Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
lumba-lumba tanpa sirip yang dipelihara di Akuarium Miyajima, Jepang
lumba-lumba tanpa sirip yang dipelihara di Akuarium Miyajima, Jepang (commons.wikimedia.org/ori2uru)

Intinya sih...

  • Lumba-lumba tanpa sirip adalah mamalia laut kecil Indo-Pasifik yang unik karena tidak memiliki sirip punggung dan sekilas mirip beluga.

  • Mereka hidup dengan ritme tenang, berburu secara agresif, dan bersosialisasi dalam kelompok kecil.

  • Populasi mereka terus menurun dan kini berstatus rentan punah akibat aktivitas manusia, seperti jaring nelayan, lalu lintas kapal, dan kerusakan habitat pesisir.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu percaya, gak, kalau di lautan yang luas itu ada spesies lumba-lumba yang tidak memiliki sirip punggung? Itu bukan karena cacat, apalagi dipotong manusia. Namanya adalah lumba-lumba tanpa sirip atau gondal nirsirip indo-pasifik (Neophocaena phocaenoides), seekor mamalia yang merupakan satu dari dua spesies lumba-lumba (infraordo Cetacea) tanpa sirip punggung.

Lumba-lumba ini tampil dengan kulit berwarna abu-abu pada bagian punggung dan abu-abu kebiruan pada bagian perut sehingga kadang sering terlihat jadi warna hitam saat di permukaan air. Berbeda dengan kebanyakan spesies lumba-lumba, mereka punya kepala yang agak membulat tanpa moncong layaknya paus beluga (Delphinapterus leucas). Malahan, kalau kita perhatikan, lumba-lumba ini memang terlihat seperti paus beluga versi mini.

Soalnya, lumba-lumba tanpa sirip ini termasuk jajaran Cetacea terkecil di dunia. Mereka hanya tumbuh sepanjang 150—200 cm dengan bobot antara 30—70 kg. Ada pula beberapa hal menarik lain dari mamalia air ini yang bakal kita ungkap pada kesempatan kali ini. Karena itu, simak ulasan di bawah ini sampai selesai, ya!

1. Peta persebaran dan habitat alami lumba-lumba tanpa sirip

ilustrasi peta persebaran lumba-lumba tanpa sirip (commons.wikimedia.org/JY Wang dan R Reeves)

Lumba-lumba tanpa sirip tersebar di kawasan Indo-Pasifik. Negara seperti Pakistan, India, China, Sri Lanka, Korea Selatan, Korea Utara, Jepang, pesisir negara-negara Asia Tenggara daratan, Filipina, dan Indonesia jadi rumah bagi mamalia yang satu ini. Lebih spesifik lagi, lumba-lumba tanpa sirip tinggal di sepanjang pesisir negara-negara yang disebutkan itu.

Dilansir Marine Mammals, habitat alami mereka berada di pesisir sampai laut lepas dengan jarak sampai 200 km dari pantai terdekat. Kedalaman laut yang lumba-lumba tanpa sirip sukai biasanya antara 100—150 meter di bawah permukaan laut. Akan tetapi, kadang-kadang mereka turut bergerak ke arah muara, aliran sungai, atau sekitar perairan payau. Hal ini membuat lumba-lumba tanpa sirip kadang dikira sebagai seekor pesut (Orcaella brevirostris).

2. Makanan favorit lumba-lumba tanpa sirip

penampilan lumba-lumba tanpa sirip yang mirip beluga (commons.wikimedia.org/Cipher01)

Lumba-lumba tanpa sirip tergolong karnivor sejati yang mengonsumsi berbagai hewan laut, misalnya cumi-cumi, gurita, sotong, ikan-ikan kecil dan sedang, serta berbagai jenis krustasea. Mereka adalah hewan diurnal sehingga aktivitas mencari makan dilakukan selama Matahari masih terbit. Di balik penampilan luar yang lucu, sebenarnya lumba-lumba tanpa sirip terbilang tanpa ampun ketika berburu mangsa, lho.

Animal Diversity Web melansir kalau lumba-lumba ini sangat agresif ketika mengejar mangsa. Tak jarang, ikan-ikan yang mereka kejar sampai melompat-lompat ke permukaan air demi menghindari sang predator. Setelah dapat, lumba-lumba tanpa sirip akan mencabik atau menelan mangsa secara langsung. Tentunya, selama proses berburu, mereka memanfaatkan kemampuan ekolokasi alias rentetan bunyi yang khas dari keluarga Cetacea dengan fungsi layaknya sebuah sonar alami. Bunyi klik yang mamalia ini hasilkan mampu menyentuh frekuensi sampai 100 kHz lebih, lho.

3. Kehidupan sosial lumba-lumba tanpa sirip

seekor lumba-lumba tanpa sirip sedang menarik napas (commons.wikimedia.org/냥이)

Walau terbilang agresif pada mangsa, sebenarnya kehidupan sehari-hari lumba-lumba tanpa sirip itu santai alias slow living, lho. Maksudnya, mereka memang aktif bergerak, tapi tiap gerakan cenderung lambat seolah sedang menikmati lautan dan jarang melakukan aksi akrobatik. Dilansir Animalia, untuk mengambil napas saja, mamalia ini selalu berenang di dekat permukaan sambil memutar tubuh ke sisi kanan atau kiri tiap 1 menit sekali. Sebenarnya, lumba-lumba tanpa sirip mampu menyelam, tapi durasi maksimalnya terbilang singkat, sekitar 4 menit saja.

Soal kehidupan sosial, lumba-lumba yang satu ini kadang terlihat sendirian, induk bersama anak, atau membentuk kelompok kecil dengan jumlah 3—17 individu. Kelompok lumba-lumba tanpa sirip bergerak bersama, termasuk ketika migrasi dari perairan hangat menuju perairan yang lebih dingin. Komunikasi dan interaksi antaranggota kelompok tentunya terjalin erat layaknya spesies lumba-lumba lain.

4. Sistem reproduksi lumba-lumba tanpa sirip

lumba-lumba tanpa sirip yang lucu (commons.wikimedia.org/Huangdan2060)

Musim kawin bagi mamalia laut ini terjadi antara Mei—Juni. Lumba-lumba tanpa sirip tergolong hewan poligini alias satu jantan akan kawin dengan beberapa betina berbeda dalam satu siklus reproduksi. Tidak diketahui secara pasti apakah ada ritual kawin tertentu dari jantan maupun betina.

Yang jelas, betina menjalani masa kehamilan selama 10—11 bulan. Dilansir Animal Diversity Web, lumba-lumba tanpa sirip betina hanya melahirkan seekor anak dalam satu siklus reproduksi. Anak tersebut disapih saat sudah berusia 7—10 bulan, tapi akan tetap bersama sang induk sampai dewasa. Adapun, usia kematangan seksual mereka sekitar 2 tahun dan rata-rata usia yang mampu dicapai spesies ini sekitar 23 tahun.

5. Status konservasi lumba-lumba tanpa sirip

Ketika mati, kulit lumba-lumba tanpa sirip seketika berubah jadi warna hitam. (commons.wikimedia.org/portioid)

Berdasarkan data IUCN Red List, status konservasi lumba-lumba tanpa sirip sudah masuk dalam kategori hewan rentan punah (Vulnerable). Selain itu, tren populasi mereka cenderung menurun meski belum diketahui secara pasti jumlah yang tersisa di alam. Mirisnya, penurunan populasi mamalia laut ini disebabkan oleh aktivitas manusia sekalipun aktivitas itu tak berhubungan langsung dengan perburuan atas mereka.

Lumba-lumba tanpa sirip sering terjebak di jaring nelayan secara tak sengaja. Selain itu, mereka sangat takut dan bingung dengan kapal yang melintas sampai mengganggu kemampuan ekolokasi. Alhasil, tak jarang mereka tertabrak kapal yang melintas. Masalah kerusakan habitat pesisir pantai juga jadi masalah serius karena volume sampah dan rusaknya terumbu karang, yang jadi rumah bagi mangsa potensial lumba-lumba tanpa sirip, membuat mereka semakin sulit memperoleh makanan.

Sebenarnya, di beberapa tempat, mereka memang sengaja diburu untuk dikonsumsi. Namun, angka kematian atas alasan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan aktivitas “tak sengaja” manusia. Hal ini jelas jadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati lagi untuk berinteraksi dengan alam. Jangan sampai aktivitas di pesisir ataupun kebiasaan membuang sampah sembarangan jadi petaka bagi banyak kehidupan laut yang tak bersalah. Yuk, kita tumbuhkan lagi kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎