Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perempuan sedang mendengarkan musik
ilustrasi mendengarkan musik (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Musik memicu emosi karena mengaktifkan bagian otak yang mengatur memori dan perasaan.

  • Musik merangsang pelepasan dopamin yang membuat kita merasa senang atau terharu.

  • Bahkan, saat otak cedera, musik tetap bisa memengaruhi emosi manusia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mau genre pop, rok, country, klasik, metal, jaz, hiphop, sampai dangdut sekalipun, setiap orang tentu punya setidaknya satu genre musik yang disukai. Preferensi tersebut sering dipengaruhi dengan perasaan yang sedang kita rasakan maupun adanya ikatan khusus setelah mendengar musik tertentu. Hebatnya, musik tak jarang mampu memengaruhi perasaan manusia, entah itu senang, sedih, marah, sampai kecewa.

Tak ayal, sejak zaman dulu, iringan irama musik selalu menemani perjalanan manusia dalam berbagai bentuk. Karena pengaruhnya yang sangat besar untuk perasaan manusia, sains ingin coba menjawab satu pertanyaan: bagaimana musik mampu melakukan hal tersebut? Nah, pada kesempatan kali ini, yuk, kita coba ungkap hal-hal yang sudah sains ketahui tentang pengaruh musik bagi manusia. Simak sampai tuntas, ya!

1. Ada kaitannya dengan evolusi indra pendengaran

Mendengarkan suara jadi salah satu proses perkembangan manusia untuk menyukai musik. (pexels.com/Tirachard Kumtanom)

Perjalanan manusia dalam mencintai musik ternyata sudah dimulai saat proses evolusi masih berlangsung. Pada masa awal perkembangannya, mamalia—termasuk manusia—banyak mengandalkan indra penglihatan untuk berbagai fungsi. Penglihatan penting untuk mempertahankan diri dari kejaran predator, mencari keberadaan sumber makanan dan minuman, sampai berinteraksi dengan sesama.

Harvard University melansir kalau otak manusia berkembang untuk mampu menyaring suara yang sangat kompleks di sekitar, termasuk dalam konteks ini irama musik. Setelah penyaringan selesai, otak masih bekerja untuk mengidentifikasi jenis suara apa yang didengar itu dan menilai apakah suara tersebut familiar atau tidak. Uniknya, otak manusia secara alami berkembang untuk membuat hampir seluruh bagiannya aktif ketika mendengar musik, termasuk hipokampus dan amigdala.

Nah, kedua bagian tersebut pada dasarnya berfungsi untuk menyimpan memori dan emosi pada manusia. Ketika keduanya aktif secara bersamaan saat mendengar musik, hasilnya ialah kemunculan emosi dalam benak manusia, khususnya kalau musik tersebut berkaitan dengan memori tertentu yang selalu dikenang. Setelah otak merespons, barulah bagian tubuh lain ikut merespons irama musik yang didengar dengan berbagai cara, semisal gerakan tangan maupun kaki dan tangisan.

2. Ada hormon yang ikut meluapkan emosi kita

ilustrasi suasana hati sedang baik karena musik (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Selain masalah indra pendengaran dan kinerja otak, pengaruh musik yang kita dengar ternyata sampai bisa membangkitkan hormon khusus bernama dopamin. Simpelnya, hormon ini berfungsi untuk membawa pesan kimia ke otak untuk mengatur emosi, gerakan tubuh, sampai memori. Jadi, ketika musik masuk ke dalam telinga dan diidentifikasi otak, tubuh kita secara otomatis mengantisipasi emosi yang mungkin akan dimunculkan.

Dilansir Pfizer, pada momen itulah, dopamin dilepaskan menuju otak sampai menghasilkan emosi tertentu. Uniknya, kalau musik yang didengar sudah familiar dan punya ikatan tertentu dengan diri seseorang, hormon tersebut sudah muncul hanya dengan mendengar beberapa nada pertamanya saja. Setelah dopamin dilepaskan, tubuh kita langsung merasakan emosi yang meluap, utamanya terkait dengan rasa senang karena hormon yang satu ini banyak diasosiasikan dengan rasa puas dan hadiah setelah beraktivitas.

3. Bahkan ketika mengalami cedera otak, manusia tetap bisa merasakan luapan emosi dari musik

seorang anak sedang mendengar musik (pexels.com/jonas mohamadi)

Pengaruh musik bagi perasaan manusia terbilang sangat melekat erat, bahkan dalam kondisi apa pun. Maksudnya, ketika otak kita tak mampu mengenali nada ataupun ritme dari suatu musik, emosi kita tetap bisa terpengaruh. Kondisi ini tetap bisa terjadi sekalipun ada masalah otak serius yang sedang dialami oleh seseorang.

Pfizer melansir kalau orang-orang yang mengalami cedera otak atau kesulitan membedakan melodi tetap memiliki kemampuan pengenalan emosi dari musik yang didengar. Malahan, orang-orang yang mengalami kerusakan bagian lobus temporal—bagian otak tempat hipokampus dan amigdala berada—dan lobus frontal tetap masih bisa merasakan luapan emosi ketika lantunan musik terdengar.

4. Dampak musik bagi manusia

Mendengar musik mampu membantu fokus, menguatkan memori, dan membuat perasaan bahagia sehingga bisa jadi teman bekerja yang baik. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Selain masalah luapan emosi yang muncul dan turunan manfaatnya, musik sudah terbukti memengaruhi banyak hal lain bagi manusia. Sebagai contoh, gerakan yang kadang tubuh lakukan secara tak sadar ketika mendengar musik itu tersinkronisasi dengan peningkatan ambang batas rasa sakit, dilansir Tallahassee Memorial HealthCare. Karena sifat itu, sudah banyak terapis berbasis musik yang memanfaatkan suara tersebut untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dirasakan pasien dari penyakit atau pascatindakan medis.

Hebatnya, jenis terapi musik itu tercatat sudah berhasil mengurangi beberapa rasa sakit dari pasien, misalnya rasa nyeri pascaoperasi dan ketegangan fisik. Lantas, musik pun memengaruhi detak jantung dan pernapasan. Untuk yang terakhir itu alasannya karena musik memengaruhi tingkat denyut nadi dan tekanan darah seseorang, tergantung intensitas musik yang didengarkan.

Selain masalah sakit fisik, musik juga sudah terbukti memengaruhi perilaku manusia dalam membeli sesuatu. Sebab, musik punya kemampuan untuk “mengiklankan” sesuatu sampai kita secara tak sadar tersugesti untuk terpengaruh atasnya. Sebagai contoh, musik klasik sering diputar di pusat perbelanjaan untuk merangsang perasaan ingin membeli sesuatu dari calon konsumen. Selain itu, demografi usia punya preferensi musik sendiri guna meningkatkan perasaan dan kemungkinan membeli sesuatu di toko tersebut.

Dari kemampuan yang awalnya dikembangkan untuk bertahan hidup, kini musik sudah jadi teman sehari-hari bagi manusia. Bahkan, ketika suara tidak berasal dari instrumen musik yang asli, otak kita tetap mampu mengubah irama dari suara di sekitar menjadi lantunan musik yang memengaruhi perasaan. Kalau ditanya orang-orang, apa genre musik favoritmu, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎