Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Brown Capped Rosy Finch, Burung Pipit Endemik Amerika Utara
potret burung brown capped rosy finch (Leucosticte australis), sang pengembara musim dingin asal Amerika (commons.wikimedia.org/Dominic Sherony)
  • Brown Capped Rosy Finch adalah burung pipit endemik Amerika Utara berukuran 14–16 cm, hidup di dataran tinggi Colorado, New Mexico, dan Wyoming dengan kemampuan bertahan di suhu ekstrem.
  • Burung ini dikenal sebagai 'winter wanderer', bermigrasi antar ketinggian saat musim dingin, memiliki paruh yang berubah warna sesuai musim kawin akibat perubahan hormon.
  • Populasinya menurun lebih dari 50% sejak 1970-an dan kini berstatus Endangered menurut IUCN, terutama akibat perubahan iklim yang mengancam habitat tundra pegunungan bersalju.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Referensi:

  • "Birding Sandia Crest in Albuquerque’s East Mountains: Searching for rosy-finches, three-toed woodpeckers, and other alpine birds". URL: https://newmexicotravelguy.com/birding-sandia-crest/

  • "Brown-capped Rosy-Finch". URL: https://www.allaboutbirds.org/guide/Brown-capped_Rosy-Finch/id

  • "Brown-capped Rosy-finch" .URL: https://datazone.birdlife.org/species/factsheet/brown-capped-rosy-finch-leucosticte-australis

  • "Brown-capped Rosy-Finch". URL: https://wgfd.wyo.gov/media/28762/download?inline

  • "Winter Wanderers: Understanding the Seasonal Movements of Brown-capped Rosy-Finches". URL: https://coloradooutdoorsmag.com/2025/12/01/winter-wanderers-understanding-the-seasonal-movements-of-brown-capped-rosy-finches/

Burung brown capped rosy finch yang memiliki nama ilmiah Leucosticte australis adalah spesies burung pengicau berukuran medium endemik Benua Amerika utara, yang memiliki ukuran panjang tubuh berkisar antara 14 hingga 16 cm. Burung ini adalah anggota genus Leucosticte, yang merupakan genus burung pengicau kecil dalam family burung pipit (Fringillidae). Genus tersebut terdiri atas 3 spesies burung di Amerika utara dan 4 spesies burung di wilayah Asia.

Menurut laman Wyoming game and fish, spesies burung brown capped rosy finch ini adalah spesies monotypic yang artinya tak memiliki subspesies dan individu spesiesnya memiliki ciri fisik yang identik sama di daerah persebaran populasinya. Burung ini memiliki habitat utama di hutan tundra dataran tinggi di wilayah negara bagian Colorado dengan tambahan sebaran populasi terbatas di wilayah negara bagian New Mexico dan wilayah selatan negara bagian Wyoming, Amerika Serikat (AS).

Ingin tahu lebih lanjut mengenai burung yang dijuluki "winter wanderer" atau sang pengembara musim dingin ini? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Penghuni ketinggian dan mampu bertahan di suhu ekstrem

potret burung brown capped rosy finch di Pegunungan Sandia, New Mexico (commons.wikimedia.org/TonyCastro)

Burung brown capped rosy finch ini adalah penghuni ketinggian ekstrem dan berhabitat di lingkungan dengan suhu dingin yang membekukan hingga ia dijuluki sebagai "winter wanderer" atau "sang pengembara musim dingin". Dilansir laman Colorado Outdoors Magazine, burung ini bersarang di celah tebing bersalju pada ketinggian antara 3.500 hingga 4.000-an mdpl yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan sarang spesies burung berukuran kecil Amerika utara lainnya. Sarangnya terbuat dari lumut, rumput dan batang tanaman sebagai dasarnya dengan lapisan rumput halus dan rontokan bulu hewan seperti bulu rusa dan kelinci.

Burung brown capped rosy finch diketahui mampu bertahan hidup pada suhu ekstrem antara minus 20 hingga minus 30 derajat Celcius. Selain itu burung ini merupakan spesies burung yang bersifat altitude migratory atau burung yang bermigrasi antara ketinggian yang lebih tinggi dan lebih rendah bukan perpindahan jarak jauh antar wilayah. Pada kasus burung brown capped rosy finch ini, pada musim dingin ia akan bermigrasi ke ketinggian yang lebih rendah untuk mencari makanan ketika sumber makanan di dataran tingginya tertutup salju beku. Burung ini diketahui mencari makan di hamparan salju dengan memakan serangga dan biji-bijian yang membeku.

2. Warna paruhnya berubah sesuai musim

potret burung brown capped rosy finch yang difoto di negara bagian Colorado (commons.wikimedia.org/Ron Knight)

Salah satu fakta unik dari burung brown capped rosy finch ini adalah warna paruhnya yang berubah sesuai musim. Menurut laman All About Birds, warna paruh berubah selama musim kawin dan musim dingin. Untuk pejantannya, warna paruhnya berwarna kuning selama musim dingin dan berubah menjadi hitam solid selama musim kawin. Untuk betinanya warna paruhnya berwarna kuning selama musim dingin dan berubah menjadi coklat gelap di musim kawinnya. Perubahan warna paruh tersebut disebabkan oleh perubahan hormon saat burung bersiap untuk memasuki musim kawin. Musim kawin terjadi di pertengahan Juni hingga Agustus, betinanya akan bertelur sebanyak 3 hingga 5 butir dan telur akan menetas setelah dierami selama 14 hari.

Secara umum, pola warna pada burung jantan dewasa yang siap berkembang biak sebagian besar berwarna coklat tua di bagian atas, merah muda di bagian bawah dengan tepi sayap dan bagian belakang berwarna merah muda serta bagian ekor berwarna abu-abu gelap. Burung betina dewasa memiliki pola warna yang serupa namun memiliki warna yang tak secerah warna burung jantannya. Untuk burung remaja (juvenile), secara keseluruhan berwarna coklat dengan sayap berpola mencolok dengan sedikit warna merah muda di bagian tepian sayap.

3. Salah satu spot pengamatan terbaiknya ada di Pegunungan Sandia

potret Pegunungan Sandia, New Mexico, salah satu spot terbaik untuk pengamatan burung Brown Capped Rosy Finch di alam (commons.wikimedia.org/Tobyw87)

Salah satu spot pengamatan terbaik burung brown capped rosy finch ini ada di Pegunungan Sandia, sebuah wilayah Pegunungan ikonik di negara bagian New Mexico, AS. Dilansir laman New Mexico Travel Guy, para pecinta flora dan fauna dapat mengamati kehadiran burung tersebut di wilayah Pegunungan Sandia yang dikenal dengan nama Sandia Crest yang merupakan salah satu titik tertinggi Pegunungan Sandia.

Wilayah Pegunungan Sandia adalah salah satu tempat dimana 3 spesies burung rosy finch Amerika utara dapat ditemui secara bersamaan, yakni spesies: gray crowned rosy finch (Leucosticte tephrocotis), black rosy finch (Leucosticte atrata) dan brown capped rosy finch (Leucosticte australis). Menurut pengamatan yang dilakukan, jumlah kawanan burung rosy finch di kawasan Sandia Crest ini bervariasi dari tahun ke tahun tapi umumnya berkisar antara 20 hingga 300 ekor burung. Burung black dan brown capped rosy finch adalah spesies yang lebih umum ditemui sedangkan gray crowned rosy finch merupakan spesies yang lebih jarang berkunjung di wilayah ini.

4. Mulai terancam punah di alam

potret burung brown capped rosy finch di alam liar (inaturalist.org/Court Harding)

Terdapat fakta menyedihkan mengenai burung brown capped rosy finch ini, menurut laman Datazone Birdlife, status konservasi untuk burung ini sebagaimana dinyatakan dalam penilaian IUCN Red List assessment per tahun 2018 adalah: Endangered yang artinya keberadaan di alam liar mulai terancam punah. Populasi burung brown capped rosy finch ini diperkirakan telah mengalami penurunan populasi yang sangat signifikan pada periode antara tahun 1970 hingga tahun 2014.

Secara umum telah terjadi penuruan populasi sekitar 51,5% selama 3 generasi atau sekitar 10,5 tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah karena perubahan iklim dan pemanasan global yang menyebabkan hilangnya habitat pegunungan tinggi dengan hamparan salju, gletser dan wilayah tundra pegunungan yang menjadi habitat utama burung tersebut untuk berkembang biak dan mencari makan.

Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai salah satu burung endemik unik Amerika utara yang mulai terancam punah, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team