Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Reptil
Reptil (pexels.com/limoo)

Intinya sih...

  • Struktur organ suara reptil tidak berkembang kompleks

  • Bahasa tubuh lebih efektif daripada suara

  • Keheningan membantu menghindari predator dan mangsa

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jika diperhatikan, reptil hampir selalu hadir dalam keheningan. Tidak ada kicau, raungan, atau panggilan panjang seperti pada burung dan mamalia. Kesunyian ini sering memunculkan anggapan bahwa reptil “tidak komunikatif”. Padahal, alasan di balik diamnya justru berkaitan erat dengan evolusi dan fisiologi.

Dalam dunia biologi, tidak semua makhluk hidup mengandalkan suara. Begitu pula reptil yang berkembang dengan strategi berbeda. Biar makin paham, yuk simak penjelasan berikut ini.

1. Struktur organ suara reptil tidak berkembang kompleks

Ular (freepik.com/kuritafsheen77)

Sebagian besar reptil tidak memiliki pita suara sejati seperti mamalia. Organ vokal reptil hanya berupa lipatan sederhana pada laring atau celah glotis. Struktur ini cukup untuk mengeluarkan desisan atau dengusan, tetapi tidak untuk suara kompleks. Makanya, variasi bunyi pada reptil sangat terbatas.

Ular, misalnya, menghasilkan suara dari aliran udara yang dipaksa keluar. Tidak ada modulasi nada atau volume yang kaya. Kondisi inilah yang membuat komunikasi suara tidak berkembang luas.

2. Bahasa tubuh lebih efektif daripada suara

Kadal hijau (pexels.com/Guillaume Meurice)

Alih-alih suara, kebanyakan reptil lebih aktif mengandalkan sinyal visual dibanding sinyal akustik. Gerakan kepala, perubahan warna tubuh, hingga posisi tubuh menjadi alat komunikasi utama. Mengacu pada beberapa penelitian (Poma dkk. 2021; Lin dkk. 2024; Ferrara dkk. 2025), sinyal visual lebih efisien dalam lingkungan mereka. Terutama bagi spesies yang hidup soliter.

Kadal sering melakukan gerakan push-up untuk memperlihatkan dominasi. Ular melingkarkan tubuh sebagai tanda ancaman. Sementara buaya membuka rahang lebar untuk menunjukkan kekuasaan wilayah.

3. Keheningan membantu menghindari predator dan mangsa

Buaya (freepik.com/vladimircech)

Diam adalah keuntungan besar bagi reptil. Tidak bersuara berarti tidak mudah terdeteksi predator atau mangsa. Strategi ini efektif bagi pemburu penyergap. Ular dan buaya adalah contoh nyata.

Bunyi sebaliknya bisa membocorkan posisi mereka. Dengan tetap sunyi, reptil bisa mendekat tanpa disadari. Selain itu, eheningan juga membantu mereka menghindari konflik yang tidak perlu. Dalam evolusi, strategi ini terbukti tepat dan ampuh.

Tidak semua reptil benar-benar bisu

Meski mayoritas reptil jarang bersuara, ada beberapa pengecualian. Gecko dikenal mampu mengeluarkan bunyi mencicit. Buaya dan aligator bahkan menciptakan suara rendah saat musim kawin atau mempertahankan wilayah. Namun, kemampuan vokal ini tetap terbatas dan tidak sekompleks sistem komunikasi suara pada burung atau mamalia.

Dengan memahami cara hidup reptil, kita belajar bahwa komunikasi tidak selalu berbentuk bunyi. Alam menawarkan banyak cara untuk bertahan. Dalam kasus reptil, sunyi adalah bahasa utama. Dan bahasa itu bekerja dengan sangat baik.

Sumber Referensi :

Ferrara, C. R., Jorgewich-Cohen, G., Sousa-Lima, R., Doody, S., & Reber, S. A. (2025). The Diversity and Evolution of Vocal Communication in Nonavian Reptiles. Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics, 56(1), 521-542.

Lin, F. C., Lin, S. M., & Godfrey, S. S. (2024). Hidden social complexity behind vocal and acoustic communication in non-avian reptiles. Philosophical Transactions B, 379(1905), 20230200.

Poma-Soto, F., Narváez, A. E., & Romero-Carvajal, A. (2021). Visual signaling in the semi-fossorial lizard Pholidobolus montium (Gymnophthalmidae). Animals, 11(11), 3022.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team