6 Fakta Menarik Fenomena Perang di Dunia Semut, Brutal Banget!

- Semut telah berperang jauh sebelum manusia ada, dengan skala perang yang masif dan taktik pertempuran yang dramatis.
- Semut mengembangkan senjata kimia efektif dan bahkan ada spesies semut yang rela melakukan aksi bunuh diri demi mempertahankan sarang.
- Terbentuknya "superkoloni" pada spesies invasif seperti semut Argentina, yang bisa membentang hingga ribuan kilometer dan memicu perang saudara yang mematikan.
Kamu mungkin mengira hanya manusia yang bisa melakukan perang terorganisasi dengan strategi kompleks. Nyatanya, semut juga melakukan konflik berskala besar yang melibatkan perebutan wilayah dan sumber daya. Menurut ahli biologi Mark W. Moffett, semut dan manusia adalah satu-satunya makhluk yang berperang dalam kelompok besar hingga mencapai titik pemusnahan massal.
Dunia semut menyimpan fenomena pertempuran yang jauh lebih brutal daripada yang terlihat oleh mata. Mereka memiliki strategi, senjata kimia, hingga pasukan bunuh diri yang siap mati demi koloni. Penasaran bagaimana taktik jitu serangga kecil ini saat bertempur? Yuk, simak enam fakta menarik tentang fenomena perang di dunia semut berikut ini!
1. Semut telah berperang jauh sebelum manusia ada

Jika melihat semut sebagai masyarakat, ada dua jenis konflik yang biasa terjadi di dunia mereka. Dilansir Serious Science, konflik ini bisa berupa pertempuran antar koloni satu spesies atau pertarungan antar spesies berbeda. Perang semut adalah interaksi agresif langsung di mana mereka saling menyerang secara fisik demi memonopoli sumber makanan.
Sejarah mencatat bahwa semut sudah berperang selama puluhan juta tahun, jauh sebelum manusia ada. Charles Darwin bahkan pernah menulis tentang konflik ini karena pertempuran antar koloni semut terlihat sangat dramatis dan jelas. Semut memisahkan dunia menjadi dua kubu sederhana, yakni anggota koloni (teman) dan selain anggota koloni (musuh).
Skala perang mereka bisa sangat masif karena jumlah populasi yang meledak hingga jutaan individu. Mark W. Moffett dalam Smithsonian Magazine menjelaskan bahwa masyarakat semut bisa bergeser dari sekadar tawuran kecil menjadi perang total. Dalam perang ini, kedua belah pihak mempertaruhkan kehancuran total koloni mereka.
2. Memicu evolusi berbagai senjata kimia

Semut adalah serangga purba yang telah mengembangkan berbagai senjata selama jutaan tahun. Awalnya, musuh utama semut adalah hewan vertebrata besar, sehingga mereka dilengkapi sengatan kuat. Namun, seiring waktu, musuh terbesar semut berubah menjadi semut lainnya, dan senjata mereka pun berevolusi.
Banyak spesies semut modern mengembangkan senjata kimia yang sangat efektif melawan sesama serangga. Dikutip dari Serious Science, beberapa semut memiliki kelenjar khusus di kepala atau perut yang mengeluarkan zat beracun untuk membingungkan atau membunuh musuh. Contohnya, semut gila tawny (Nylanderia fulva) menyemprotkan asam format yang bisa membakar dan membutakan lawan.
Lebih ekstrem lagi, ada spesies semut Colobopsis yang rela melakukan aksi bunuh diri demi mempertahankan sarang. Saat terdesak, pekerja spesies ini akan menekan tubuh mereka begitu keras hingga meledak. Ledakan ini memuncratkan cairan lengket beracun ke area sekitarnya untuk melumpuhkan musuh seketika.
3. Garis peperangan membentang hingga beberapa kilometer

Salah satu fenomena paling menakjubkan adalah munculnya "superkoloni" pada spesies invasif seperti semut Argentina. Semut-semut ini kehilangan agresivitas terhadap sesama spesies dari sarang berbeda dan justru bekerja sama. Akibatnya, mereka membentuk koloni raksasa yang membentang hingga ribuan kilometer melintasi benua.
Namun, kedamaian ini hanya berlaku bagi sesama anggota superkoloni yang memiliki bau kimiawi yang sama. Dilansir Aeon, ketika dua superkoloni berbeda bertemu di perbatasan, perang saudara yang mematikan akan pecah. Di California, 15 juta semut tewas dalam enam bulan pertempuran antara dua superkoloni besar.
Pertempuran di perbatasan ini bisa berlangsung sangat lama tanpa pemenang yang jelas. Para peneliti mencatat bahwa garis depan pertempuran bisa membentang hingga beberapa kilometer. Peristiwa ini menunjukkan bahwa di balik kerja sama mereka yang luar biasa, semut tetap memiliki sisi geopolitik yang kejam.
4. Tanpa sadar menerapkan prinsip matematika

Tanpa disadari, semut ternyata menerapkan prinsip matematika dalam strategi perang mereka. Peneliti sering menggunakan Hukum Lanchester untuk menganalisis pertempuran semut, mirip dengan analisis perang militer manusia. Hukum ini memprediksi pemenang berdasarkan jumlah pasukan dan kekuatan individu di medan perang.
Dalam pertempuran terbuka, semut cenderung mengikuti hukum kuadrat Lanchester. Artinya, pasukan dengan jumlah lebih banyak memiliki keuntungan eksponensial karena bisa mengeroyok musuh. Semut tentara sering menggunakan taktik ini dengan menyerang dari segala arah untuk memaksimalkan lebar garis depan.
Sebaliknya, koloni yang lebih kecil akan mencoba memaksakan pertempuran satu lawan satu di area sempit. Strategi ini disebut hukum linear, di mana keunggulan jumlah musuh menjadi tidak berguna karena medan yang terbatas. Semut Pheidole, misalnya, menggunakan prajurit berkepala besar untuk memblokir pintu masuk sarang demi menahan serbuan lawan.
5. Terdapat praktik perbudakan dan pencurian

Kekejaman dunia semut tidak berhenti pada pembunuhan, tetapi juga praktik perbudakan. Beberapa spesies semut dikenal sebagai pembuat budak (slavemakers) yang malas bekerja sendiri. Mereka akan menyerbu sarang spesies lain bukan untuk wilayah, melainkan untuk mencuri pupa atau kepompong.
Pupa yang dicuri ini kemudian dibesarkan di sarang penyerang sebagai pekerja paksa. Semut budak ini tidak sadar bahwa mereka bekerja untuk koloni asing dan akan merawat anak-anak dari penculik mereka. Dilansir dari sebuah paper di Journal of Insect Science, semut pembuat budak seperti Temnothorax americanus menargetkan koloni ukuran sedang agar perlawanan tidak terlalu berat.
Selain mencuri tenaga kerja, ada juga semut yang melakukan pencurian sumber daya makanan secara langsung. Semut pencuri (thief ants) menggunakan ukuran tubuh kecil mereka untuk menyusup ke sarang lawan dan mencuri telur atau larva. Perilaku licik ini sangat merugikan koloni korban karena menghambat regenerasi populasi mereka.
6. Diwarnai rivalitas antar spesies

Salah satu pertarungan paling epik di hutan tropis terjadi antara semut tentara (army ants) dan semut pemotong daun. Semut tentara adalah predator nomaden yang tidak membangun sarang permanen dan selalu berburu dalam kelompok besar. Mereka sering menyerbu koloni semut lain, termasuk sarang semut pemotong daun yang sangat besar.
Menghadapi serbuan ini, semut pemotong daun tidak tinggal diam dan mengerahkan prajurit khusus. Prajurit semut pemotong daun memiliki ukuran tubuh berkali-kali lipat lebih besar dari pekerja biasa. Ribuan prajurit raksasa ini akan berbaris di garis depan untuk mencabik-cabik semut tentara yang menyerang.
Pertempuran antara kedua spesies ini bisa berlangsung selama berhari-hari dengan korban jiwa yang sangat besar. Meskipun semut pemotong daun memiliki pertahanan kuat, semut tentara sering kali menang karena jumlah mereka yang tak terbendung. Jika pertahanan jebol, semut tentara akan menjarah larva semut pemotong daun tanpa ampun.
Fenomena perang di dunia semut ini membuktikan bahwa strategi militer yang kompleks dan brutal tidak hanya dimiliki oleh manusia semata. Keberanian mereka untuk berkorban nyawa demi koloni menunjukkan sisi loyalitas ekstrem yang sulit ditandingi oleh makhluk lain. Jadi, jangan remehkan serangga kecil ini karena di balik ukurannya yang mungil tersimpan kekuatan tempur yang sangat mematikan.


















