Selama beberapa tahun sejak tabrakan pada September 2022, berbagai instrumen telah memantau sistem asteroid tersebut dengan cermat. Tim menganalisis data dari 22 okultasi bintang, 5.955 pengukuran posisi sistem dari darat, tiga pengukuran navigasi dari pesawat ruang angkasa DART itu sendiri, dan sembilan pengukuran jarak dari darat.
Secara keseluruhan, data ini mengungkapkan bahwa tabrakan tersebut memang memberikan dorongan kecil pada sistem Didymos-Dimorphos, sehingga memperlambat kecepatan orbitnya sekitar 11,7 mikrometer per detik.
Namun di luar angkasa, dorongan sekecil apa pun pada akhirnya dapat mengakibatkan perubahan posisi yang sangat besar. Dalam kurun waktu satu dekade, perubahan sebesar 11,7 mikrometer per detik akan terakumulasi menjadi sekitar 3,69 kilometer.
Ini berarti bahwa dalam rentang waktu yang relevan bagi pertahanan planet—peringatan dini bertahun-tahun atau puluhan tahun, jika kita beruntung—bahkan dorongan sekecil apa pun bisa cukup untuk menggeser asteroid berbahaya menjauh dari Bumi dengan aman.
Misi-misi di masa depan akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang terjadi selama tabrakan. Pesawat ruang angkasa Hera milik Badan Antariksa Eropa (ESA), yang dijadwalkan tiba di sistem Didymos pada akhir dekade ini, akan mempelajari kawah tabrakan yang ditinggalkan oleh DART serta mengukur massa dan struktur asteroid secara terperinci.