Potret pantai Indonesia (pexels.com/Mifthahul Afif)
Kenaikan permukaan laut merupakan tantangan nyata bagi wilayah pesisir Indonesia yang luas dan padat penduduk. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kenaikan tinggi muka laut berdasarkan data satelit menunjukkan tren naik 4,3±0,4 mm/tahun. Angka ini cukup untuk mempercepat abrasi dan merendam kawasan pesisir rendah, terutama di pantai utara Jawa.
Laporan nasional perubahan iklim memperkirakan kenaikan muka laut 25–50 cm pada pertengahan abad ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya diprediksi semakin rentan terhadap banjir rob dan genangan berkala. Intrusi air laut ke lahan pertanian serta sumber air tawar turut menurunkan kualitas hidup masyarakat pesisir. Tanpa adaptasi dan mitigasi yang kuat, dampaknya akan kian meluas.
Perubahan alam Indonesia dalam dua puluh tahun terakhir memperlihatkan pola yang jelas dan saling terhubung. Hutan menyusut, laut memanas, cuaca berubah, dan biodiversitas tertekan dalam satu rangkaian besar krisis lingkungan. Semua ini terekam dalam data ilmiah, bukan sekadar persepsi atau cerita musiman.
Di sisi lain, fakta-fakta tersebut juga membuka ruang untuk bertindak lebih cepat dan terukur. Kebijakan berbasis sains, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta keterlibatan publik menjadi kunci utama. Masa depan alam Indonesia sangat ditentukan oleh keputusan hari ini. Menjaganya bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan bersama.
Sumber Referensi :
BMKG. 2024. Catatan Iklim dan Kualitas Udara Indonesia 2024. Deputi Bidang Klimatologi badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika Jakarta. Diakses pada 31 Desember.
Retno Gumilang, dkk. 2010. Indonesia Second National Communication Under The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Ministry of Environment, Republic of Indone. Diakses pada 31 Desember.
Climate Scorecard. 2024. Indonesia’s forests: A critical biodiversity and carbon hub. Diakses pada 31 Desember.