raja udang mikronesia atau raja udang guam koleksi Kebun Binatang Bronx, Amerika Serikat (commons.wikimedia.org/ Eric Savage)
Raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar pada 1988 akibat ular pohon cokelat (Boiga irregularis) yang diperkenalkan ke pulau Guam sekitar tahun 1940-an. Raja udang mikronesia dan burung-burung asli Guam lainnya yang selama ribuan tahun gak punya predator alami, akhirnya kelabakan dan tidak tahu bagaimana cara mempertahankan diri dari predator asing itu. Alhasil, dalam kurun waktu singkat, raja udang mikronesia musnah di alam liar.
Sekitar 29 ekor raja udang mikronesia yang tersisa kala itu diselamatkan dan dipelihara di penangkaran. Meski kemungkinan masih ada populasi sangat kecil yang masih bertahan di pulau Guam hingga tahun 1988, raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar. Dari puluhan ekor yang ditangkap itu, ahli konservasi berupaya melestarikan burung ini di penangkaran untuk diperkenalkan kembali suatu saat nanti ke pulau Guam.
Sayangnya, pulau Guam kini gak lagi seperti dulu. Gak cuma ular pohon cokelat, keberadaan kucing juga jadi ancaman tambahan. Kualitas hutan pun menurun akibat rusa, babi, dan hewan-hewan invasif lainnya yang diperkenalkan ke pulau Guam. Semua ini makin membatasi peluang raja udang mikronesia kembali ke rumahnya.
Pada 2024 lalu, beberapa ekor raja udang mikronesia berhasil diperkenalkan ke atol Palmyra yang ada di Samudra Pasifik bagian utara. Menurut laman Nature Conservancy, atol Palmyra dipilih karena ekosistem darat dan lautnya termasuk yang paling sehat dan bebas dari predator invasif. Habitat hutannya pun berkualitas tinggi dan mirip hutan di pulau Guam.
Raja udang mikronesia jadi contoh utama dari bahayanya hewan invasif terhadap hewan asli. Semoga suatu saat nanti raja udang mikronesia kembali melimpah dan bisa kembali ke pulau Guam, ya? Setelah tahu lebih banyak, bagaimana pendapatmu tentang burung raja udang mikronesia atau raja udang guam?