ilustrasi matahari (unsplash.com/Vivek Doshi)
Dijelaskan oleh Marufin Sudibyo, cahaya fajar dan cahaya senja merupakan hasil pembiasan, hamburan, dan serapan cahaya matahari oleh lapisan atmosfer Bumi. Setiap lapisan atmosfer memiliki kerapatan berbeda sehingga cahaya matahari yang datang dari bawah horizon tetap bisa mencapai permukaan Bumi. Inilah sebabnya cahaya fajar sudah terlihat meski matahari belum terbit, dan cahaya senja masih tampak setelah matahari terbenam.
Cahaya fajar yang menjadi penanda awal waktu subuh dikenal sebagai fajar sidik, yaitu cahaya putih kebiru-biruan yang tampak di ufuk timur sementara lingkungan sekitar masih gelap. Warna ini muncul akibat hamburan cahaya dan serapan oleh lapisan ozon di atmosfer. Dalam pandangan mayoritas ulama fikih, kemunculan fajar sidik inilah yang menjadi tanda sah dimulainya waktu subuh.
Sementara itu, awal waktu isya ditandai dengan hilangnya safak merah. Safak merah merupakan sisa cahaya kemerahan di langit barat yang berasal dari proses hamburan Rayleigh.
Itulah penjelasan mengenai kenapa posisi matahari menentukan waktu salat yang menjadi dasar penting bagi setiap muslim dalam menjalankan ibadah. Semoga penjelasan ini dapat menambah wawasanmu, ya.
Kenapa posisi matahari dijadikan acuan waktu salat? | Karena pergerakan matahari bersifat konsisten dan mudah diamati, sehingga menjadi penanda alami masuknya waktu salat. |
Apakah semua waktu salat ditentukan dari matahari yang terlihat? | Tidak. Zuhur, asar, dan magrib ditentukan dari posisi matahari yang terlihat, sedangkan subuh dan isya dari gejala cahaya di langit. |
Apakah penentuan waktu salat sudah dikaji secara ilmiah? | Ya. Penentuan waktu salat dikaji melalui ilmu falak dan didukung oleh pengamatan astronomi serta landasan fikih. |