Ilustrasi yang menggambarkan George Washington memerintahkan pasukannya untuk melarikan diri dan mundur dalam Pertempuran Long Island. (commons.wikimedia.org/Michael Angelo Wageman/James Charles Armytage)
Pada Agustus 1776, Amerika Serikat yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya, terpaksa berperang melawan Inggris di sekitar Kota New York dan Brooklyn (yang pada saat itu merupakan wilayah terpisah). Jenderal George Washington, sebagaimana yang dilansir Mt. Vernon Museum, berharap pasukannya bisa mempertahankan bagian barat Long Island melawan Jenderal Inggris William Howe. George Washington menempatkan pasukannya untuk menjaga pintu masuk ke Brooklyn, tetapi ia lalai untuk menjaga jalan yang disebut Jamaica Pass. Akibatnya, Howe menyerang lewat jalan tersebut untuk mengepung pasukan George Washington di dekat East River.
William Howe kemudian melancarkan pengepungannya pada 27 Agustus, dengan serangan tiga arah yang memaksa pasukan Amerika mundur ke posisi utama mereka di Brooklyn Heights. Dari sini, tidak ada tempat untuk melarikan diri selain East River. Namun, dalam keadaan terpuruk, George Washington justru mendapat keberuntungan.
Nah, William Howe memutuskan untuk tidak menyerang posisi Amerika—tindakan yang bisa mengakhiri perang saat itu juga, meskipun dengan banyak korban jiwa di pihak Inggris. Namun, Howe memilih untuk bertahan dan membuat George Washington kelaparan. George Washington, di pihak lain, tidak menyerah. Ia memerintahkan pasukannya untuk mundur di malam hari saat Inggris menutup jebakannya.
Di sisi lain, berkat kabut tebal, 9.000 tentara Kontinental berhasil menyelinap ke Manhattan tanpa gangguan. George Washington, seperti seorang pemimpin sejati, adalah orang Amerika terakhir yang berhasil melarikan diri. Nah, saat kabut menghilang pada pagi hari, tepatnya 30 Agustus, Inggris baru mengetahui kalau semua pasukan Amerika sudah pergi.