Mendengar musik mampu membantu fokus, menguatkan memori, dan membuat perasaan bahagia sehingga bisa jadi teman bekerja yang baik. (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Selain masalah luapan emosi yang muncul dan turunan manfaatnya, musik sudah terbukti memengaruhi banyak hal lain bagi manusia. Sebagai contoh, gerakan yang kadang tubuh lakukan secara tak sadar ketika mendengar musik itu tersinkronisasi dengan peningkatan ambang batas rasa sakit, dilansir Tallahassee Memorial HealthCare. Karena sifat itu, sudah banyak terapis berbasis musik yang memanfaatkan suara tersebut untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dirasakan pasien dari penyakit atau pascatindakan medis.
Hebatnya, jenis terapi musik itu tercatat sudah berhasil mengurangi beberapa rasa sakit dari pasien, misalnya rasa nyeri pascaoperasi dan ketegangan fisik. Lantas, musik pun memengaruhi detak jantung dan pernapasan. Untuk yang terakhir itu alasannya karena musik memengaruhi tingkat denyut nadi dan tekanan darah seseorang, tergantung intensitas musik yang didengarkan.
Selain masalah sakit fisik, musik juga sudah terbukti memengaruhi perilaku manusia dalam membeli sesuatu. Sebab, musik punya kemampuan untuk “mengiklankan” sesuatu sampai kita secara tak sadar tersugesti untuk terpengaruh atasnya. Sebagai contoh, musik klasik sering diputar di pusat perbelanjaan untuk merangsang perasaan ingin membeli sesuatu dari calon konsumen. Selain itu, demografi usia punya preferensi musik sendiri guna meningkatkan perasaan dan kemungkinan membeli sesuatu di toko tersebut.
Dari kemampuan yang awalnya dikembangkan untuk bertahan hidup, kini musik sudah jadi teman sehari-hari bagi manusia. Bahkan, ketika suara tidak berasal dari instrumen musik yang asli, otak kita tetap mampu mengubah irama dari suara di sekitar menjadi lantunan musik yang memengaruhi perasaan. Kalau ditanya orang-orang, apa genre musik favoritmu, nih?