustrasi kerak Bumi (commons.wikimedia.org/Michel d'Auge)

Di bawah kerak Bumi terdapat mantel yang bersifat padat namun mampu mengalir sangat lambat. Panas dari bagian dalam membuat material mantel naik, sementara bagian yang lebih dingin turun. Gerakan ini membentuk arus konveksi raksasa yang berlangsung dalam skala waktu geologis.

Arus tersebut bukan aliran cepat seperti air mendidih, melainkan pergerakan halus yang nyaris tak terasa. Panas ikut terbawa bersama material mantel tanpa menciptakan tekanan mendadak. Inilah alasan panas bisa terus keluar tanpa membuat kerak Bumi retak secara tiba-tiba. Fakta bumi ini sering luput karena prosesnya terlalu lambat untuk diamati langsung.

3. Aktivitas vulkanik menjadi saluran pelepas panas alami

Aktivitas vulkanik (commons.wikimedia.org/Boaworm)

Gunung api sering dianggap sebagai ancaman, padahal ia juga berfungsi sebagai katup pelepas panas. Ketika magma naik ke permukaan, panas dari dalam Bumi ikut dilepaskan ke udara dan laut. Proses ini terjadi secara lokal, tidak serentak di seluruh planet.

Karena pelepasannya tersebar dan bertahap, tekanan panas tidak pernah terkunci di satu area besar. Letusan gunung api memang bisa dahsyat, tetapi skalanya kecil dibandingkan ukuran Bumi secara keseluruhan. Justru tanpa aktivitas vulkanik, panas akan lebih sulit menemukan jalan keluar. Dalam konteks ini, gunung api membantu menjaga keseimbangan energi internal.

4. Kerak bumi bertindak sebagai lapisan penahan panas

Kerak Bumi (commons.wikimedia.org/Exagren)

Kerak Bumi bukan hanya tempat hidup manusia, tetapi juga lapisan pelindung termal. Ketebalannya membuat panas dari bawah tidak bisa lolos dengan cepat. Panas harus melewati berbagai jenis batuan dengan sifat penghantar yang berbeda-beda.

Lapisan ini bekerja seperti jaket tebal yang menahan panas agar tidak langsung keluar sekaligus. Akibatnya, suhu permukaan tetap relatif stabil meski bagian dalam sangat panas. Tanpa kerak yang kaku dan tebal, pelepasan panas akan jauh lebih agresif. Fakta bumi ini menjelaskan mengapa planet kita bisa tetap layak dihuni.

5. Peluruhan unsur radioaktif menjaga aliran panas tetap bertahap

Uranium (commons.wikimedia.org/Svdmolen)

Sebagian panas di dalam Bumi berasal dari peluruhan unsur radioaktif seperti uranium, thorium, dan potassium. Proses ini menghasilkan panas dalam jumlah kecil tetapi berlangsung sangat lama. Energi dilepas sedikit demi sedikit, bukan sekaligus.

Karena sifatnya yang stabil dan jangka panjang, peluruhan ini tidak pernah menciptakan lonjakan panas mendadak. Justru proses inilah yang membantu menjaga suhu internal tetap konsisten. Panas yang dihasilkan menyebar melalui mantel dan kerak dengan ritme alami. Dengan cara ini, energi internal Bumi terus mengalir tanpa risiko ledakan global.

Kemampuan Bumi mengeluarkan panas dari dalam tanpa meledak bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem alam yang bekerja perlahan dan saling melengkapi. Dari perambatan panas di batuan hingga aktivitas vulkanik, semuanya bergerak dalam tempo yang nyaris tak terasa oleh manusia. Fakta Bumi ini memperlihatkan bahwa kestabilan planet justru lahir dari proses yang tampak sederhana, tetapi berjalan sangat lama. Jika panas dilepas secara cepat, apakah Bumi masih bisa menjadi tempat tinggal seperti sekarang?

Referensi:

"How does the Earth's center produce heat?" Physics. Diakses pada Januari 2026

"Earth’s internal heat" UGC Berkeley. Diakses pada Januari 2026

"How Earth sheds heat into space" MIT News. Diakses pada Januari 2026

"The Transfer of Heat Energy" NOAA. Diakses pada Januari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team