Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Posisi Matahari Menentukan Waktu Salat?
ilustrasi matahari terbenam (freepik.com/nikitabuida)

Intinya sih...

  • Posisi matahari menentukan waktu salat dalam Islam karena pergerakannya menjadi penanda alami pergantian waktu, seperti Zuhur, Asar, dan Magrib.

  • Cahaya fajar dan senja hasil pembiasan, hamburan, dan serapan cahaya matahari oleh lapisan atmosfer Bumi.

  • Penjelasan mengenai kenapa posisi matahari menentukan waktu salat menjadi dasar penting bagi setiap muslim dalam menjalankan ibadah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Waktu salat dalam Islam tidak ditentukan sembarangan. Sejak dulu, umat Islam menggunakan tanda-tanda alam sebagai acuan agar ibadah dilakukan tepat pada waktunya. Salah satu penanda paling utama adalah pergerakan matahari yang posisinya berubah secara teratur setiap hari.

Lantas, kenapa posisi matahari menentukan waktu salat? Mulai dari terbit hingga terbenam, setiap posisi matahari berkaitan langsung dengan masuknya waktu salat tertentu. Bahkan saat matahari tidak terlihat, gejala cahaya di langit tetap menjadi petunjuk penting. Untuk memahami hubungan ini lebih jelas, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

1. Kenapa posisi matahari menentukan waktu salat?

Dalam Islam, waktu salat sangat erat kaitannya dengan posisi matahari. Hal ini karena pergerakan matahari bisa diamati secara konsisten dan menjadi penanda alami pergantian waktu. Marufin Sudibyo, pembimbing Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, menjelaskan bahwa untuk salat seperti Zuhur, Asar, dan Magrib, posisi matahari dapat dilihat secara langsung. Misalnya, waktu Zuhur dimulai saat matahari tergelincir dari titik tertingginya, sedangkan Magrib ditandai dengan terbenamnya matahari.

Berbeda dengan itu, waktu Subuh dan Isya tidak ditentukan dari posisi matahari yang tampak, melainkan dari gejala cahaya di langit. Subuh dimulai ketika cahaya fajar muncul di ufuk timur, sedangkan Isya dimulai saat cahaya senja merah di ufuk barat benar-benar menghilang. Meski mataharinya belum terlihat, efek cahaya tersebut tetap berasal dari posisi matahari di bawah horizon.

2. Peran cahaya fajar dan senja dalam menentukan waktu salat

ilustrasi matahari (unsplash.com/Vivek Doshi)

Dijelaskan oleh Marufin Sudibyo, cahaya fajar dan cahaya senja merupakan hasil pembiasan, hamburan, dan serapan cahaya matahari oleh lapisan atmosfer Bumi. Setiap lapisan atmosfer memiliki kerapatan berbeda sehingga cahaya matahari yang datang dari bawah horizon tetap bisa mencapai permukaan Bumi. Inilah sebabnya cahaya fajar sudah terlihat meski matahari belum terbit, dan cahaya senja masih tampak setelah matahari terbenam.

Cahaya fajar yang menjadi penanda awal waktu subuh dikenal sebagai fajar sidik, yaitu cahaya putih kebiru-biruan yang tampak di ufuk timur sementara lingkungan sekitar masih gelap. Warna ini muncul akibat hamburan cahaya dan serapan oleh lapisan ozon di atmosfer. Dalam pandangan mayoritas ulama fikih, kemunculan fajar sidik inilah yang menjadi tanda sah dimulainya waktu subuh.

Sementara itu, awal waktu isya ditandai dengan hilangnya safak merah. Safak merah merupakan sisa cahaya kemerahan di langit barat yang berasal dari proses hamburan Rayleigh.

Itulah penjelasan mengenai kenapa posisi matahari menentukan waktu salat yang menjadi dasar penting bagi setiap muslim dalam menjalankan ibadah. Semoga penjelasan ini dapat menambah wawasanmu, ya.

FAQ seputar kenapa posisi matahari menentukan waktu salat

Kenapa posisi matahari dijadikan acuan waktu salat?

Karena pergerakan matahari bersifat konsisten dan mudah diamati, sehingga menjadi penanda alami masuknya waktu salat.

Apakah semua waktu salat ditentukan dari matahari yang terlihat?

Tidak. Zuhur, asar, dan magrib ditentukan dari posisi matahari yang terlihat, sedangkan subuh dan isya dari gejala cahaya di langit.

Apakah penentuan waktu salat sudah dikaji secara ilmiah?

Ya. Penentuan waktu salat dikaji melalui ilmu falak dan didukung oleh pengamatan astronomi serta landasan fikih.

Editorial Team