Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Ikan Sapu-Sapu Bisa Invasi Sungai Tanpa Bisa Dihentikan?
ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Natural History Museum of the University of Pisa)
  • Ikan sapu-sapu mendominasi sungai Jakarta hingga 90% karena kemampuan bertahan ekstrem, termasuk mati suri di lumpur kering dan bernapas lewat organ khusus.
  • Kemampuan berjalan di darat membuat penyebaran sapu-sapu sulit dikendalikan, sebab mereka bisa berpindah antarperairan meski area sudah dibersihkan.
  • Dampak invasi sapu-sapu meluas dari kerusakan ekosistem hingga ekonomi, merusak jaring nelayan, memangsa telur ikan lokal, dan melemahkan struktur fisik sungai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta baru saja mengerahkan tim khusus untuk menyingkirkan ikan sapu-sapu dari sungai-sungainya. Bukan karena iseng, tapi karena di beberapa titik sungai, ikan ini sudah menyumbang 80-90 persen dari seluruh biota air yang tersisa.

Angka itu bukan kecelakaan. Ada mekanisme biologis yang sangat spesifik di balik dominasi mereka. Kalau penasaran kenapa upaya manusia hampir selalu kalah, baca sampai habis!

1. Sapu-sapu bisa mati suri berbulan-bulan di dalam lumpur kering

ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Michail)

Ketika sungai mengering, sapu-sapu tidak mati. Ikan ini masuk ke kondisi dormansi yang disebut estivasi. Metabolismenya melambat drastis, tubuhnya membungkus diri dalam lapisan lendir, lalu ia berdiam di dalam lumpur yang mengeras sambil tetap bernapas lewat organ labirin di perutnya.

Ada video viral yang memperlihatkan sapu-sapu yang tampak sudah mati dan mengering seperti kerupuk, lalu disiram air dan langsung bergerak kembali. Ikan yang bisa bertahan tanpa air sama sekali jauh lebih sulit dibasmi karena mengeringkan sungai pun bukan solusi. Selama ada lumpur, mereka masih punya peluang hidup.

2. Mereka bisa berpindah sungai dengan cara berjalan di darat

ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/George Chernilevsky)

Sapu-sapu bukan ikan yang terpenjara di satu sungai. Ketika kondisi air memburuk atau populasi terlalu padat, mereka bisa merayap melewati daratan basah untuk mencapai perairan baru. Lapisan tulang keras di tubuh dan kemampuan bernapas dari udara membuat perjalanan singkat di luar air itu bukan hal yang mustahil.

Inilah kenapa penyebaran sapu-sapu sulit dibendung hanya dengan membersihkan satu titik sungai. Selama ada permukaan lembap yang menghubungkan satu perairan ke perairan lain, mereka bisa menemukannya sendiri. Isolasi geografis yang biasanya jadi penghalang alami penyebaran spesies tidak berlaku untuk ikan yang bisa jalan darat.

3. Duri di tubuhnya merusak jaring nelayan dan menghancurkan mata pencaharian

ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Ildar Sagdejev (Specious))

Di Meksiko, invasi sapu-sapu tidak hanya meruntuhkan ekosistem sungai. Ribuan nelayan kehilangan pekerjaan karena tangkapan ikan lokal anjlok dan jaring mereka rusak terus-menerus akibat duri tajam di tubuh sapu-sapu yang tersangkut. Setiap sapu-sapu yang masuk ke jaring butuh waktu lama untuk dilepaskan, sementara duri-durinya merobek jala yang harganya tidak murah.

Di wilayah lain seperti India dan Filipina, kerugian ekonomi nelayan akibat spesies ini diperkirakan mencapai jutaan dolar per tahun. Sapu-sapu tidak hanya menggusur ikan yang punya nilai jual, tapi secara fisik merusak alat tangkap yang jadi modal utama nelayan. Dampaknya bukan sekadar ekologis, tapi langsung menghantam ekonomi komunitas yang bergantung pada sungai.

4. Sapu-sapu memakan telur ikan lain dan langsung memotong generasi berikutnya

ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Andrey Butko)

Sapu-sapu dikenal sebagai pemakan alga, tapi di alam liar perilakunya jauh lebih oportunistik. Ketika jantan sedang menjaga sarang, sapu-sapu juga diketahui memangsa telur ikan lain yang ada di sekitarnya. Eksperimen di Texas menemukan bahwa kehadiran sapu-sapu secara signifikan menurunkan angka keberhasilan penetasan ikan endemik setempat.

Artinya, sapu-sapu tidak hanya bersaing dengan ikan dewasa soal makanan dan ruang. Mereka memotong siklus hidup spesies lain dari titik paling awal. Ketika telur-telur itu tidak pernah sempat menetas, populasi ikan asli tidak punya kesempatan untuk pulih meski kondisi sungai membaik.

5. Terowongan sarang mereka menghancurkan struktur fisik sungai dari dalam

ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Andrey Butko )

Sapu-sapu tidak asal bikin lubang kecil. Ikan sapu-sapu jantan menggali terowongan bercabang di dalam tanah tepi sungai, dengan kedalaman yang bisa mencapai satu setengah meter. Satu sistem terowongan bisa bercabang ke tiga atau empat arah sekaligus, dan ketika ribuan sapu-sapu melakukan hal yang sama di sepanjang tepi sungai, tanah di bawah permukaan itu pada dasarnya bolong seperti spons.

Struktur tepi sungai yang sudah digerogoti dari dalam jauh lebih rentan longsor. Di Hawaii, ribuan terowongan sapu-sapu berkontribusi langsung pada masalah sedimentasi yang mengubah karakteristik aliran sungai secara permanen. Ketika fisik sungai berubah, spesies asli yang bergantung pada kondisi habitat tertentu untuk bertelur dan berlindung kehilangan rumah mereka tanpa ada yang bisa disalahkan secara kasat mata.

Ikan sapu-sapu masuk ke Indonesia sebagai ikan akuarium, makhluk yang dibeli untuk membersihkan kaca. Sekarang mereka yang menguasai sungai, sementara ikan asli yang seharusnya ada di sana sudah tidak punya tempat kembali. Ironinya, manusia yang melepas mereka ke alam, tidak pernah membayangkan konsekuensi yang sedang terjadi hari ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team