Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak sedang menguap
ilustrasi anak yang sedang menguap (unsplash.com/Minnie Zhou)

Intinya sih...

  • Penemuan sel saraf cermin terjadi secara tidak sengaja di Italia pada 1990-an saat mengamati aktivitas kera makaka

  • Sistem mirror neurons bekerja mirip dengan teknologi Virtual Reality dan berperan sebagai landasan biologis untuk perasaan empati manusia

  • Fenomena menguap dan tertawa yang menular, proses perkembangan manusia melalui teknik meniru, serta gangguan autisme yang kesulitan dalam mencerminkan tindakan dan emosi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa ikut menguap saat melihat orang lain melakukannya di depan mata? Atau mungkin kamu mendadak merasa ngilu di bagian kaki saat menonton video orang yang terjatuh di media sosial? Fenomena ini bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil kerja dari sel saraf khusus di otak yang disebut mirror neurons. Sel saraf ini bekerja seperti cermin biologis yang membuat kita bisa merasakan apa yang sedang dilakukan atau dirasakan oleh orang lain.

Kehadiran sistem ini membantu manusia untuk saling terhubung satu sama lain tanpa harus banyak bicara. Tanpa kita sadari, otak kita terus-menerus "mencerminkan" emosi dan tindakan yang ada di lingkungan sekitar kita setiap harinya. Yuk, telusuri lebih lanjut mengenai keajaiban saraf cermin di dalam kepala kita ini!

1. Ditemukan pada tahun 1990-an di Italia saat mengamati aktivitas kera makaka

ilustrasi kera makaka (wikimedia.org/Kpsudeep)

Dilansir laman Association for Psychological Science, penemuan sel saraf cermin atau mirror neurons ini terjadi secara tidak sengaja pada awal tahun 1990-an di Universitas Parma, Italia. Sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Giacomo Rizzolatti awalnya sedang mengamati aktivitas otak pada kera makaka untuk meneliti gerakan tangan saat mengambil makanan.

Namun, sebuah kejadian unik terjadi ketika para peneliti melihat sensor otak kera tiba-tiba menyala saat kera tersebut hanya melihat seorang peneliti mengambil sebuah kacang. Padahal, kera itu sendiri sedang diam dan tidak melakukan gerakan fisik apa pun untuk mengambil makanan tersebut.

Para peneliti pun menyadari bahwa saraf di area premotor kera memberikan respons yang sama terhadap pengamatan tindakan seperti halnya terhadap pelaksanaan tindakan itu sendiri. Sejak saat itu, para ilmuwan mulai menyelidiki apakah mekanisme serupa juga ada pada manusia dan bagaimana dampaknya bagi kita.

2. Memiliki mekanisme yang mirip dengan teknologi virtual reality

ilustrasi virtual reality (unsplash.com/XR Expo)

Sistem mirror neurons di otak manusia bekerja dengan cara yang sangat mirip dengan teknologi Virtual Reality (VR) yang canggih. Melansir National Institute of Health, ketika kamu melihat orang lain melakukan suatu tindakan, otakmu sebenarnya melakukan simulasi mental atau "latihan" secara otomatis di area motorik yang sama. Hal ini memungkinkan otak untuk memproses informasi visual menjadi sebuah pengalaman internal yang terasa sangat nyata bagi sistem saraf.

Secara sains, sistem ini membantu kita untuk "memasuki" pikiran orang lain dan memahami maksud dari tindakan mereka secara instan. Simulasi mental ini terjadi begitu cepat tanpa kita harus secara sadar memikirkan apa yang sedang dilakukan orang tersebut. Dengan adanya mekanisme ini, kita bisa memahami kompleksitas gerakan manusia hanya dengan mengandalkan observasi visual semata. Inilah alasan mengapa menonton pertandingan olahraga bisa terasa sangat mendebarkan seolah-olah kita ikut berada di lapangan.

3. Sebagai landasan biologis untuk perasaan empati

ilustrasi rasa empati (unsplash.com/Annie Spratt)

Selain memproses gerakan fisik, mirror neurons juga dianggap sebagai landasan biologis paling fundamental bagi kemampuan empati manusia. Saraf-saraf ini terhubung dengan sistem limbik di otak yang bertanggung jawab atas pengelolaan emosi dan perasaan kita sehari-hari.

Dilansir laman Henry Ford College, berkat sistem cermin ini, saat kita melihat orang lain menangis atau tertawa, otak kita mencerminkan aktivitas emosi tersebut sehingga kita bisa merasakan hal yang serupa.  Kemampuan ini memungkinkan manusia untuk tidak hanya mengerti perasaan orang lain secara logika, tetapi juga merasakannya secara emosional.

Tanpa adanya fungsi sel saraf cermin yang sehat, kita mungkin akan kesulitan untuk membangun ikatan batin atau memahami penderitaan sesama. Empati menjadi "lem" sosial yang sangat kuat karena didukung oleh mekanisme seluler yang sudah terpatri di dalam otak sejak lahir.

4. Alasan dibalik fenomena menguap dan tertawa yang seringkali menular

ilustrasi tertawa yang menular (unsplash.com/Omar Lopez)

Dilansir laman Psychology Today, fenomena menguap yang menular adalah salah satu contoh paling populer dari cara kerja sistem mirror neurons dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kamu melihat seseorang menguap, sistem cermin di otak memicu respons otomatis yang mendorong otot-otot wajahmu untuk melakukan gerakan yang sama.

Hal yang sama juga berlaku untuk tawa yang menular, di mana suara tawa orang lain dapat mengaktifkan area premotorik otak kita untuk bersiap ikut tertawa. Fakta uniknya, acara komedi di televisi sering menggunakan laugh track atau suara tawa latar justru untuk memicu sistem saraf cermin para penontonnya.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin dekat hubungan emosional kita dengan seseorang, maka semakin besar kemungkinan kita untuk "tertular" uapannya. Sifat "menular" ini sebenarnya adalah bentuk sinkronisasi sosial yang membantu sekelompok makhluk hidup berada dalam tingkat kewaspadaan yang sama. Jadi, jangan heran jika suasana hatimu tiba-tiba berubah mengikuti orang-orang yang ada di sekitar.

5. Berperan dalam proses perkembangan manusia melalui teknik meniru

ilustrasi bayi yang sedang belajar (unsplash.com/Stephen Andrews)

Melansir ScienceDirect, sistem mirror neurons memegang peran yang sangat krusial dalam proses perkembangan manusia, terutama dalam hal belajar melalui teknik meniru. Sejak bayi, kita belajar melakukan berbagai hal seperti tersenyum, bertepuk tangan, hingga berbicara dengan cara memperhatikan gerakan orang dewasa di sekitar kita.

Otak bayi secara aktif mencerminkan setiap ekspresi dan gerakan motorik orangtua mereka untuk membangun peta saraf yang diperlukan dalam berinteraksi. Kemampuan meniru ini adalah cara paling efektif dan cepat bagi manusia untuk menguasai keterampilan baru tanpa harus mendapatkan instruksi lisan yang rumit. Para atlet dan musisi juga sering menggunakan visualisasi atau menonton video profesional untuk mengaktifkan saraf cermin mereka guna mempertajam teknik yang mereka pelajari.

6. Fenomena gangguan autisme yang kesulitan dalam mencerminkan tindakan dan emosi

ilustrasi anak dengan autisme (unsplash.com/Alireza Attari)

Dilansir laman New York University, beberapa penelitian ilmiah telah mengeksplorasi hubungan antara sistem mirror neurons yang kurang aktif dengan tantangan sosial pada gangguan spektrum autisme. Teori yang dikenal sebagai "Broken Mirror Hypothesis" menunjukkan bahwa individu dengan autisme mungkin memiliki kesulitan dalam "mencerminkan" tindakan dan emosi orang lain secara otomatis. Hal ini dapat menjelaskan mengapa beberapa orang dengan autisme kesulitan untuk memahami isyarat sosial yang halus atau berempati secara spontan dengan orang di sekitarnya.

Meskipun teori ini masih terus diteliti lebih lanjut, pemahaman tentang sistem cermin ini memberikan wawasan baru dalam pengembangan terapi interaksi sosial. Para terapis sering kali menggunakan metode meniru atau pemodelan video untuk membantu merangsang koneksi saraf yang berkaitan dengan pemahaman emosional.

Keberadaan mirror neurons di dalam otak kita adalah pengingat yang indah bahwa manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Melalui sistem saraf yang menakjubkan ini, kita diberikan kemampuan alami untuk memahami, meniru, dan berempati dengan orang-orang di sekitar kita. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa lingkungan sosial dan emosional yang kita ciptakan dapat memengaruhi orang lain secara langsung melalui sistem cermin ini. Mari kita manfaatkan "kekuatan cermin" ini untuk menyebarkan hal-hal positif seperti tawa, semangat, dan kasih sayang kepada sesama.

Referensi:

  • Gallese, Vittorio. (2007). Reflections on mirror neurons. Association for Psychological Science (Observer), 20(11).

  • Heyes, Cecilia. (2021). Why we don't need mirror neurons to explain brain-behavior relations. Trends in Cognitive Sciences, 25(9), 719–721.

  • Iacoboni, Marco & Dantzer, Robert. (2012). Mirror neurons and beyond: From action understanding to social cognition. PMC (BMC Medicine), 10(Suppl 1), S14.

  • Masson, Conrado. (2016). Why is yawning contagious? Psychology Today (Neurologic).

  • Mirror News. (2025). Mirror neurons. Mirror News (Henry Ford College).

  • New York University. Mirror neurons and autism: A social perspective. Applied Psychology OPUS

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team