Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Burung Raja Udang Mikronesia, Kenapa Bisa Punah di Alam Liar?
tampak dekat raja udang mikronesia atau raja udang guam (commons.wikimedia.org/MostlyDross)
  • Raja udang mikronesia adalah burung endemik Guam yang punah di alam liar sejak 1988, kini hanya tersisa di penangkaran dan memiliki makna budaya penting bagi masyarakat setempat.
  • Burung ini memiliki bulu cokelat kemerahan khas, hidup di berbagai habitat hutan Guam, serta dikenal dengan kicauan seraknya yang rutin terdengar setiap fajar.
  • Kepunahan raja udang mikronesia disebabkan predator asing seperti ular pohon cokelat; upaya konservasi kini dilakukan termasuk reintroduksi ke atol Palmyra yang bebas predator invasif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Burung ini berwarna cokelat manis semanis kayu manis. Dulu hidupnya damai di hutan-hutan pulau Guam, tapi kini sudah puluhan tahun keindahannya tak lagi terlihat. Ia adalah raja udang mikronesia.

Raja udang mikronesia atau raja udang guam merupakan jenis burung raja udang endemik pulau Guam, di barat Samudra Pasifik. Burung ini punya makna budaya dan spiritual yang sangat mendalam di pulau Guam. Lantas, kenapa burung yang begitu dicintai ini bisa punah di alam liar? Yuk, cari tahu jawabannya lewat fakta raja udang mikronesia berikut ini!

1. Burung endemik pulau Guam yang dicintai

raja udang mikronesia atau raja udang guam koleksi Kebun Binatang San Diego (commons.wikimedia.org/DickDaniels)

Raja udang mikronesia atau raja udang guam (Todiramphus cinnamominus) merupakan jenis burung raja udang endemik pulau Guam yang terletak di sebelah barat Samudra Pasifik, tepatnya timur laut dari Indonesia. Oleh orang Guam asli, burung ini disebut sihek. Sayangnya, sudah puluhan tahun raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar, tepatnya sejak 1988. Cuma beberapa ekor saja yang kini bertahan di penangkaran.

Nama "raja udang mikronesia" sebenarnya gak cuma merujuk pada raja udang guam. Nama ini juga digunakan untuk menyebut beberapa jenis burung raja udang dari marga Todiramphus yang hidup di negara-negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian barat. Ada raja udang pohnpei atau Pohnpei kingfisher (T. reichenbachii) asli pulau Pohnpei dan raja udang palau atau rusty-capped kingfisher (T. pelewensis) asli pulau Palau.

2. Bulu cokelat kayu manis yang khas

tampak dekat raja udang mikronesia atau raja udang guam (commons.wikimedia.org/Becker1999)

Seperti raja udang pada umumnya, raja udang mikronesia bertubuh gemuk dengan kepala besar dan paruh tebal runcing mirip belati. Dicatat laman Animalia, panjangnya 20—24 sentimeter dengan berat 50—76 gram. Punggungnya biru berkilauan dengan kepala berwarna kayu manis kemerahan. Pada jantan, perut dan dadanya juga berwarna kayu manis, sementara pada betina berwarna putih.

Raja udang mikronesia masih satu marga (Todiramphus) dengan banyak raja udang yang ada di Indonesia. Contohnya cekakak sungai (T. chloris), cekakak suci (T. sancus), cekakak kalung-cokelat (T. australasi), sampai cekakak pantai (T. saurophagus) yang tersebar di banyak pulau Indonesia. Semuanya merupakan kelompok raja udang pohon atau raja udang kayu, Halcyoninae.

3. Dulu hidup di semua habitat pulau Guam

Raja udang mikronesia atau raja udang guam sedang ditandai. (commons.wikimedia.org/Dylan Kesler)

Dulu, hampir semua habitat di pulau Guam dihuni oleh raja udang mikronesia. Seperti yang dijabarkan laman Data Zone Bird Life, burung ini menghuni berbagai habitat hutan di seluruh pulau Guam, termasuk hutan dewasa dan hutan sekunder di substrat batu kapur dan vulkanik, hutan tepi sungai, sampai kebun besar dengan pepohonan. Di habitat-habitat tersebut, raja udang mikronesia menyantap kadal dan serangga, utamanya belalang dan tonggeret.

Raja udang mikronesia dikenal punya suara kicauan serak keras yang biasa terdengar saat fajar. Menurut informasi dari Smithsonian National Zoo & Conservation Biology Institute, burung ini begitu rutin berkicau di waktu yang sama setiap fajar. Bahkan, saking teraturnya, menurut kepercayaan setempat suara burung ini bisa digunakan untuk mengetahui waktu.

4. Menggali sarangnya sendiri di pohon

Raja udang mikronesia atau raja udang guam sedang bertengger. (commons.wikimedia.org/Ryan Somma)

Dulu, kalau raja udang mikronesia hendak bersarang, ia perlu mencari pohon yang kayunya lunak atau lapuk. Terkadang bagian pohon yang terdapat sarang rayapnya juga digunakan. Ia membangun sarangnya dengan menusuk-nusuk kulit pohon dengan paruh besarnya sambil terbang sampai membentuk rongga atau lubang.

Di sarang ini, raja udang mikronesia hasilkan 1—3 butir telur, meski biasanya cuma satu anak burung yang berhasil tumbuh dewasa akibat pembunuhan saudara kandung. Kalau di penangkaran, laman Birds of the World menyebut raja udang mikronesia bisa hasilkan hingga empat kali penetasan per tahun. Namun, tingkat keberhasilan penetasan dalam penangkaran sangat bervariasi, antara 25 persen dan sekitar 67 persen.

5. Punah di alam liar gara-gara predator asing

raja udang mikronesia atau raja udang guam koleksi Kebun Binatang Bronx, Amerika Serikat (commons.wikimedia.org/ Eric Savage)

Raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar pada 1988 akibat ular pohon cokelat (Boiga irregularis) yang diperkenalkan ke pulau Guam sekitar tahun 1940-an. Raja udang mikronesia dan burung-burung asli Guam lainnya yang selama ribuan tahun gak punya predator alami, akhirnya kelabakan dan tidak tahu bagaimana cara mempertahankan diri dari predator asing itu. Alhasil, dalam kurun waktu singkat, raja udang mikronesia musnah di alam liar.

Sekitar 29 ekor raja udang mikronesia yang tersisa kala itu diselamatkan dan dipelihara di penangkaran. Meski kemungkinan masih ada populasi sangat kecil yang masih bertahan di pulau Guam hingga tahun 1988, raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar. Dari puluhan ekor yang ditangkap itu, ahli konservasi berupaya melestarikan burung ini di penangkaran untuk diperkenalkan kembali suatu saat nanti ke pulau Guam.

Sayangnya, pulau Guam kini gak lagi seperti dulu. Gak cuma ular pohon cokelat, keberadaan kucing juga jadi ancaman tambahan. Kualitas hutan pun menurun akibat rusa, babi, dan hewan-hewan invasif lainnya yang diperkenalkan ke pulau Guam. Semua ini makin membatasi peluang raja udang mikronesia kembali ke rumahnya.

Pada 2024 lalu, beberapa ekor raja udang mikronesia berhasil diperkenalkan ke atol Palmyra yang ada di Samudra Pasifik bagian utara. Menurut laman Nature Conservancy, atol Palmyra dipilih karena ekosistem darat dan lautnya termasuk yang paling sehat dan bebas dari predator invasif. Habitat hutannya pun berkualitas tinggi dan mirip hutan di pulau Guam.

Raja udang mikronesia jadi contoh utama dari bahayanya hewan invasif terhadap hewan asli. Semoga suatu saat nanti raja udang mikronesia kembali melimpah dan bisa kembali ke pulau Guam, ya? Setelah tahu lebih banyak, bagaimana pendapatmu tentang burung raja udang mikronesia atau raja udang guam?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team