ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Andrey Butko )
Sapu-sapu tidak asal bikin lubang kecil. Ikan sapu-sapu jantan menggali terowongan bercabang di dalam tanah tepi sungai, dengan kedalaman yang bisa mencapai satu setengah meter. Satu sistem terowongan bisa bercabang ke tiga atau empat arah sekaligus, dan ketika ribuan sapu-sapu melakukan hal yang sama di sepanjang tepi sungai, tanah di bawah permukaan itu pada dasarnya bolong seperti spons.
Struktur tepi sungai yang sudah digerogoti dari dalam jauh lebih rentan longsor. Di Hawaii, ribuan terowongan sapu-sapu berkontribusi langsung pada masalah sedimentasi yang mengubah karakteristik aliran sungai secara permanen. Ketika fisik sungai berubah, spesies asli yang bergantung pada kondisi habitat tertentu untuk bertelur dan berlindung kehilangan rumah mereka tanpa ada yang bisa disalahkan secara kasat mata.
Ikan sapu-sapu masuk ke Indonesia sebagai ikan akuarium, makhluk yang dibeli untuk membersihkan kaca. Sekarang mereka yang menguasai sungai, sementara ikan asli yang seharusnya ada di sana sudah tidak punya tempat kembali. Ironinya, manusia yang melepas mereka ke alam, tidak pernah membayangkan konsekuensi yang sedang terjadi hari ini.