Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gempa Jiajing, Bencana Alam Terdasyat di Kelahiran Peradaban Cina
gempa bumi Shaanxi tahun 1556 (usatoday.com)

Tidak ada yang lebih kuat selain kekuatan alam berupa gempa bumi. Hanya dalam sekejap mata, dan tanpa peringatan, bumi melepaskan kekuatan yang tak tertandingi. Fondasi peradaban yang paling baik dapat diratakan dalam sekejap. Bangunan runtuh, menewaskan orang-orang dan menghancurkan warisan budaya, dalam reruntuhan batu dan puing-puing. Gempa bumi besar juga sering kali mengakibatkan tsunami.

Akan tetapi, ada hari paling mematikan dalam sejarah manusia, gempa bumi abad ke-16 yang mendatangkan malapetaka pada "Tempat Lahir Peradaban Cina" di provinsi Shaanxi dan Shanxi. Gempa bumi ini menciptakan efek domino dari bencana alam. Inilah yang perlu kamu ketahui tentang momen bencana terburuk dalam sejarah manusia dan dampaknya yang sangat mengejutkan.

1. Tempat lahir peradaban Cina

Tentara Terakota (unsplash.com/Aaron Greenwood)

Cina tengah, khususnya provinsi Shaanxi dan Shanxi merupakan perkembangan peradaban Cina yang sangat diperhitungkan. Center for Liveable Cities menjelaskan bahwa Shaanxi memiliki ibu kota Xi'an, ibu kota berkembang yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan kekaisaran selama 13 dinasti.

Xi'an juga merupakan Jalur Sutra, yang menghubungkan jaringan rute perdagangan yang membentang dari Timur Tengah ke Asia Tengah dan wilayah lain di Tiongkok. Terletak di Sungai Weihe, daerah ini berisi situs arkeologi yang tak terhitung jumlahnya. Yang tertua berasal dari 600.000 tahun yang lalu ketika komunitas Neolitik pertama kali memeluk pertanian. Pada Abad Pertengahan, Xi'an terkenal sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di dunia.

Seperti yang dicatat China.org, banyak yang menyebut Xi'an dan sekitar Shaanxi sebagai "tempat lahirnya peradaban China". Daerah ini berisi artefak dan monumen yang luar biasa, mulai dari Pagoda Angsa Liar Raksasa di Dayanta hingga Forest Stelae of Beilin dan Menara Lonceng di Zhonglou. Namun, situs bersejarah paling terkenal di wilayah ini adalah Tentara Terakota Qin Shi Huang, kumpulan prajurit yang menjaga makam kaisar Qin.

Namun terlepas dari semua kemajuan di Shaanxi dan Shanxi, tidak ada provinsi yang terbukti tak terkalahkan dalam hal bencana alam.

2. Bencana alam terdasyat

gempa bumi Shaanxi tahun 1556 (usatoday.com)

Pada 23 Januari 1556, gempa bumi besar dan gempa susulan mengguncang kemakmuran provinsi Shaanxi dan Shanxi, seperti dilansir History. Setelah bencana seismik itu, serangkaian peristiwa pun terjadi, mulai dari kebakaran, retakan tanah, dan tanah longsor yang menewaskan banyak korban jiwa. Sebagian besar sarjana setuju bahwa sekitar 830.000 orang tewas, menjadikannya peristiwa "paling mematikan sepanjang masa." 

Faktanya, getaran awal dari gempa bumi ini hanya berlangsung beberapa detik, tulis History Collection. Namun, kekuatannya yang luar biasa berkontribusi pada efek domino mematikan yang menghancurkan wilayah dan populasi lokal.

3. Struktur bangunan yang sangat rentan

rumah gua tradisional di Kabupaten Lingshi, Provinsi Shanxi, Cina (commons.wikimedia.org/Meier and Poehlmann)

Kaisar Jiajing dari dinasti Ming memimpin Imperial China pada saat itu, seperti yang dijelaskan Britannica. Jadi, banyak yang menyebutnya Gempa Jiajing. Terlebih lagi, Cina Tengah memiliki arsitektur yang tidak tahan gempa, membuat gempa ini menelan banyak korban jiwa. Banyak penduduk yang tinggal di gua-gua loess, atau rumah-rumah di tepi tebing yang diukir dari sedimen berpasir.

National Geographic mendefinisikan loess sebagai "bahan halus yang kaya mineral" yang dapat diciptakan oleh berbagai kekuatan alam, seperti angin dan gletser. 

Meskipun nyaman untuk di tempat tinggali, tetapi rumah itu rentan karena setara dengan membangun rumah di atas fondasi pasir. Tempat tinggal ini, yang dikenal sebagai Yaodong, hancur karena gempa berkekuatan 8,1 hingga 8,4 magnitudo, berubah dari tempat perlindungan menjadi jebakan maut.

4. Gempa susulan yang menghambat perbaikan

rumah di pegunungan Huashan, Huayin, Weinan, China (unsplash.com/Yu Gui)

Kota-kota besar di daerah itu memiliki banyak bangunan yang dibangun dari balok-balok batu. Sayangnya, batu-batu ini yang menewaskan banyak orang selama gempa bumi. Catatan sejarah mengungkapkan bahwa kota-kota seperti Huayin, Huaxian, dan Weinan, memiliki banyak bangunan yang runtuh.

Di beberapa tempat, tanah tiba-tiba naik dan membentuk bukit baru, atau tiba-tiba tenggelam dan menjadi lembah-lembah baru. Di beberapa daerah, aliran sungai meledak dalam sekejap, tanah pecah dan parit-parit baru muncul.

Kurangnya teknologi dan sumber daya membuat upaya penyelamatan sulit dan berbahaya hingga bahkan tidak mungkin. Terlebih lagi, wilayah tersebut mengalami gempa susulan selama lebih dari enam bulan. Gempa susulan ini menghancurkan semua yang tersisa dan menghambat upaya pemulihan dan rekonstruksi. Demikianlah, jantung Kekaisaran Tiongkok dihancurkan pada tahun 1556.

5. Tiga garis patahan utama yang berkontribusi pada kehancuran besar

Lereng sesar sepanjang 8 meter yang konsisten, berasal dari gempa bumi tahun 1556 dan masih dapat dilihat hingga hari ini. (historycollection.com/Earthquakes Without Frontiers)

Gempa bumi ini berasal dari dekat Huaxian di Lembah Sungai Weihe (Wei). Namun, kehancurannya mencakup radius 321 kilometer. Beberapa catatan bahkan memperkirakan bahwa kerusakan terjadi lebih dari 482 kilometer jauhnya.

Apa yang akhirnya menyebabkan gempa? Sebagian besar ahli menyebut, ada tiga garis patahan aktif di daerah tersebut sebagai biang keladinya. Sejarah Tiongkok mencatat bahwa dari 26 gempa yang dijelaskan dalam catatan resmi, semuanya memiliki pusat gempa di lembah Sungai Weihe.

Akan tetapi, seperti apa aktivitas geologis pada gempa tahun 1556 itu? Menurut Journal of Geophysical Research yang diterbitkan tahun 2020 mengungkapkan bahwa tingkat guncangan terbesar (XI+ hingga XII) dialami di wilayah Huaxian dan Weinan, menunjukkan bahwa gempa tersebut memecahkan patahan Huashan dan Weinan di dekatnya. Beberapa peneliti percaya bahwa lereng curam yang masih terlihat di wilayah tersebut sampai sekarang, adalah pengingat akan bencana ini dan kekuatannya yang luar biasa.

6. Faktor lain yang menghancurkan

ilustrasi rumah di Shaanxi, China (unsplash.com/Tony Wan)

Daerah metropolitan yang terletak di dekat Daerah Aliran Sungai Weihe (Wei) menjadi yang terburuk selama goncangan, kira-kira setengah dari populasi binasa. Dua provinsi utama yang terkena dampak gempa, Shaanxi dan Shanxi, kehilangan 60 persen dari total populasi mereka, seperti dilansir History.

Para peneliti percaya, sepertiga dari korban ini meninggal sebagai akibat langsung dari gempa bumi dan dampaknya, seperti banjir besar, kebakaran, dan tanah longsor. Adapun dua pertiga lainnya? Mereka meninggal karena kelaparan akibat peristiwa tersebut.

Terlebih lagi, bencana Shaanxi dan Shanxi terbukti merusak Imperial China secara keseluruhan. Terlepas dari kekuatan destruktif yang mengerikan dari bencana, faktor-faktor lain juga berkontribusi pada ketidakstabilan, baik secara politik maupun finansial.

Di zaman ini, Kekaisaran Cina berjuang dengan banyak masalah, seperti ketidakmanusiawian dalam pemerintahan Kaisar Jiajing, kerusakan perbatasan negara di bawah ancaman pengembara Mongolia, dan banyak lagi. Bencana seismik juga memiliki dampak yang buruk pada Dinasti Ming, melemahkan kedaulatan dan memiskinkan Perbendaharaan Kekaisaran.

7. Terjadi kerusakan budaya yang mustahil diperbaiki

Pagoda Angsa Liar Kecil, Xi'an (commons.wikimedia.org/Nyx Ning)

Selain korban jiwa yang besar, gempa tersebut juga menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap budaya yang penting, seperti Pagoda Angsa Liar Kecil. Dibangun antara 707 dan 710 M, Pagoda Angsa Liar Kecil didirikan selama Dinasti Tang di bawah Kaisar Zhongzong, seperti yang dicatat Universitas Michigan.

Salah satu dari dua pagoda di Xi'an (satu di antaranya adalah Pagoda Angsa Liar Raksasa), Pagoda Angsa Liar Kecil memiliki rangka bata kokoh yang terbukti lebih tahan gempa daripada banyak bangunan lainnya. Namun, selama gempa bumi, bagian atas Pagoda Angsa Liar Kecil runtuh, meruntuhkan hingga ketinggian 1,8 meter.

Terlebih lagi, 40 dari 114 loh batu dari Batu Klasik Tang juga rusak. Tablet-tablet ini, juga dikenal sebagai Batu Klasik Kaicheng, terletak di Museum Prasasti Hutan Batu, mewakili prasasti batu resmi tertua dari Konfusianisme, yang berisi 650.000 karakter, ungkap laman Shine. Selain rusaknya loh, berbagai artefak lainnya juga ikut hancur saat bencana alam tersebut.

8. Pelajaran dan penerapan bangunan baru pasca gempa bumi

Desa Liangjiahe, Kota Wen'anyi, Kabupaten Yanchuan, Kota Yan'an (commons.wikimedia.org/Liuxingy)

Setelah terjadinya gempa bumi, para penyintas di wilayah tersebut membuat konstruksi yang lebih baik dan lebih tahan gempa. Mereka lebih mengandalkan kayu dan bambu, selain hemat biaya, bahan bangunan tersebut lebih mudah didapatkan. Bahan bangunan ini juga terbukti cukup tangguh.

Mengutip laman World Bamboo, bambu digunakan sebagai bagian struktur utama dan rangka bambu sebagai sistem struktur utama, selama gempa bumi. Jadi, banyak orang yang meninggalkan gua-gua loess yang tidak tahan gempa dan mudah longsor. 

Anehnya, jutaan orang Tionghoa masih tinggal di Yaodong hingga hari ini. Terlebih lagi, tempat tinggal gua memiliki sejarah kuno yang belum bisa ditinggalkan. Topologi gua adalah salah satu bentuk arsitektur manusia paling awal, khususnya di China yang sudah ada selama lebih dari dua milenium. Meskipun begitu, pembeli juga sangat berhati-hati saat membeli rumah di yaodong yang aktif seismik. Mereka mempertimbangkan keterjangkauan, efisiensi energi, dan konservasi lahan strategis.

9. Banyaknya patahan

Ilustrasi Seismogram (IDN Times/Arief Rahmat)

Cekungan Weihe memiliki banyak patahan aktif yang berkontribusi terhadap gempa bumi selama berabad-abad, lapor IOP Science. Saat ini, para ilmuwan mengandalkan data GPS untuk membantu mengukur tingkat slip di sepanjang garis patahan di cekungan. Penelitian ini dapat membantu warga lebih mempersiapkan diri jika terjadi aktivitas seismik di masa yang akan datang.

Penelitian menunjukkan bahwa cekungan Weihe memiliki blok patahan yang sangat bengkok dan miring. Bagian tengah adalah zona patahan terdalam di cekungan, dan batas timur, barat, selatan, dan utara semuanya tersusun sesar normal berundak yang miring ke arah tengah cekungan.

Berkaca pada tragedi mengerikan di China tengah pada tahun 1556, para ilmuwan terus bekerja keras untuk memecahkan kode geologis ini. Ada rasa ketakutan bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan gempa sebelumnya, seperti provinsi Shaanxi dan Shanxi.

Itulah mengapa menjadi sangat penting bagi para peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana gempa bumi terjadi, bagaimana memprediksinya, dan bagaimana mempersiapkannya dengan lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team