ilustrasi matahari terbit (pexels.com/icon0.com)
Umumnya, ekuinoks September terjadi pada minggu ketiga bulan September. Dilansir Time and Date, peristiwa ini akan berlangsung antara tanggal 22, 23, atau 24 September. Ini berbeda, karena bumi mengalami tanggal ekuinoks dan soltis yang bervariasi.
Alasannya, satu tahun dalam kalender Masehi yang digunakan sehari-hari gak sama persis dengan panjang tahun tropis. Maksudnya, waktu yang dibutuhkan bumi untuk menyelesaikan orbit mengelilingi matahari.
Dalam hitungan kalender Gregorian, penanggalan memiliki 365 hari dalam tahun biasa dan 366 hari dalam tahun kabisat. Namun, bumi membutuhkan waktu sekitar 365,242199 hari untuk mengorbit matahari.
Hal tersebut menunjukkan bahwa waktu ekuinoks dan titik balik matahari perlahan menjauh dari kalender Gregorian. Titik balik matahari terjadi sekitar 6 jam lebih lama setiap tahunnya. Akhirnya, perhitungan jeda menjadi begitu besar, sehingga jatuh pada tanggal berikutnya.
Meski demikian, penanggalan ini kembali seperti semula karena terdapat saat menyelarasan kembali kalender dengan tahun tropis. Biasanya hal tersebut terjadi pada tahun kabisat atau setiap empat tahun sekali. Ketika momen ini terjadi, tanggal ekuinoks dan titik balik matahari bergeser kembali ke tanggal sebelumnya lagi.
Selain perbedaan tanggal, variasi panjang tahun tropis dalam orbit dan gerakan rotasi harian bumi juga memengaruhi waktu ekuinoks dan soltis. Misalnya, gerak yang bersifat rotasional pada bumi alias presesi.