Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
14 Sejarah Micronation dari Seluruh Dunia, Unik dan Beragam
Sultan Randy "R Dub!" Williams, pemimpin Republik Slowjamastan (instagram.com/slowjamastan)

Pada tahun 2025, terdapat 195 negara yang diakui di dunia, kecuali dua, Kota Vatikan dan Negara Palestina, yang juga merupakan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rupanya, ada pula micronation atau Bangsa Mikro, suatu bangsa yang mengaku sebagai negara merdeka tapi kedaulatannya tidak diakui oleh komunitas (negara-negara) internasional.

Nah, salah satu micronation tertua yang masih ada, yaitu Kerajaan Sealand. Bangsa Mikro ini didirikan di lepas pantai pada 1967. Namun, masih ada banyak bangsa mikro di seluruh dunia yang sudah ada sejak lama. Beberapa di antaranya bahkan tak kalah hebat, seperti memiliki program luar angkasa, universitas, hingga bahasa sendiri. Berikut adalah beberapa kisah terciptanya micronation paling unik dari seluruh dunia.

1. Kekaisaran Austenasia

Bendera Austenasia, sebuah micronation Inggris. (commons.wikimedia.org/InTheRevolution2)

Pada tahun 2008, Kekaisaran Austenasia didirikan di Inggris Raya. Awalnya hanya terdiri dari empat orang. Namun, pada tahun 2025, populasinya mencapai 148 jiwa. Uniknya, sekitar setengahnya tinggal di luar Inggris.

Austenasia mengklaim dalam website-nya memiliki 38 wilayah yang tidak berdekatan. Pada tahun 2017, kekaisaran ini pernah menyatakan diri sebagai negara Kristen. Meskipun demikian, hukum konstitusionalnya melindungi hak semua warga Austenasia untuk beribadah sesuai keyakinan mereka. Sayangnya, kekaisaran ini pernah mengalami perang saudara, dari Maret hingga Mei 2010.

Di samping itu, selain menyatakan kemerdekaan dari Inggris, Austenasia mengaku sebagai penerus dan kelanjutan dari Kekaisaran Romawi. Bangsa ini mengambil contoh sejarah Charlemagne dan Peter I dari Rusia untuk membenarkan klaim kemerdekaan mereka. Taktik tersebut berhasil. Pada tahun 2011, tak lama sebelum mengundurkan diri, Kaisar Jerman Sebastien Linden mengeluarkan pengakuan resmi terhadap Kekaisaran Austenasia.

Kehidupan Kekaisaran Austenasia bisa dibilang cukup damai sebagai bangsa mikro. Namun, pada tahun 2025, bangsa ini justru diterjang upaya kudeta. Pada Juni 2025, Perdana Menteri Lord Andrew Musgrave mencoba menggulingkan Kaisar Aggelos I, sebelum akhirnya pulih kembali.

2. Kerajaan Asgardiа

Asgardia (instagram.com/asgardia_space)

Kerajaan Asgardia dideklarasikan pada tahun 2016 (tahun 0000 menurut kalender Asgardia) oleh Dr. Igor Ashurbeyli. Bangsa mikro ini berupaya melindungi Bumi sekaligus membangun rumah baru bagi umat manusia di luar angkasa, dengan menciptakan negara digital independen yang diakui oleh negara-negara di Bumi. Asgardia sudah menetapkan Konstitusi, memilih Parlemen, menciptakan mata uang digital, dan meluncurkan satelit ke orbit di sekitar Bumi.

Pada tahun 2025, Asgardia memiliki lebih dari 1,1 juta anggota di seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, lho. Selain itu, pada tahun 2024, Dewan Ruang Angkasa Tertinggi Asgardia dengan suara bulat menerima Deklarasi Kemerdekaan, yang juga mengundang negara-negara di Bumi lainnya untuk menyetujui perjanjian bilateral tentang pengakuan dan kerja sama lebih lanjut. Kemudian pada Januari 2025, sebuah roket diluncurkan yang membawa wahana pendarat Blue Ghost milik Firefly Aerospace. Menuju Bulan, wahana ini berisi Piramida LifeShip, yang menyimpan versi digital dari Bendera Asgardian, Konstitusi, dan lambang negara. Wah, tinggal di luar angkasa ternyata bukan film fiksi ilmiah saja, ya. Ternyata di dunia nyata ada dan sedang diwujudkan.

3. Republik Bebas Liberland

Presiden Liberland, Vít Jedlička, pada tahun 2015 saat acara Partai Kapitalis Norwegia di toko buku "Eldorado" di Oslo. (commons.wikimedia.org/Liberalistene Norge)

Konflik sering kali muncul di Eropa Tengah dan Selatan selama berabad-abad lamanya. Peta regional pun sering diubah berkali-kali. Namun, kartografi di tepi barat Sungai Danube memunculkan terciptanya sebuah bangsa mikro libertarian baru. Sebab, perbedaan pandangan Serbia dan Kroasia tentang lokasi pasti perbatasan antara kedua negara mereka, meninggalkan sebidang tanah tak bertuan.

Pada tahun 2015, Vít Jedlička (presiden saat ini) dan Jana Markovicova menamai wilayah seluas hampir 7 kilometer persegi itu sebagai Republik Bebas Liberland. Para pendirinya berupaya agar wilayah tersebut tidak melanggar wilayah Kroasia atau Serbia. Meskipun begitu, Serbia telah melepaskan klaimnya atas wilayah tersebut.

Seperti banyak bangsa mikro lainnya, Liberland memiliki mata uang sendiri, koin digital yang dapat digunakan penduduk untuk bertransaksi atau membayar pajak. Meskipun hanya sedikit atau bahkan tidak ada peraturan yang diberlakukan terkait ekonominya, Liberland juga mengklaim sebagai negara demokrasi perwakilan. Artinya, Liberland memakai referendum agar suara dari sekitar 1.000 warganya didengar. Secara politik, Liberland diterima dengan hangat oleh Presiden Argentina Javier Milei dan Anggota Kongres AS Ron aul.

4. Republik Zaqistan

Bendera Zaqistan (instagram.com/zaqistanrepublic)

Pada tahun 2005, Zaq Landsberg membeli sebidang tanah yang dijual seharga 610 dolar AS atau setara dengan Rp10,2 juta di eBay, tepatnya tanah di Newfoundland Evaporation Basin di Great Salt Lake, Utah, Amerika Serikat. Pada November tahun yang sama, Republik Zaqistan dideklarasikan merdeka dari Amerika Serikat.

Meskipun merupakan bangsa mikro, sebenarnya agak sulit tinggal di republik tersebut. Sebab, sumber air harus diimpor (mengingat letaknya yang berada di gurun). Hingga saat ini, belum ada negara lain yang secara resmi mengakuinya. Meskipun demikian, Zaqistan memiliki benderanya sendiri yang dirancang oleh seniman New York, Zaq Landsberg, dengan motto Quispiam ex Nusquam, yang jika diterjemahkan berarti "Sesuatu dari Ketiadaan." Di sisi lain, negara ini juga punya sebuah lagu kebangsaan dan beberapa instalasi seni.

5. Republik Slowjamastan

Sultan Randy "R Dub!" Williams, pemimpin Republik Slowjamastan (instagram.com/slowjamastan)

Beberapa bangsa mikro didirikan layaknya negara pada umumnya, tapi ada juga yang didirikan dengan cara yang lebih unik. Begitulah dengan Republik Slowjamastan, yang diciptakan oleh Randy "R Dub!" Williams pada Desember 2021, setelah ia kehabisan negara yang telah dikunjungi. Sekarang ia menjalani pekerjaan tetap sebagai DJ sembari menjadi sultan atas negara bebas pajak yang berbasis di California ini.

Mengenai kemerdekaan, di situs web republik ini ditulis: "Kami memiliki tanah, perbatasan, budaya, dan rakun yang keren sebagai logo atau hewan nasional. Jadi kami adalah sebuah negara. Jangan melawannya."

Terlepas dari humornya, pengunjung tetap membutuhkan visa untuk memasuki Slowjamastan. Nah, jika ingin menjadi warga negaranya, seseorang harus mengisi kuesioner dan menyetujui persyaratan bangsa mikro tersebut untuk bergabung dengan populasi globalnya yang berjumlah sekitar 20.000 jiwa. Adapun, republik ini memiliki mata uang, yaitu duble. Selain itu, hukumnya juga tidak banyak, tapi bukan berarti tidak ada. Nah, salah satu yang paling ketat adalah larangan mengenakan sandal Crocs di bangsa mikro ini.

Referendum pun digunakan untuk menentukan olahraga nasional Slowjamastan, buah-buahan, dan nama rakunnya. Pada tahun 2027, Republik ini akan bersama-sama menjadi tuan rumah MicroCon 27, sebuah pertemuan dua tahunan para pemimpin dari bangsa-bangsa mikro lain di seluruh dunia.

6. Kerajaan Aigues-Mortes

Pemimpin Kerajaan Aigues-Mortes (instagram.com/principaute_aiguesmortes)

Pembentukan Kerajaan Aigues-Mortes di Montpellier, Prancis, dilakukan untuk merayakan ulang tahun Olivier Martinez yang ke-40, pada tahun 2011. Olivier Martinez sendiri memutuskan untuk berparodi sebagai karakter "Dynasty" Alexis Colby. Nah, uniknya, dengan memakai sepatu hak tinggi, ia keliling kota kelahirannya bersama beberapa temannya.

Selama berkeliling itu, terdengar teriakan "Vive la Princesse!" yang bergema di Grand Rue. Disinilah ide kerajaan pun lahir. Oliver Martinez sendiri dinobatkan sebagai Yang Mulia Putri Olivia-Eugénie dari Aigues-Mortes, temannya yang bernama Jean-Pierre Pichon dijuluki Yang Mulia Pangeran Jean-Pierre IV. Ide yang dimulai sebagai lelucon ini justru berkembang menjadi sebuah promisi bisnis lokal yang saat itu sedang berjuang di tengah resesi.

Pada tahun 2012, pasangan pangeran dan ratu ini diakui oleh rakyat Aigues-Mortes. Sejak saat itu, kerajaan tersebut telah membentuk sebuah asosiasi untuk meluncurkan bank, kabinet, dan parlemennya sendiri, serta mencetak mata uangnya sendiri, yaitu flamant. Nah, untuk menjadi warga negaranya, seseorang harus berusia minimal 21 tahun, bisa berbicara bahasa Prancis, dan tinggal di Aigues-Mortes, Québec, atau negara Eropa lainnya selama minimal 12 bulan. Secara internasional, Aigues-Mortes mengklaim memiliki banyak kedutaan di seluruh dunia dan menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan banyak bangsa mikro lainnya.

7. Christiania

Kota Bebas Christiania di Kopenhagen, Denmark (commons.wikimedia.org/Pudelek)

Micronation Christiania di Denmark, berada di Enklave atau di jantung Kopenhagen. Bangsa mikro ini didirikan pada tahun 1971 oleh sekelompok orang, yang dipimpin oleh jurnalis Jacob Ludvigsen. Mereka mengambil alih bekas pangkalan militer Bådsmandsstræde, di wilayah yang dulunya bernama Christianshavn, dan mendirikan rumah mereka di sana. Setelah itu, Ludvigsen mendeklarasikan kemerdekaannya dari pemerintah Denmark.

Christiania justru terkenal sebagai tempat yang didominasi kekerasan, mengingat narkoba merajalela di negara tak diakui ini. Reputasi buruk ini pun masih melekat hingga saat ini. Pada tahun 1989, pemerintah Denmark memberikannya status "eksperimen sosial" dan beberapa kali menindak kejahatan di Christiania. Namun, campur tangan tersebut disambut dengan perlawanan sengit dari sekitar 1.000 penduduknya.

Di sisi lain, Christiania berkembang sebagai sebuah komunitas artistik yang berorientasi pada keberlanjutan dan berkomitmen untuk melestarikan budaya mereka. Jadi tidak sembarangan orang bisa tinggal di negara ini. Di sisi lain, mobil dan narkoba tak lagi diizinkan. Nah, untuk menjaga keselamatan semua orang, pengunjung diimbau untuk mematuhi peraturan yang ditampilkan secara jelas pada papan informasi dalam berbagai bahasa.

8. Republik Gletser

Bendera Republik Gletser yang dibuat oleh Greenpeace (commons.wikimedia.org/Flagvisioner)

Di Chili, terdapat 2.2791 kilometer persegi lahan yang tertutup es. Kemudian pada tahun 2014, Greenpeace memanfaatkan celah hukum untuk mengklaim lahan tersebut sebagai negara baru. Matías Asún, direktur Greenpeace Chili, mengatakan bahwa pembentukan Republik Gletser merupakan kritikan terhadap kurangnya kepedulian pemerintah akan wilayah beku ini, yang mencakup 82 persen gletser di Amerika Selatan, sebagaimana yang dikutip Atlas Obscura.

Bangsa mikro ini sebenarnya memenuhi semua persyaratan kenegaraan yang ditetapkan oleh Konvensi Montevideo, seperti memiliki Deklarasi Kemerdekaan, bendera, dan menggunakan kantor internasional Greenpeace sebagai kedutaan. Ibu kota negaranya berlokasi di Andes. Masyarakat didorong untuk mendaftar sebagai warga negara dan membantu melindungi gletser dari ancaman perusahaan pertambangan.

Hingga saat ini, sekitar 165.000 orang telah mendukung Republik Gletser. Kendati begitu, micronation ini belum menerima pengakuan resmi dari anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, jika undang-undang disahkan untuk melindungi gletser, Greenpeace akan mengakhiri klaim kedaulatan tersebut.

9. Kadipaten Westarctica

Bendera Kadipaten Westarctica (commons.wikimedia.org/Aerra Carnicom)

Didirikan pada tahun 2001, Westarctica (sebelumnya Wilayah Achaean Antartika) mencakup 1.600.000 kilometer persegi dari wilayah Antartika. Bangsa mikro ini digagas oleh Travis McHenry, karena ia memanfaatkan celah dalam Perjanjian Antartika tahun 1959. Perjanjian tersebut tertulis bahwa benua itu hanya boleh ditempati untuk tujuan penemuan ilmiah, meskipun tidak berlaku untuk individu.

Travis McHenry mengklaim wilayah yang disebut Tanah Marie Byrd ini, dan mengubah namanya menjadi Westarctica pada tahun 2004. Awalnya, McHenry berupaya melindungi wilayah tersebut. Namun, Angkatan Laut AS memaksanya untuk memilih pekerjaannya atau memimpin bangsa mikro itu, McHenry pun memilih mengundurkan diri sebagai Adipati Agung pada tahun 2006.

Nah, empat tahun kemudian, Travis McHenry melakukan kudeta dan merebut kembali gelarnya. Ia menghidupkan kembali Westarctica dengan tujuan baru, yakni berfokus pada permasalahan perubahan iklim yang menghangatkan wilayah Antartika lebih cepat daripada wilayah lain. Akibatnya, McHenry, bersama dengan sekitar 2.500 warga, berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran akan krisis lingkungan, serta mempelajari dan melestarikan wilayah yang luas dan terpencil ini.

10. Kadipaten Agung Flanders

Niels Vermeersch bersama ratu Ladonia dari Kadipaten Agung Flanders dalam Konferensi Mikronasional Polination di London. (commons.wikimedia.org/Lyam Desmet)

Banyak bangsa mikro di seluruh dunia menyambut wisatawan dengan tangan terbuka. Namun, situs web resmi Kadipaten Agung Flandrensis justru punya pesan yang berbeda, nih. Pesannya adalah: "Satu-satunya negara di dunia yang tidak ingin tanahnya dihuni oleh manusia!"

Pada 2008, Niels Vermeersch dari Belgia alias Adipati Agung Niels dari Flandrensis, awalnya menciptakan bangsa mikro ini untuk mengklaim lima pulau Antartika lewat Perjanjian Antartika 1959, sama halnya dengan Westarctica. Saat ia mengembangkan konsep tersebut, ia menyadari ada potensi lain. Nah, dengan bantuan lebih dari 1.100 warga di 83 negara, Flandrensis dibentuk untuk menjadi cagar alam bagi penelitian ilmiah.

Niels Vermeersch memimpin pemerintahan tersebut. Flandrensis pun memiliki beberapa konsulat global, mata uang sendiri, prangko, dan tim sepak bola. Tidak seperti banyak bangsa mikro lainnya, Flandrensis memiliki beberapa pengakuan resmi. Negara ini merupakan pengamat terakreditasi di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

11. Kekaisaran Atlantium

Bendera Kekaisaran Atlantium (commons.wikimedia.org/X)

George Cruickshank, Geoffrey Duggan, dan Claire Duggan asal Australia, mendirikan Empire of Atlantium pada tahun 1981. Berbasis di New South Wales, Australia, bangsa mikro ini berkembang menjadi negara yang kompleks. Negara yang tak diakui ini memiliki populasi tetap, wilayah, pemerintahan, dan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan negara lain, sesuai dengan Konvensi Montevideo 1933.

Saat ini dipimpin oleh Kaisar George II, bangsa mikro ini mengadopsi bahasa Latin sebagai salah satu dari dua bahasa resminya, karena hubungannya dengan sistem yang mendasari Empire of Atlantium. Ibu kota dan lokasi pemerintahannya (yang juga merupakan tempat sewa Airbnb) adalah Provinsi Aurora, wilayah yang diklaim oleh Atlantium.

Populasi Atlantium tersebar di seluruh dunia dan mencerminkan tujuan mendasar bangsa mikro tersebut. Negara ini juga menegaskan bahwa kedaulatan di dunia modern tidak harus selalu terkait dengan geografi. Itu sebabnya, semua orang memiliki hak untuk memilih menjadi warga negara suatu negara, terlepas dari apakah mereka lahir di sana atau tidak.

12. Republik Kugelmugel

Republik Kugelmugel, Prater, Wina (commons.wikimedia.org/MOs810)

Seniman Austria bernama Edwin Lipburger merupakan pecinta bentuk bola. Ia dan putranya yang bernama Nikolaus membangun bola berdiameter 7,6 meter, yang dikenal sebagai kugel, pada tahun 1970. Namun, bangunannya melanggar peraturan lokal yang melarang bangunan berbentuk bola. Ketika diminta untuk membongkarnya, Lipburger menyatakan bahwa kugel sebagai sebuah kotapraja. Ia pun menamakannya Kugelmugel, atau bola di atas bukit, dan membuat rambu jalan.

Sayangnya, Edwin Lipburger dipenjara selama delapan minggu pada tahun 1979 karena rambu-rambu tersebut. Meskipun begitu, bangunan yang dibuatnya tidak dihancurkan. Pada tahun 1980, seorang politisi menyarankan agar Kugelmugel dipindahkan ke taman umum Vienna Prater. Lipburger pun setuju, asalkan taman tersebut menjadi fasilitas umum. Namun, fasilitas tersebut tidak tersedia untuk umum. Alhasil, perselisihan pun terjadi.

Edwin Lipburger mengakui taman umum itu sebagai wilayah kekuasaannya, yang ia beri nama Antifaschismusplatz. Wilayah itu pun dikelilingi kawat berduri. Nikolaus Lipburger mengambil alih kepresidenan Republik Kugelmugel setelah ayahnya wafat pada tahun 2015. Adapun, bangsa mikro ini memiliki sekitar 600 warga yang dapat berkunjung dengan membuat janji terlebih dahulu atau ketika bangunan kontroversial tersebut menyelenggarakan pameran.

13. Ladonia

Ratu Carolyn dari Ladonia setelah penobatannya. (commons.wikimedia.org/Kulib)

Seniman Swedia Lars Vilks menyelesaikan patung Nimis-nya di cagar alam Skåne pada tahun 1980. Namun, ia terseret masalah hukum berkepanjangan hingga berujung ke Mahkamah Agung. Pembentukan micronation Ladonia pun terjadi pada tahun 1996.

Di sisi lain, Vilks terus mengembangkan karya seninya itu, sampai-sampai ia kembali menghadapi permasalahan hukum di pengadilan. Tak hanya itu, terjadi dua insiden pembakaran pada tahun 1985 dan 2016. Vilks sendiri meninggal dalam kecelakaan mobil pada tahun 2021.

Di tengah semua kekacauan itu, Ladonia terus berkembang sebagai bangsa mikro yang maju. Negara ini membentuk pemerintahan, memilih seorang presiden, yang kemudian berkembang menjadi jabatan perdana menteri, dan menobatkan seorang ratu—saat ini dipimpin Carolyn I—ratu kedua dalam sejarah micronation tersebut. Adapun, raja justru dilarang di Ladonia. Nah, hingga Juni 2025, terdapat 30.060 warga negara yang terdaftar.

14. Kerajaan Talossa

Bendera Kerajaan Talossa (commons.wikimedia.org/Aerra Carnicom)

Kerajaan Talossa memiliki bahasa dan parlemen sendiri, prangko, koin, asosiasi pers, dan menjadikan Gloria Estefan sebagai penghibur nasionalnya. Kerajaan Talossa sendiri memisahkan diri dari Amerika Serikat pada tahun 1979 dan berlokasi di kamar tidur seorang remaja Wisconsin bernama Robert Ben Madison. Awalnya, ia mengajak keluarga dan teman-teman, tetapi, pada tahun 1990-an, berkat internet, ia berkembang menjadi micronation seperti sekarang ini. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus.

Perselisihan politik tentang imigrasi dengan Fritz von Buchholtz dan akses yang lebih luas terhadap dukungan untuk mempelajari bahasa Talossa pada tahun 2004 dan 2005 mendorong Robert Ben Madison untuk mengundurkan diri. Talossa saat ini diperintah oleh Raja TXEC setelah pengunduran diri Raja John pada tahun 2024. Seorang warga menggambarkan kerajaan tersebut sebagai: "Ada banyak hal yang bisa dilakukan di Talossa. Politik, bahasa, musik, olahraga, dan yang terpenting, kesenangan semata. Kami bukan hanya negara hukum, kami adalah negara rakyat. Talossa adalah cara berpikir. Talossa adalah budaya," demikian menurut situs web tersebut.

Siapa sangka ya ada sebuah wilayah yang mendeklarasikan kemerdekaannya, tapi tak dianggap oleh negara-negara resmi lainnya. Hal unik ini memang tak selalu terjadi, tapi bukannya tidak ada. Kira-kira kamu tertarik tidak untuk mengunjungi salah satu bangsa mikro ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team