Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret cekakak tunggir putih yang baru menangkap makanan
potret cekakak tunggir putih yang baru menangkap makanan (commons.wikimedia.org/Abdul Azis Gizan)

Intinya sih...

  • Cekakak tunggir putih adalah burung endemik Indonesia bagian tengah dengan warna tubuh kontras dan suara khas.

  • Burung ini karnivor, hidup soliter di luar musim kawin, dan mampu menirukan suara burung lain.

  • Status konservasi mereka masih aman, tetapi tetap terancam oleh kerusakan habitat di Nusa Tenggara.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Burung cekakak atau raja udang (famili Alcedinidae) merupakan keluarga burung dengan ciri khas paruh berukuran besar. Burung cekakak terbagi atas 19 genera dan 118 spesies berbeda. Uniknya, ada 1 genera burung ini, Caridonax, yang hanya memiliki 1 spesies di dalamnya. Nama spesies itu adalah cekakak tunggir putih (Caridonax fulgidus).

Dari penampilan luar, cekakak tunggir putih masih cukup mirip dengan kerabat yang lain. Bedanya, sebagian besar bulu mereka ditutupi warna biru tua, tapi area sekitar kepala berwarna hitam dan perut berwarna putih. Selain itu, paruh dan mata punya warna jingga cerah yang membuat warna tubuh mereka secara keseluruhan terlihat sangat kontras, tapi tetap menawan.

Panjang tubuh cekakak tunggir putih sekitar 24 cm dengan bobot 45—57 gram saja. Ada beberapa fakta menarik dari burung ini yang siap diungkap. Jadi, kalau ingin kenalan dengan mereka, langsung gulir layarmu ke bawah, ya!

1. Peta persebaran dan habitat pilihan cekakak tunggir putih

cekakak tunggir putih bertengger di pohon (inaturalist.org/everestlegawa)

Salah satu hal menarik dari cekakak tunggir putih adalah persebaran. Soalnya, burung yang satu ini ternyata termasuk hewan endemik Indonesia. Lebih tepatnya, burung ini berada di Indonesia tengah yang meliputi Pulau Lombok, Sumbawa, Flores, Besar, dan beberapa pulau lain di kawasan Nusa Tenggara. BirdLife DataZone mencatat kalau luas area yang jadi persebaran cekakak tunggir putih itu sekitar 75.100 km persegi.

Sementara itu, habitat pilihan burung ini utamanya adalah kawasan hutan. Mereka dapat ditemukan di hutan tropis dan subtropis dataran rendah, dataran tinggi, maupun sekitar pegunungan. Selain hutan, kadang mereka turut berada di semak belukar yang dekat dengan sumber air. Itu artinya, elevasi atau ketinggian habitat yang disukai cekakak tunggir putih berkisar 0—1.700 meter di atas permukaan laut.

2. Makanan favorit cekakak tunggir putih

cekakak tunggir putih menangkap reptil kecil (commons.wikimedia.org/Abdul Azis Gizan)

Cekakak tunggir putih tergolong karnivor dengan pilihan makanan yang cukup beragam. Mereka mengonsumsi banyak jenis serangga, vertebrata ukuran kecil, amfibi, dan reptil berukuran kecil. Mereka merupakan kelompok hewan diurnal sehingga waktu paling tepat untuk mencari makan berlangsung selama Matahari masih terbit.

Dilansir Bird Buddy, cekakak tunggir putih berburu dengan cara menangkap target kuat-kuat berkat paruh besar berwarna jingga mereka. Mula-mula, mereka akan bertengger di dahan pohon sampai melihat mangsa potensial. Ketika berhasil mendeteksi, burung ini langsung terbang melesat dan menangkap target dengan cepat. Kalau ukuran mangsa cukup besar, cekakak tunggir putih akan membawa mangsa ke dahan terdekat dulu sebelum akhirnya disantap.

3. Kehidupan sosial cekakak tunggir putih

cekakak tunggir putih mengawasi wilayah sekitar (commons.wikimedia.org/Abdul Azis Gizan)

Cekakak tunggir putih cukup fleksibel untuk urusan sosialisasi dengan sesama. Kalau sedang berada di luar musim kawin, burung ini lebih suka menyendiri. Namun, ketika sudah waktunya mencari pasangan, mereka berubah jadi burung yang sangat peduli dengan sesama. Hal ini dibuktikan dengan kerja sama antara jantan dan betina untuk saling memenuhi kebutuhan makanan pasangan beserta anak mereka serta bahu-membahu dalam membangun sarang.

Tentunya, ada panggilan khas antarindividu cekakak tunggir putih. Birda melansir kalau baik jantan maupun betina sama-sama mengeluarkan bunyi kow-kow-kow-kow secara berulang guna memanggil pasangan. Uniknya, panggilan khas itu selalu rutin dikeluarkan ketika Matahari baru terbit dan terbenam sehingga terkesan seperti sebuah alarm khusus spesies burung cekakak.

Hebatnya, kemampuan suara dari cekakak tunggir putih tak sebatas itu. Mereka diketahui dapat menirukan suara burung lain yang tinggal di habitat yang sama. Fungsi dari kemampuan itu utamanya untuk menghindari predator dan menjaga batas wilayah masing-masing.

4. Sistem reproduksi cekakak tunggir putih

Cekakak tunggir putih termasuk hewan monogami, tapi hanya dalam satu musim kawin. (inaturalist.org/everestlegawa)

Seperti kebanyakan spesies burung cekakak lain, ternyata cekakak tunggir putih juga tergolong sebagai hewan monogami. Artinya, ketika satu pasangan terbentuk, keduanya akan selalu bersama, setidaknya selama satu musim kawin. Ikatan terbentuk dengan rentetan penampilan terbang dan panggilan khas antara jantan dan betina. Sementara itu, musim kawin paling pas bagi spesies ini saat wilayah persebaran mereka memasuki musim hujan.

Sebelum kawin dan meletakkan telur, pasangan cekakak tunggir putih akan membuat sarang yang berada di lubang pohon alami atau bekas burung pelatuk. Bird Buddy melansir kalau dalam sekali musim kawin, betina biasanya menghasilkan 2—4 butir telur. Nantinya, telur-telur itu menjalani masa inkubasi selama 18—20 hari sampai menetas. Kekompakan pasangan cekakak tunggir putih terlihat selama masa mengurus anak karena keduanya sama-sama menjaga dan mencari makan untuk anak secara bergantian. Bahkan, sampai anak siap hidup sendiri, kedua induk ini akan mengajari mereka soal teknik berburu yang baik.

5. Status konservasi cekakak tunggir putih

Status konservasi cekakak tunggir putih sebenarnya masih aman, tapi bukan berarti tanpa ancaman. (commons.wikimedia.org/Gizan hila)

Berdasarkan catatan IUCN Red List, status konservasi cekakak tunggir putih masih masuk dalam kategori hewan dengan risiko rendah (Least Concern). Selain itu, tren populasi mereka terbilang stabil meski total populasi secara pasti belum dicatat. Hal tersebut sebenarnya wajar mengingat persebaran burung ini yang cukup terfragmentasi dan berada di habitat yang cukup sulit untuk dijangkau.

Walau terlihat baik-baik saja, sebenarnya spesies burung cekakak yang satu ini termasuk rentan pada satu hal: kerusakan habitat. Pembukaan lahan yang masih terjadi di sekitar Nusa Tenggara faktanya menimbulkan kekhawatiran yang dapat memengaruhi populasi cekakak tunggir putih pada masa mendatang. Oleh sebab itu, untuk membantu kelestarian burung yang satu ini, sudah sepatutnya kita harus mulai dari menjaga kelestarian ekosistem tempat mereka tinggal.

Jangan sampai karena keinginan memperoleh keuntungan ekonomi semata, kita merusak alam di Nusa Tenggara secara serampangan. Kita perlu ingat kalau rusaknya alam yang ada di Nusa Tenggara—dan Indonesia secara keseluruhan—tak hanya memengaruhi 1 spesies, tapi 1 ekosistem secara utuh. Yuk, mulai berkontribusi untuk menjaga alam dan lingkungan sekitar agar tidak rusak lebih parah lagi dari yang sudah terjadi sekarang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎