Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siput tanpa cangkang.
Siput tanpa cangkang. (commons.wikimedia.org/Alians PL)

Intinya sih...

  • Kehilangan cangkang mengubah perlindungan tubuh moluska

  • Memengaruhi cara moluska bergerak

  • Tanpa cangkang, moluska lebih sulit menghindari pemangsa

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Moluska dikenal sebagai kelompok hewan bertubuh lunak yang sebagian besar dilindungi oleh cangkang. Nah, cangkang bukan sekadar lapisan luar, melainkan bagian penting dari sistem hidup yang terbentuk seiring pertumbuhan tubuhnya. Saat cangkang hilang, perubahan yang terjadi tidak berhenti pada bentuk fisik, tetapi merembet ke banyak hal.

Kondisi ini jarang dibahas, padahal dampaknya jauh lebih kompleks daripada sekadar kehilangan pelindung. Penasaran apa saja kemungkinan yang terjadi pada hewan tersebut? Berikut penjelasan mengenai apa yang benar-benar terjadi ketika moluska kehilangan cangkangnya.

1. Kehilangan cangkang mengubah perlindungan tubuh moluska

Moluska tanpa cangkang. (commons.wikimedia.org/Laura Wolf)

Cangkang berfungsi sebagai perisai utama yang memisahkan tubuh lunak moluska dari lingkungan luar. Tanpa cangkang, permukaan tubuh langsung bersentuhan dengan air, sedimen, atau permukaan keras yang sebelumnya tertahan. Kondisi ini membuat tubuh moluska lebih mudah mengalami luka kecil yang sulit pulih. Selain itu, jaringan lunak menjadi lebih rentan terhadap perubahan suhu dan kadar garam di sekitarnya.

Perubahan ini juga memengaruhi posisi organ di dalam tubuh. Organ yang sebelumnya tersusun mengikuti ruang cangkang harus menyesuaikan ulang tanpa struktur penopang. Akibatnya, efisiensi kerja organ bisa menurun, terutama pada spesies yang secara alami bergantung pada bentuk cangkang tertentu.

2. Memengaruhi cara moluska bergerak

Moluska tanpa cangkang. (commons.wikimedia.org/Sabalo22)

Cangkang berperan sebagai penyeimbang saat moluska bergerak, baik merayap di permukaan maupun berdiam di dasar perairan. Saat cangkang hilang, distribusi berat tubuh berubah secara drastis. Gerakan menjadi lebih lambat karena tubuh harus bekerja ekstra menjaga posisi agar tidak mudah terbalik.

Pada beberapa jenis moluska, perubahan ini juga memengaruhi area pijakan otot kaki. Otot yang sebelumnya bekerja selaras dengan beban cangkang kini kehilangan titik tumpu. Akibatnya, jarak tempuh pergerakan berkurang dan kemampuan menjelajahi ruang baru menjadi terbatas.

3. Tanpa cangkang, moluska lebih sulit menghindari pemangsa

Moluska tanpa cangkang. (commons.wikimedia.org/Rubbish computer)

Cangkang menjadi garis pertahanan pasif yang efektif terhadap banyak pemangsa. Ketika lapisan ini hilang, moluska tidak memiliki waktu tambahan untuk bersembunyi atau menutup tubuh. Tubuh lunak yang terbuka lebih mudah dikenali melalui sentuhan maupun getaran air.

Kondisi ini membuat moluska harus bergantung pada strategi lain, seperti bersembunyi di celah sempit atau aktif pada waktu tertentu. Namun, cara ini tidak selalu berhasil karena tubuh tanpa cangkang memiliki keterbatasan bentuk. Ruang persembunyian yang cocok menjadi semakin sedikit.

4. Berdampak pada keseimbangan cairan tubuh

Moluska tanpa cangkang. (commons.wikimedia.org/Retro Lenses)

Cangkang membantu menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh moluska dengan mengurangi kontak langsung dengan lingkungan. Tanpa cangkang, proses pertukaran cairan berlangsung lebih cepat dan sulit dikendalikan. Tubuh lebih mudah kehilangan cairan atau menyerap zat dari luar secara berlebihan.

Perubahan ini membuat moluska harus terus menyesuaikan diri dengan kondisi sekitarnya. Lingkungan yang sebelumnya aman bisa berubah menjadi tidak stabil. Akibatnya, area hidup moluska tanpa cangkang menjadi lebih terbatas dibandingkan dengan spesies bercangkang.

5. Hilangnya cangkang memengaruhi pertumbuhan dan energi moluska

Moluska tanpa cangkang. (commons.wikimedia.org/Shijan Kaakkara)

Cangkang terbentuk dari hasil metabolisme yang terhubung langsung dengan pertumbuhan tubuh. Ketika cangkang hilang, alokasi energi ikut berubah. Energi yang biasanya digunakan untuk memperkuat struktur cangkang harus dialihkan ke fungsi lain agar tubuh tetap bertahan.

Perubahan pembagian energi ini berdampak pada laju pertumbuhan. Ukuran tubuh bisa berhenti bertambah atau tumbuh lebih lambat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi keberlanjutan hidup moluska, terutama di lingkungan dengan persaingan tinggi.

Moluska kehilangan cangkangnya menunjukkan bahwa struktur luar pada hewan tersebut bukan sekadar pelindung, melainkan bagian yang terhubung langsung dengan fungsi tubuh lain. Perubahan pada satu elemen ini berdampak pada pergerakan, keseimbangan cairan, serta pembagian energi di dalam tubuh. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa tidak semua moluska mampu bertahan hidup tanpa cangkang dalam habitatnya.

Referensi:

"Can Snails Live Without Their Shell?" Aquarium Breeder. Diakses pada Februari 2026

"Ditching the shell" iNat. Diakses pada Februari 2026

"Shell decomposition rates in relation to shell size and habitat conditions in contrasting types of Central European forests" Journal of Molluscan Study. Diakses pada Februari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team