Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Lhasa Apso, Ras Kuno Penjaga Kuil Suci di Himalaya
Anjing Lhasa Apso (commons.wikimedia.org/Lhasaapso)

Tampilan Lhasa Apso yang punya bulu panjang dan wajah tenang sering menarik perhatian. Ras kuno asal dataran tinggi Himalaya ini punya sejarah panjang sebagai bagian dari kehidupan di Tibet. Dahulu, Lhasa Apso memegang peran penting sebagai simbol spiritual serta penjaga istana bagi para bangsawan dan tokoh agama.

Karena statusnya yang eksklusif, pada masa itu masyarakat umum jarang bisa menemukannya di luar lingkungan istana atau biara. Karakter yang tangguh dan setia ini terbentuk secara alami dari lingkungan hidup yang keras di pegunungan. Berikut lima fakta mengenai ras kuno yang dihormati di wilayah Himalaya tersebut.

1. Julukan "Singa Kecil" dan tugas sebagai penjaga dalam ruangan

Anjing Lhasa Apso (commons.wikimedia.org/lisaschaos)

Bulu tebal dan lebat yang membingkai wajah Lhasa Apso memang sengaja dibiarkan tumbuh untuk menyerupai singa. Dilansir laman Britannica, nama asli ras ini dalam bahasa Tibet adalah abso seng kye dengan arti harfiah anjing singa penjaga yang menggonggong. Panggilan ini berkaitan erat dengan fungsi historisnya sebagai alarm di dalam bangunan suci.

Ras ini berperan sebagai sentinel atau penjaga area dalam kuil dan istana. Gonggongan tajam akan terdengar setiap kali ada sosok asing yang masuk ke wilayah pribadi tanpa izin. Lhasa Apso mengandalkan indra pendengaran tajam untuk mendeteksi ancaman dari jarak dekat, sementara Mastiff Tibet menjaga bagian gerbang luar. Kombinasi dua jenis anjing ini menciptakan sistem keamanan berlapis bagi para penghuni biara.

2. Kedudukan spiritual sebagai pembawa keberuntungan

Anjing Lhasa Apso (commons.wikimedia.org/Томасина)

Peran Lhasa Apso melampaui sekadar penjaga fisik. Di lingkungan biara, mereka dianggap sebagai pembawa keberuntungan yang memiliki posisi spiritual tinggi. Dilansir laman American Kennel Club, mitos setempat menyebut bahwa Lhasa Apso menjadi tempat tinggal sementara bagi jiwa-jiwa para Lama atau guru spiritual yang sudah meninggal. Kepercayaan ini membuat keberadaan mereka sangat dihormati di lingkungan biara sehingga mereka diperlakukan dengan penuh kasih sayang.

Nilai spiritual tersebut menempatkan Lhasa Apso dalam siklus kehidupan ajaran Buddha Tibet secara langsung. Hubungan kuat dengan Singa Salju yang merupakan makhluk mitos pelindung Tibet juga sering dikaitkan dengan penampakan anjing ini. Alasan tersebut yang membuat Lhasa Apso hanya boleh dimiliki oleh kalangan elit dan pemimpin agama di masa lalu sebagai bagian dari tradisi kesucian mereka.

3. Harta eksklusif para bangsawan tanpa sistem jual beli

Anjing Lhasa Apso (commons.wikimedia.org/Томасина)

Karena nilai kesuciannya, Lhasa Apso tidak bisa dimiliki sembarang orang. Ras ini masuk dalam kategori harta nasional Tibet yang sangat eksklusif dan tidak boleh diperdagangkan dalam pasar terbuka. Dilansir laman Pets Place, cara untuk memiliki anjing ini hanya melalui pemberian hadiah kehormatan dari otoritas tinggi di Tibet seperti Dalai Lama. Menerima anjing ini dianggap sebagai berkah besar karena nilainya yang setara dengan kado diplomatik paling berharga bagi negara lain.

Tradisi pemberian hadiah ini menjaga kemurnian ras dan memastikan distribusinya tetap di lingkup biara atau pemimpin negara saja selama berabad-abad. Anjing Lhasa Apso pertama sampai di Amerika Serikat pada tahun 1933 setelah diberikan langsung oleh Dalai Lama ke-13 kepada pasangan naturalis. Hal tersebut menunjukkan posisi mereka sebagai satwa yang memiliki prestise tinggi di mata internasional.

4. Karakteristik bulu tebal dengan tingkat kerontokan rendah

Anjing Lhasa Apso (commons.wikimedia.org/localpups)

Selain memiliki sejarah yang panjang, Lhasa Apso juga dikenal karena penampilan fisiknya yang khas. Bulu panjang yang dimiliki anjing ini mempunyai sifat unik dalam hal pemeliharaan sehari-hari. Dilansir laman Greenfield Puppies, lapisan bulu anjing ini termasuk dalam kategori yang jarang rontok namun tetap memerlukan perawatan rutin secara intensif agar tidak kusut. Pemilik harus memastikan bulu dalam keadaan benar-benar kering setelah dimandikan karena rambut mereka cenderung menggumpal saat berada dalam kondisi lembap.

Perawatan rutin seperti menyisir bulu setiap hari perlu dilakukan untuk menjaga penampilan mereka yang menyerupai singa. Sebagian besar pemilik biasanya memilih potongan bulu pendek atau puppy cut untuk memudahkan aktivitas harian anjing di lingkungan rumah. Walaupun bulunya tidak mudah rontok, struktur rambut yang panjang memerlukan perhatian profesional setiap beberapa minggu sekali agar kesehatan kulit di balik bulu tebalnya tetap terjaga dengan baik.

5. Klasifikasi unik dalam kelompok anjing non-sporting

Anjing Lhasa Apso (commons.wikimedia.org/Alzheimer)

Ciri fisik dan fungsi penjagaan yang dimiliki Lhasa Apso juga memengaruhi cara ras ini dikenali dalam dunia anjing modern. Lhasa Apso awalnya memiliki kedudukan yang berbeda dalam klasifikasi organisasi anjing internasional karena kemiripan fisiknya dengan jenis tertentu. Masih dari laman Greenfield Puppies, American Kennel Club sempat memasukkan ras ini ke dalam kelompok Terrier saat pertama kali diakui pada tahun 1935.

Namun, identitas aslinya sebagai anjing pendamping yang berasal dari lingkungan biara membuat klasifikasi tersebut berubah total di kemudian hari. Organisasi tersebut akhirnya memindahkan Lhasa Apso ke dalam kelompok Non-Sporting pada tahun 1959. Keputusan ini diambil karena karakter fungsionalnya yang lebih fokus pada penjagaan bangunan daripada aktivitas berburu seperti kelompok Terrier.

Lhasa Apso merupakan bagian dari sejarah Tibet dengan fungsi penjagaan dan nilai spiritual yang melekat erat. Karakter fisik serta sifat waspadanya terbentuk dari adaptasi di lingkungan dataran tinggi selama ribuan tahun secara alami. Riwayat hidup di biara dan istana membentuk anjing ini sebagai pendamping yang punya kemandirian serta kesetiaan terhadap pemiliknya yang tetap eksis hingga saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy