Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (pexels.com/Krysten Merriman)

Intinya sih...

  • Kumis kucing memberi petunjuk jarak benda di sekitar

  • Kumis membantu membaca aliran udara dan menunjang kemampuan berburu

  • Kumis membantu menjaga tubuh tetap seimbang dan berubah mengikuti pertumbuhan tubuh

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kucing dikenal lincah, luwes, dan menyimpan sisi misteri dalam tubuh mungilnya. Salah satu bagian paling menarik ada pada kumis kucing, helai tipis keras di sekitar moncong yang sekilas tampak biasa tetapi memegang peranan penting. Banyak orang hanya melihatnya sebagai hiasan lucu tanpa menyadari fungsi tersembunyi di baliknya.

Karena itu topik tentang kumis kucing selalu menarik dibahas, terutama saat muncul pertanyaan soal pemotongan helai tersebut. Berikut penjelasan mengenai kumis kucing tak boleh dipotong. Jangan sampai keliru informasi, ya!

1. Memberi petunjuk jarak benda di sekitar

ilustrasi kucing (pexels.com/Andrew N)

Kumis kucing bekerja seperti ‘sensor’ alami karena helai tersebut lebih sensitif dibanding rambut tubuh lain. Setiap helai menancap pada folikel penuh saraf sehingga mampu menangkap getaran udara halus saat tubuh binatang ini bergerak. Informasi dari kumis membantu mengukur jarak benda tanpa menyentuhnya secara langsung sehingga kucing bisa bergerak mantap dalam ruangan gelap. Kemampuan ini sangat berguna saat memasuki lorong sempit karena kumis memberi petunjuk ukuran ruang tanpa harus menggesekkan tubuh terlebih dahulu.

Efeknya terasa nyata saat kucing harus menghindari benda keras atau tepian furnitur. Tubuh tetap aman karena kumis menyampaikan data jarak lebih cepat daripada mata yang memerlukan cahaya. Kucing liar pun mengandalkan bagian ini saat memburu mangsa dalam gelap. Satu goyangan kumis dapat menuntun kaki ke arah langkah aman sehingga gerakan tetap teratur dan presisi.

2. Membantu membaca aliran udara

ilustrasi kucing (pexels.com/Roman Biernacki)

Saat kucing berjalan, udara di sekitar tubuh berubah mengikuti gerakan kaki, ekor, serta arah langkah. Kumis bertugas menangkap perubahan tersebut sehingga kucing mengetahui arah bukaan atau celah tanpa harus mencarinya dengan mata. Aliran angin dari jendela atau lubang ventilasi dapat memberi petunjuk jalur keluar saat kucing tersesat di tempat asing.

Helai yang terpangkas tidak mampu merasakan perubahan udara sedetail sebelumnya. Akibatnya, kecepatan dan ketepatan langkah menurun terutama dalam ruangan minim cahaya. Kucing bisa menghantam benda keras karena tidak memperoleh cukup informasi dari udara di depannya.

3. Menunjang kemampuan berburu

ilustrasi kucing (pexels.com/Alicia Pirson)

Naluri pemburu masih melekat pada tubuh kucing rumahan. Kumis berperan besar saat hewan ini mendekati target, baik tikus maupun serangga. Helai menyentuh udara sekitar mangsa dan mengirim data posisi akurat ke otak sehingga kucing mampu mencengkeram tanpa meleset. Pergerakan halus dari mangsa pun terdeteksi melalui getaran di udara, membuat sergapan lebih tepat sasaran.

Tanpa kumis utuh, kalkulasi arah serangan menjadi kurang terperinci. Cakaran serta gigitan bisa meleset meskipun mata memerhatikan objek secara langsung. Kucing liar sangat bergantung pada fungsi tersebut untuk mendapat makan. Sementara kucing rumahan jadi mudah frustrasi saat gagal menangkap mangsa kecil di dalam rumah.

4. Membantu menjaga tubuh tetap seimbang

ilustrasi kucing (pexels.com/Sergei Ryabov)

Setiap helai kumis terhubung pada sistem saraf. Saraf ini mengirim pemahaman posisi kepala terhadap permukaan tempat kaki berpijak. Selama kumis terbangun utuh, kucing mendapatkan sinyal tambahan selain dari telinga bagian dalam. Perpaduan tersebut memungkinkan kaki mendarat tepat ketika melompat dari permukaan tinggi atau saat melakukan manuver cepat.

Jika kumis dipotong, sinyal tambahan melemah dan kucing kehilangan petunjuk penting. Tubuh menjadi lebih sering terpeleset ketika menyentuh permukaan licin karena informasi pendukung berkurang. Lompatan pun tidak setinggi dan setepat kondisi normal. Pada beberapa kasus, kucing perlu waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dan dapat tampak seperti kehilangan kepercayaan dalam bergerak.

5. Berubah mengikuti pertumbuhan tubuh

ilustrasi kucing (pexels.com/Fred dendoktoor)

Kumis tidak tumbuh asal-asalan. Panjang helai menyesuaikan ukuran tubuh sehingga fungsi pengukuran ruang tetap optimal. Ketika kucing tumbuh makin besar, kumis ikut memanjang sesuai keperluan membawa tubuh melalui celah. Pertumbuhan ini terjadi perlahan tanpa memerlukan campur tangan manusia. Selain itu, kumis rontok secara alami satu per satu lalu tergantikan helai baru sehingga tidak menimbulkan gangguan pada perilaku bergerak.

Apabila kumis dipotong serentak, pertukaran alami terganggu dan waktu pemulihan memanjang. Kucing pun harus melewati fase sulit karena hilangnya pemandu ruang hingga helai pengganti tumbuh. Proses ini bisa memakan waktu berminggu-minggu. Selama periode tersebut, kucing rawan cedera akibat kesalahan langkah.

Bukan sekadar aksen lucu pada wajah, kumis kucing tak boleh dipotong karena menjadi alat navigasi dengan fungsi luas lainnya. Pemotongan sengaja dapat menurunkan kemampuan orientasi, pergerakan, bahkan naluri berburu sehingga kucing mengalami fase serba terbatas. Dengan memahami peran tiap helai, keputusan terbaik ialah membiarkan kumis tetap tumbuh alami sampai luruh sendiri, setuju?

Referensi:

"Never Trim Your Cat’s Whiskers" Falls Village. Diakses pada Januari 2026

"Is It Bad If My Dog or Cat’s Whiskers Get Trimmed? A Veterinarian Explains" Mermaid Vet Hospital. Diakses pada Januari 2026

"Do Cat Whiskers Grow Back? The Ultimate Guide to Whisker FAQs!" Feliway. Diakses pada Januari 2026

"Here’s why you should never cut your cat’s whiskers" East Bay Times. Diakses pada Januari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team