ilustrasi salamander (pexels. com/Alban Mehmeti)
Kepunahan amfibi menjadi ancaman serius bagi kestabilan ekosistem karena hewan-hewan ini menempati posisi penting di tingkat menengah rantai makanan, baik sebagai predator yang sangat aktif maupun sebagai mangsa yang krusial. Pada fase larva, berudu memakan alga dan tumbuhan air sehingga mencegah pertumbuhan berlebihan yang dapat memicu eutrofikasi dan menurunkan kadar oksigen di perairan. Sementara itu, katak, kodok, dan salamander dewasa memangsa serangga dalam jumlah besar—termasuk nyamuk, lalat, dan hama pertanian—sehingga membantu menekan penyebaran penyakit dan kerusakan tanaman tanpa bergantung pada pestisida kimia.
Ketika amfibi menghilang, dampaknya merambat ke atas rantai makanan: predator seperti burung, ular, kelelawar, dan ikan kehilangan sumber pakan dan sering kali kesulitan beradaptasi. Hal ini dapat memicu penurunan populasi dan berkurangnya keanekaragaman hayati.
Penurunan populasi amfibi bukan sekadar hilangnya satu kelompok hewan, melainkan peringatan bahwa lingkungan sedang mengalami kerusakan serius. Amfibi sering disebut sebagai “alarm hidup” bagi kesehatan ekosistem, ketika mereka menghilang, itu menandakan air tercemar dan keseimbangan alam terganggu. Melindungi amfibi berarti juga melindungi lingkungan tempat manusia bergantung, melalui konservasi habitat, pengendalian penyakit, dan perubahan cara kita memperlakukan alam.
Referensi
The Environmental Literacy Council. Diakses pada Januari 2026. Why Are Amphibians Sensitive to Pollution?
IFAW (International Fund for Animal Welfare). Diakses pada Januari 2026. Golden Toads
IUCN Red List. Diakses pada Januari 2026. Species on the Red List (State of the World’s Amphibians)
The Nature Conservancy. Diakses pada Januari 2026. Why Are Amphibians the Most Endangered Class of Animals?
Phys.org. Diakses pada Januari 2026. Amphibians Facing Mounting Threats From Droughts Worldwide