potret pesawat orbiter ulang-alik Atlantis (STS-122) yang akan mendarat di tahun 2008 silam (commons.wikimedia.org/Chuck Luzier)
Selain sebagai pangkalan militer, Diego Garcia ditetapkan sebagai salah satu lokasi pendaratan darurat untuk space shuttle atau pesawat ulang-alik NASA, meskipun dalam sejarahnya, belum pernah ada pesawat ulang-alik NASA yang melakukan pendaratan darurat di Diego Garcia. Menurut laman NASA, program pesawat ulang-alik adalah program pesawat luar angkasa canggih yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1981 hingga berakhirnya program dengan pendaratan pesawat ulang-alik terakhir di bumi pada tahun 2011 silam.
Disebut pesawat ulang-alik karena sebagian besar komponennya seperti pesawat orbiter (tempat awak astronaut), dan tempat roket pendorong berbahan bakar padat (solid rocket booster) masih dapat digunakan kembali untuk misi selanjutnya. Ketika pesawat orbiter kembali ke bumi ia tak dapat terbang seperti pesawat biasa di dalam atmosfer bumi namun dengan aerodinamika canggihnya ia akan turun dengan cara melayang seperti pesawat glider hingga mendarat di landasan.
Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai salah satu pangkalan militer rahasia di jantung Samudra Hindia, ya!
Siapa yang secara resmi memiliki wilayah Diego Garcia? | Secara administratif, Diego Garcia adalah bagian dari Wilayah Samudra Hindia Britania (BIOT) milik Inggris. Namun, sejak tahun 1966, Inggris menyewakan pulau tersebut kepada Amerika Serikat untuk digunakan sebagai pangkalan militer melalui perjanjian khusus. |
Mengapa pangkalan ini dianggap sangat strategis secara militer? | Lokasinya yang berada di tengah Samudra Hindia memungkinkan Amerika Serikat untuk menjangkau berbagai titik panas di dunia dengan cepat, termasuk Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika Timur. Pangkalan ini memiliki landasan pacu yang mampu menampung pesawat pengebom jarak jauh seperti B-52 dan B-2 Spirit. |
Apa kontroversi utama terkait penduduk asli pulau ini? | Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, pemerintah Inggris melakukan pengusiran paksa terhadap sekitar 2.000 penduduk asli (orang Chagossian) agar pulau tersebut bisa dikosongkan untuk kepentingan militer. Hingga kini, komunitas Chagossian masih memperjuangkan hak mereka untuk kembali ke tanah kelahiran mereka. |