Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Fenomena Langit 10 Hari Terakhir Ramadan 2026, Ada Hujan Meteor!
ilustrasi hujan meteor (pexels.com/Davide Baraldi)
  • Pada 10 hari terakhir Ramadan 2026, langit malam dihiasi beberapa fenomena astronomi yang dapat diamati dari Indonesia.

  • Fenomena tersebut meliputi hujan meteor Gamma Normid, perihelion komet 88P/Howell, dan konjungsi Bulan dengan Venus.

  • Sebagian fenomena bisa dilihat dengan mata telanjang, sementara yang lain memerlukan teleskop dan kondisi langit gelap.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki 10 hari terakhir Ramadan 2026, sejumlah fenomena langit akan ikut meramaikan langit malam. Di antara fenomena-fenomena yang muncul, ada beberapa yang bisa diamati dengan mata telanjang. Artinya, kamu tidak perlu menggunakan alat bantu seperti teleskop untuk mengamati fenomena langit tersebut.

Mulai dari planet hingga meteor, langit pada 10 hari terakhir Ramadan 2026 bakal bertabur keajaiban alam yang spektakuler. Menariknya lagi, rangkaian fenomena ini dapat disaksikan di beberapa wilayah Indonesia. Agar tidak ketinggalan, yuk, simak jadwal fenomena langit 10 hari terakhir Ramadan 2026 di bawah ini!

1. Hujan meteor Gamma Normid (14 Maret 2026)

ilustrasi hujan meteor Gamma Normid (pexels.com/Zain Ali)

Hujan meteor Gamma Normid adalah fenomena yang aktif sejak 25 Februari—28 Maret 2026. Puncak hujan meteor ini akan berlangsung pada 14 Maret 2026. Saat mencapai puncaknya, Gamma Normid diperkirakan menghasilkan 6 meteor per jam di kondisi langit yang benar-benar gelap tanpa awan dan polusi cahaya.

Menguti In-The-Sky.org, hujan meteor ini bisa disaksikan di Indonesia mulai pukul 21.49—05.34 WIB. Waktu terbaik untuk mengamatinya pukul 04.00 WIB, saat titik radian atau kemunculannya tepat berada di atas cakrawala. Kamu bisa menyaksikan pertunjukkan hujan meteor Gamma Normid ini dengan mata telanjang atau tanpa alat pengamatan.

2. Perihelion komet 88P/Howell (18 Maret 2026)

ilustrasi komet 88P/Howell (pexels.com/Kid Lee)

Komet 88P/Howell akan mencapai perihelion pada 18 Maret 2026. Dalam astronomi, perihelion adalah peristiwa yang terjadi ketika sebuah komet berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dalam lintasan orbitnya. Saat mencapai fase ini, komet akan tampak sedikit lebih terang karena es di permukaannya mulai menguap.

Di Indonesia, komet 88P/Howell diperkirakan melintas pada pukul 03.29 WIB atau sekitar 2 jam sebelum Matahari terbit. Komet ini kemudian akan memudar seiring berjalannya waktu dan benar-benar menghilang saat fajar menyingsing. Adapun, untuk mengamati komet 88P/Howell, kamu membutuhkan alat bantu seperti teleskop karena tingkat kecerlangan objek ini relatif redup alias sulit diamati dengan mata telanjang.

3. Konjungsi Bulan dan Venus (20 Maret 2026)

ilustrasi konjungsi Bulan dan Venus (pixabay.com/Hans)

Menjelang Lebaran 2026, Bulan akan berpapasan dengan Venus. Fenomena yang terjadi pada 20 Maret 2026 ini disebut dengan peristiwa konjungsi, pertemuan semu antarobjek astronomi di langit. Artinya, saat memasuki fase konjungsi, Bulan dan Venus bakal tampak saling berdekatan apabila diamati dari Bumi.

Fenomena tersebut bisa kamu saksikan pada pukul 18.15—19.05 WIB. Baik Bulan maupun Venus bisa diamati dengan mata telanjang. Jika diamati dari Bumi, Bulan akan tampak berbentuk sabit tipis karena usia Bulan baru memasuki sekitar 1 hari. Sementara itu, Venus bakal tampak seperti bintang paling terang di langit malam.

Meski bisa diamati dengan mata telanjang, kamu tetap harus memastikan langit benar-benar gelap, tanpa awan, dan minim polusi cahaya saat waktu pengamatan. Agar lebih gampang menemukan Bulan atau Venus, gunakanlah peta langit digital seperti Stellarium, The Sky Live, Sky Map, dan sebagainya. Yuk, segera catat tanggal masing-masing agar tidak ketinggalan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team