Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi unta (pexels.com/Frans van Heerden)
ilustrasi unta (pexels.com/Frans van Heerden)

Intinya sih...

  • Mengurangi penguapan melalui kulit dan pernapasan

  • Memproduksi urine yang sangat pekat

  • Menyimpan air dan lemak sebagai cadangan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dehidrasi merupakan kondisi kekurangan cairan yang bisa mengganggu fungsi tubuh dari makhluk hidup, termasuk hewan yang hidup di alam liar. Di lingkungan dengan suhu tinggi atau ketersediaan air terbatas, hewan harus benar-benar memiliki mekanisme adaptasi khusus agar nantinya tetap mampu bertahan hidup dengan baik.

Secara ilmiah, berbagai spesies ternyata telah mengembangkan adanya strategi fisiologis dan juga perilaku untuk meminimalisir risiko kehilangan cairan tubuh. Berikut ini merupakan fakta ilmiah terkait cara hewan memproteksi diri dari dehidrasi di kondisi lingkungan yang ekstrem.

1. Mengurangi penguapan melalui kulit dan pernapasan

ilustrasi ular (pexels.com/Jeffry S.S.)

Beberapa hewan gurun ternyata memiliki lapisan kulit yang cenderung tebal atau bersisik untuk meminimalisir risiko penguapan air yang mungkin terjadi. Struktur kulit yang ada bisa membantu untuk meminimalisir risiko kehilangan cairan yang diakibatkan karena paparan panas dan juga angin kering.

Hewan tertentu ternyata bisa mengatur frekuensi pernapasan agar tidak sampai terlalu cepat dalam kondisi panas yang ekstrem. Reptil misalnya, memiliki kulit bersisik yang cukup efektif untuk menjaga kelembaban tubuh, khususnya pada saat tinggal di habitat yang bersuhu tinggi dan kelembaban rendah.

2. Memproduksi urine yang sangat pekat

Mamalia gurun seperti unta dan tikus kanguru ternyata bisa menghasilkan urine dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Ginjal mereka telah dirancang untuk menyerap kembali sebagian besar air sebelum nantinya dikeluarkan dari tubuhnya.

Proses ini sebetulnya membuat volume urine menjadi lebih sedikit dan cenderung lebih pekat jika dibandingkan dengan hewan pada umumnya. Dengan meminimalisir kehilangan air melalui urine, maka hewan pun bisa bertahan lebih lama tanpa minum agar tidak mudah mengalami dehidrasi.

3. Menyimpan air dan lemak sebagai cadangan

ilustrasi unta (pexels.com/Ruslan Ayupov)

Unta dikenal mampu menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak di bagian punuknya. Lemak tersebut nantinya bisa diuraikan menjadi energi, sekaligus menghasilkan air metabolik sebagai hasil sampingannya.

Air metabolik ternyata bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan cairan pada saat sumber air tidak tersedia di alam liar. Mekanisme yang ada sebetulnya merupakan bentuk adaptasi yang cukup efektif untuk hewan yang memang terbiasa hidup di padang pasir yang memiliki kondisi panas ekstrem.

4. Mengubah pola aktivitas untuk menghindari panas

ilustrasi kelelawar (unsplash.com/@nikolasnoonan)

Banyak Hewan gurun yang bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari ketika suhu di luar lebih rendah dari pada siang hari. Pola ini sebetulnya merupakan cara untuk mengurangi risiko kehilangan cairan yang diakibatkan karena paparan sinar Matahari secara langsung.

Pada siang hari, hewan biasanya akan cenderung bersembunyi di liang atau tempat yang teduh untuk memastikan bahwa suhu tubuhnya tetap dalam kondisi yang stabil agar tidak mengalami risiko dehidrasi akibat panas yang berlebih. Selain itu, ada beberapa spesies yang juga dapat memperlambat metabolisme dalam kondisi lingkungan yang kering agar dapat menghemat energi dan cairannya.

Cara hewan memproteksi diri dari dehidrasi merupakan bukti nyata dari kecanggihan adaptasi biologis yang berkembang melalui proses evolusi. Mekanisme fisiologis dan perubahan perilaku dapat membantu spesies tersebut untuk menjaga keseimbangan cairan tubuhnya. Tidak heran apabila hewan-hewan mampu mempertahankan diri dari risiko dehidrasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team