Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anjing Laut
ilustrasi anjing laut yang sedang tertidur (wikimedia.org/Giles Laurent)

Intinya sih...

  • Burung migrasi seperti burung cikalang menggunakan USWS untuk terbang berminggu-minggu tanpa mendarat

  • Anjing laut, burung unta, bebek, paus beluga dan orca, serta buaya juga memiliki kemampuan tidur setengah otak dengan berbagai tujuan dan manfaat

  • USWS membuktikan bahwa tidur tidak selalu berarti kehilangan kesadaran sepenuhnya, dan merupakan adaptasi evolusi yang luar biasa bagi hewan di lingkungan berisiko tinggi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Unihemispheric Slow-Wave Sleep (USWS) adalah kemampuan biologis unik yang memungkinkan hewan untuk tidur tanpa sepenuhnya kehilangan kewaspadaan. Berbeda dengan manusia yang harus “mematikan” kedua belahan otak saat tidur, hewan dengan USWS hanya mengistirahatkan satu belahan otak, sementara belahan lainnya tetap aktif. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan satu mata yang terpejam dan satu mata lain yang tetap terbuka.

Kemampuan ini bukan sekedar unik, melainkan hasil adaptasi evolusi yang sangat penting bagi hewan yang hidup di lingkungan berisiko tinggi. Dengan cara ini, mereka tetap bisa memantau ancaman, menjaga keseimbangan tubuh, atau bahkan terus bergerak sambil beristirahat. USWS menunjukkan bahwa tidur tidak selalu berarti kehilangan kesadaran sepenuhnya. Yuk, kita kenali hewan-hewan luar biasa yang mampu “tidur setengah otak” ini!

1. Burung Migrasi

ilustrasi burung yang setengah tertidur (wikimedia.org/Hussain Kaouri)

Burung migrasi seperti burung cikalang (frigatebird) dikenal sebagai penjelajah udara yang sangat tangguh. Mereka mampu terbang melintasi samudra selama berminggu-minggu tanpa mendarat sama sekali. Dalam kondisi ekstrem tersebut, burung ini memanfaatkan mekanisme USWS agar tetap bisa beristirahat sambil terbang.

Melansir laman Yolo Basin Foundation, satu belahan otak mereka akan masuk ke fase tidur, sementara belahan lainnya tetap aktif untuk mengontrol arah terbang dan membaca arus udara. Kemampuan ini memungkinkan mereka menjaga keseimbangan tubuh meskipun berada di ketinggian ribuan meter. Strategi tidur sambil terbang ini menjadi kunci utama keberhasilan migrasi jarak jauh mereka.

2. Anjing Laut

ilustrasi anjing laut yang sedang tertidur (wikimedia.org/Giles Laurent)

Anjing laut fur memiliki kemampuan tidur yang sangat fleksibel tergantung pada lingkungan tempat mereka berada. Saat berada di darat, mereka tidur seperti mamalia pada umumnya dengan kedua belahan otak beristirahat bersamaan. Namun, situasinya berubah ketika mereka berada di lautan terbuka yang penuh ancaman predator.

Melansir Journal of Neuroscience, dalam kondisi ini, anjing laut akan beralih menggunakan USWS dengan satu belahan otak tetap waspada. Satu mata mereka dibiarkan terbuka untuk memantau pergerakan hiu atau paus pembunuh. Sementara itu, sirip yang terhubung dengan otak yang terjaga akan tetap bergerak untuk menjaga posisi tubuh. Kemampuan ini memungkinkan mereka tetap aman tanpa harus mengorbankan waktu istirahat.

3. Burung Unta

ilustrasi burung unta setengah tertidur (wikimedia.org/Wilfredor)

Sebagai burung terbesar di dunia yang tidak bisa terbang, burung unta memiliki risiko tinggi terhadap serangan predator. Oleh karena itu, mereka mengembangkan cara tidur yang sangat unik untuk melindungi diri. Melansir DOAJ, saat beristirahat, burung unta sering terlihat duduk dengan leher tegak dan mata terbuka.

Meski tampak terjaga, sebenarnya satu belahan otak mereka sedang tertidur. Mata yang tetap terbuka berfungsi untuk mendeteksi gerakan mencurigakan di sekitar. Jika ada ancaman mendekat, burung unta bisa langsung bereaksi dengan cepat. Mekanisme USWS ini membantu mereka menghemat energi sekaligus tetap waspada di lingkungan yang berbahaya.

4. Bebek

ilustrasi bebek yang sedang tertidur (wikimedia.org/Hornsea)

Dilansir laman Scientific American, bebek memanfaatkan kemampuan USWS tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi keselamatan kelompoknya. Saat tidur berkelompok, bebek biasanya membentuk barisan di pinggir air. Bebek yang berada di posisi paling ujung akan tidur dengan satu mata terbuka.

Belahan otak yang terjaga akan memantau lingkungan sekitar dari potensi bahaya. Sementara itu, bebek yang berada di tengah barisan bisa tidur dengan lebih nyenyak. Jika penjaga di ujung mendeteksi ancaman, ia akan memberi sinyal kepada kelompoknya. Menariknya, posisi ini akan bergantian agar setiap bebek mendapat kesempatan beristirahat penuh.

5. Paus Beluga dan Paus Orca

ilustrasi paus orca (wikimedia.org/Oregon State University)

Paus beluga dan paus orca menghadapi tantangan unik karena mereka harus sadar untuk bisa bernapas. Berbeda dengan manusia, pernapasan paus bersifat sukarela sehingga mereka tidak bisa tidur sepenuhnya. Jika kehilangan kesadaran total, mereka berisiko tenggelam atau kekurangan oksigen.

Melansir ScienceDirect, melalui mekanisme USWS, paus dapat mengistirahatkan satu belahan otak secara bergantian. Satu mata tetap terbuka untuk memantau lingkungan atau menjaga komunikasi dengan anggota kawanan. Pada induk orca dan anaknya, kondisi ini bahkan membuat mereka hampir tidak tidur selama beberapa minggu pertama. Tanpa USWS, kehidupan mamalia laut ini akan sangat berisiko.

6. Buaya

ilustrasi buaya yang sedang tertidur (wikimedia.org/Vincenzo Gianferrari Pini)

Diansir laman IFLScience, buaya juga termasuk hewan yang memiliki kemampuan tidur setengah otak. Mereka sering terlihat berdiam diri di pinggir sungai dengan satu mata terbuka. Mata tersebut tetap aktif mengirimkan informasi visual ke belahan otak yang terjaga.

Sementara itu, belahan otak lainnya berada dalam kondisi istirahat. Kemampuan ini memungkinkan buaya tetap mendeteksi mangsa atau ancaman meskipun sedang “tidur”. Inilah alasan mengapa buaya sangat sulit didekati secara diam-diam. USWS menjadikan buaya predator yang selalu siap bereaksi kapan pun.

Dengan membagi tugas antara istirahat dan kewaspadaan, beberapa hewan ini mampu bertahan di lingkungan yang penuh tantangan. USWS membuktikan bahwa tidur tidak selalu berarti kehilangan kesadaran sepenuhnya. Adaptasi ini menunjukkan betapa luar biasanya sistem saraf makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan alam. Fenomena ini juga membuka wawasan manusia tentang beragam bentuk tidur di dunia hewan. Tidur, ternyata, bisa jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team