Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi simbol Satanisme
ilustrasi simbol Satanisme (commons.wikimedia.org/Courtney Brooke)

Agama Kristen mendominasi sejarah dan banyak budaya selama ribuan tahun lamanya. Jadi, jika ada sesuatu yang menyimpang dari ajarannya, tentu saja hal ini membuat geram umat Kristen. Contohnya saja adanya Satanisme.

Kamu mungkin sering mendengar istilah ini setelah dipublikasikannya Epstein Files. Yap, dalam dokumen kasus perdagangan Jeffrey Epstein ini rupanya menguak kultus ritual yang berkaitan dengan Satanisme dari para elit global. Awalnya hanya teori konspirasi, tapi hal ini dianggap benar adanya.

Sejujurnya, Satanisme ditakuti karena kultus ritual mereka yang di luar akal sehat. Jubah hitam yang mereka kenakan juga identik dengan aksi-aksi jahat mereka, khususnya saat mengontrol sistem pemerintahan. Di samping itu, konsep kejahatan yang bertentangan dengan ajaran Tuhan ini sudah ada lebih dari 500 tahun sebelum kehadiran Yesus, seperti yang dijelaskan World History Encyclopedia. Namun, kenapa ada orang yang menyembah figur jahat seperti itu, ya?

Ternyata, sejarah Satanisme itu sangat rumit dan berbelit-belit, mirip seperti sejarah dari Setan itu sendiri. Sejarahnya membentang selama berabad-abad dan punya banyak sekali interpretasi, atau hampir sebanyak jumlah penganut Satanisme saat ini. Nah, berikut ini kita akan membahas sejarah Satanisme.

1. Sebelum adanya agama Kristen, Setan bukanlah musuh atau entitas jahat

Umat ​​Kristen Awal Beribadah di Katakombe Santo Calixtus (commons.wikimedia.org/Aavindraa)

Mungkin kamu baru tahu, rupanya, orang Kristen awal, menganggap otoritas Romawi yang gemar mengeksekusi atau bahkan sesama orang Kristen dengan gagasan doktrinal yang berbeda, seperti kaum Arianis, sebagai musuh mereka. Setan (Satan) sendiri justru bukanlah figur yang mereka takuti apalagi mereka benci. Kenapa bisa begitu?

Dulu, Setan bukanlah musuh utama Kekristenan sampai berabad-abad lamanya setelah berdirinya agama tersebut. Tapi, bukan berarti tidak ada semacam Iblis dalam ajaran keagamaan sebelum itu. Dikutip BBC, agama lain seperti Zoroastrianisme memiliki konsep yang cukup mirip dengan Setan. Mereka percaya tentang kejahatan yang diwakili oleh entitas yang dikenal sebagai Ahriman.

Nah, butuh berabad-abad bagi Setan untuk muncul sebagai pemimpin kegelapan yang serupa dalam ajaran Kristen. Alkitab sendiri jarang menyebutkan sosok seperti itu. Apalagi Setan digambarkan sebagai semacam jaksa penuntut di pihak Tuhan dalam Perjanjian Lama.

Setan yang bersifat kebinatangan, yang bertentangan secara diametral dengan segala kebaikan dan dipengaruhi oleh gambaran dewa-dewa pagan, sebenarnya muncul pada Abad Pertengahan, lho. Pada periode ini, Setan bukan lagi sekadar penegak hukum, melainkan makhluk jahat yang berupaya menjatuhkan umat Kristen di seluruh dunia.

2. Kisah-kisah tentang pemuja setan menakuti umat Kristen di Abad Pertengahan

Codex Gigas, yang dikenal sebagai "Alkitab Setan", adalah manuskrip abad pertengahan terbesar di dunia (commons.wikimedia.org/Kungl. biblioteket)

Mengingat Setan bukanlah musuh di awal Kekristenan, gagasan tentang pemuja Setan yang dimaksud untuk menghormatinya juga dianggap tidak lazim. Pertanyaannya, apakah pemuja Setan di Abad Pertengahan benar-benar ada?

Beberapa sumber kontemporer mengklaim bahwa ordo seperti Ksatria Templar dan kelompok agama seperti Cathar bersekutu dengan Setan, seperti yang ditulis oleh Student Historical Journal. Namun, hal ini belum bisa dibuktikan keakuratannya. Bisa jadi, para bapa Gereja, yang khawatir dengan munculnya ordo-ordo kuat yang mengancam untuk melemahkan otoritas mereka, mengarang pernyataan tersebut.

Namun, hal itu juga bisa dikaitkan dengan praktik pagan yang masih ada, meskipun gagasan tersebut tetap bersifat spekulatif. Menarik untuk dicatat bahwa, beberapa kisah paling awal tentang teori konspirasi Setan yang dilakukan oleh para penyihir disambut dengan skeptisisme oleh berbagai kalangan.

Ada pula dugaan bahwa sekelompok orang berpartisipasi dalam pemujaan Setan yang terorganisasi. Jadi, jika pemujaan Setan mereka ketahuan, akan ada penyiksaan dan pembunuhan. Kelompok ini kemungkinan disebut "Luciferian," yang aktif di Jerman abad ke-13.

Kaum Luciferian meyakini bahwa Setan telah diusir dari surga karena difitnah. Mereka berpendapat bahwa menyembah Setan dan pasukannya akan membawa mereka ke surga setelah Lucifer berhasil menggulingkan Tuhan Kristen. Seperti yang mungkin kamu duga, mereka menerima sambutan yang sangat dingin dari otoritas Kristen pada waktu itu.

3. Setan menjadi anti-hero yang sangat menarik di abad ke-17

ilustrasi John Milton saat membacakan Paradise Lost (commons.wikimedia.org/Anton Von Bojanowski)

Meskipun ada kelompok-kelompok pemuja Setan yang tersebar di seluruh Eropa pada Abad Pertengahan, tapi bisa dipastikan bahwa kepercayaan mereka tidak populer di lingkungan yang mayoritasnya beragama Kristen. Namun, seiring berjalannya waktu, gagasan tentang Setan sebagai penjahat yang mengerikan, yang dilukis dengan gambar-gambar menjijikkan dari para seniman Abad Pertengahan, justru menerima penolakan.

Ironisnya, salah satu sumber terkenal tentang pemujaan Setan berasal dari umat Kristen yang taat, yaitu John Milton. Sejujurnya, Milton adalah seorang Kristen yang cukup liberal, setidaknya untuk Inggris pada abad ke-17, seperti yang dikutip Britannica. Namun, ia menulis puisi epik yang berjudul Paradise Lost, dan menampilkan Setan sebagai entitas yang gelap, murung, dan sangat individualis dalam puisi tersebut. Namun, dalam penggambaran yang bisa dibilang romantis.

Apakah puisi tersebut merupakan Satanisme? Tidak. Namun jelas bahwa karya John Milton punya dampak yang sangat besar, sampai-sampai beberapa orang tanpa ragu mengagumi beberapa karakteristik Setan ini. Bahkan ada yang membandingkannya dengan karakter nasional Amerika Serikat.

4. Beberapa buku mantra abad ke-18 bertuliskan tentang perjanjian dengan Setan

salah satu halaman dalam buku Grand Grimoire (commons.wikimedia.org/Crowley222(esoterica)@crowleyesoterica,w.uriel)

Pada abad ke-18, pemujaan Setan tampaknya masih diminati, mengingat adanya beberapa buku mantra yang berisi petunjuk tentang bentuk Satanisme awal. Nah, dua buku yang dimaksud itu adalah Grand Grimoire dan Grimorium Verum, yang berisi instruksi untuk memanggil Setan.

Dilansir Encyclopedia.com, Grand Grimoire konon berasal dari tulisan Raja Salomo sendiri, meskipun sulit untuk mengonfirmasi fakta tersebut. Pasalnya, buku itu muncul pada abad ke-18, dan berisi tentang pedoman untuk memanggil dan berurusan dengan setan. Demikian pula, Grimorium Verum, yang juga konon berisi kebijaksanaan Raja Salomo, tetapi muncul pada abad ke-16. Buku ini memberikan petunjuk untuk memanggil Setan—dengan asumsi, dapat memahami teks yang padat dan rumit tersebut.

5. Adanya misa hitam Satanisme yang diadakan di Eropa pada abad ke-18

ilustrasi penodaan terhadap hosti selama misa hitam (commons.wikimedia.org/Unknown XIXe s)

Pada abad ke-17, Paris adalah tempat yang berbahaya. Setidaknya jika hidup di era Raja Louis XIV. Tentu, Raja Matahari ini terbilang sangat kaya dan berkuasa, tetapi istananya penuh dengan pengkhianatan. Jadi, banyak yang menduga bahwa di istananya terdapat pemujaan setan. Benarkah begitu?

Nah, itulah tuduhan yang muncul selama Affair of the Poisons (Peristiwa Racun) yang menggemparkan di Paris. Intinya, sebagian dari perebutan posisi di antara selir raja ini membuat seorang perempuan bernama Madame de Montespan, sangat menginginkan perhatian Raja Louis XIV. Madame de Montespan pun menemui Catherine Deshayes Monvoisin (La Voisin), seorang peracun terkenal, untuk menyingkirkan saingannya. Terlebih lagi, Madame de Montespan diduga menjadi salah satu dari sejumlah bangsawan yang menganut Satanisme untuk keuntungan duniawi.

Ketika kejadian itu terungkap, seorang pendeta bernama Étienne Guibourg terungkap sebagai penyelenggara misa hitam Setan yang bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari Setan, menurut buku Magic as a Political Crime in Medieval and Early Modern England. Ritual tersebut melibatkan beludru hitam, nyanyian, simbol alkimia, dan pengorbanan anak. Namun, seperti yang diungkapkan dalam buku Satanism: A Social History, pengakuan Guibourg diambil di bawah tekanan dan siksaan. Jadi pengakuannya tidak dianggap sebagai bukti yang jelas adanya kelompok Setan terorganisasi di Paris pada abad ke-18 atau di tempat lain. Pengakuan tersebut semakin membingungkan karena intrik politik dan kerahasiaan yang berkaitan dengan raja.

6. Masyarakat Victoria memandang Setan sebagai sosok simbolis

Madame Helena Blavatsky (commons.wikimedia.org/Internet Archive Book Images)

Meskipun memang ada banyak orang Victoria yang percaya pada Alkitab dan beragama Kristen, kemajuan abad ke-19 justru membuat banyak orang semakin skeptis. Bahkan Setan sendiri, penjahat yang ditakuti di mata banyak orang, justru disembah menjadi simbol politik. Setan juga diakui sebagai anti-hero yang menarik dalam budaya sastra di era tersebut.

Namun, Setan juga dianggap sebagai tokoh religius di abad ini. Yap, okultis Aleister Crowley menggunakan Setan sebagai simbol dalam karyanya. Kendati demikian, ia tidak percaya tentang gagasan Setan secara tradisional yang hidup di neraka dan melawan kerajaan Surga.

Aleister Crowley, bersama dengan seniman dan penulis William Blake, malah menggambarkan Setan sebagai anti-hero. Nah, itulah kenapa Crowley menganggap Setan sebagai tokoh yang layak diteladani dan dihormati.

Selain itu, Setan juga dianggap sebagai figur spiritual. Madame Helena Blavatsky, pendiri Teosofi mistik, menjadikan Setan sebagai figur pemberontak yang patut dikagumi. Ia juga menggunakan Satanisme untuk menarik orang-orang yang suka menentang arus utama.

7. Perbedaan antara Satanisme rasional dan Satanisme teistik

aksi unjuk rasa The Satanic Temple di Erfurt pada 2024 (commons.wikimedia.org/Montgomery82)

Secara garis besar, kelompok-kelompok Satanisme dibagi menjadi dua kelompok, yang menggunakan Setan sebagai simbol tanpa percaya pada sosok tersebut, dan yang menyembah Setan. Nah, yang disebut Satanisme rasional (ateistik) biasanya menjadikan Setan sebagai simbol dalam aktivitas mereka, tetapi ia hanyalah simbol yang tak ada hubungannya dengan aktivitas apa pun.

Sebaliknya, Satanisme teistik didasarkan pada keberadaan Setan yang sebenarnya. Dikutip Learn Religions, sosok ini tidak selalu merupakan iblis utama seperti yang digambarkan dalam Alkitab Kristen. Atau yang berkaitan dengan Luciferian atau penganut Setian modern (anggota Temple of Set atau Kuil Set), yang percaya pada sosok yang sangat mirip dengan Setan. Namun, mereka bukanlah penganut Satanisme dalam arti kata yang sebenarnya. Satanisme teistik sendiri lebih fokus pada kebebasan individu, kreativitas, kesuksesan duniawi, serta keuntungan finansial dan materi.

8. Salah satu kelompok Satanisme pertama yang terkonfirmasi muncul di Ohio, Amerika Serikat

ilustrasi kambing jantan agung (commons.wikimedia.org/Francisco Goya)

Sebenarnya, tidak banyak bukti tentang keberadaan Satanisme religius hingga abad ke-20. Jadi, praktik Satanisme di abad-abad sebelumnya tidak benar-benar membuat masyarakat tertarik dengan Satanisme. Namun, Satanisme akhirnya terdeteksi di Ohio.

Salah satu kelompok Satanisme teistik pertama yang dikonfirmasi adalah kelompok Our Lady of Endor. Kelompok ini muncul di negara bagian tersebut pada tahun 1948, seperti yang diungkapkan pendirinya, Herbert Sloane. Adapun, sebuah artikel singkat dalam edisi Toledo Blade tahun 1968 menyebutkan kelompok Lady of Indore yang beroperasi di Ohio pada saat itu.

Terlepas dari tanggal pastinya, kelompok yang didirikan Herbert Sloane ini adalah salah satu kelompok Satanisme paling awal yang tanpa malu-malu menyebut dirinya sebagai Satanisme. Kelompok ini juga menyatakan kepercayaan mereka secara tulus pada Setan. Seperti yang ditulis Herbert Sloane dalam memo tahun 1968, kelompoknya percaya pada kekuatan spiritual yang secara historis dikenal sebagai "Setan".

9. Gereja Setan menarik perhatian publik karena ritualnya

Anton LaVey memimpin upacara pernikahan berdasarkan Satanisme (commons.wikimedia.org/ United Press International)

Jika membahas tentang Satanisme modern, nama Anton Szandor LaVey tidak bisa dipisahkan. Sebelum mendirikan salah satu kelompok Satanisme paling terkenal dalam sejarah, LaVey sebenarnya lahir dengan nama Howard Stanton Levey. Ia pernah menjadi pekerja karnaval dan pemain organ sebelum dikenal sebagai tokoh kontra-budaya di San Francisco tahun 1960-an.

Namun, pada tahun 1966, Anton Szandor LaVey menjadi viral setelah menobatkan dirinya sebagai imam besar Gereja Setan, yang sebelumnya merupakan perkumpulan mahasiswa okultisme yang menganut prinsip-prinsip aktualisasi diri dan rasionalisme, seperti yang dijelaskan oleh History. Pada tahun 1969, ia memperkuat posisi anti-otoriter gerejanya yang menyeramkan dengan menerbitkan buku The Satanic Bible.

Gereja Setan tidak hanya menarik perhatian publik karena keyakinan Anton Szandor LaVey yang menyeramkan dan kegemarannya mengenakan jubah. Selain itu, LaVey juga mengenakan tudung bertanduk. Gaya berpakaiannya ini pun menjadi ciri khasnya, yang menjadi simbol Satanisme.

Ada juga ritual-ritual mengerikan, tapi tanpa pertumpahan darah. Ritual ini seperti perempuan tanpa busana, yang biasanya menjadi syarat perekrutan anggota baru. Adapun, misa hitam diadakan ketika seorang perempuan menawarkan tubuhnya sebagai altar hidup.

10. Gereja Setan terpecah pada tahun 1970-an

Michael Aquino, mantan tentara AS dan pendiri Temple of Set (commons.wikimedia.org/U.S. Army)

Gereja Setan, yang secara resmi didirikan pada tahun 1966 oleh Anton Szandor LaVey, mampu mengumpulkan sejumlah tokoh dan anti-otoriter. Jadi tidak kaget jika Gereja Setan terpecah menjadi banyak kelompok Setanisme yang berbeda. Salah satu yang paling menonjol adalah Temple of Set, yang didirikan oleh mantan tokoh besar Gereja Setan yang dikenal sebagai Michael Aquino. Seorang mantan perwira Angkatan Darat AS yang ahli dalam operasi psikologis, Aquino adalah seorang pendeta yang "ditahbiskan" di Gereja Setan. Namun, ia kecewa dengan kepercayaan ateistik LaVey dan menciptakan Temple of Set yang lebih spiritual pada tahun 1975.

Seperti yang dicatat dalam The Oxford Handbook of New Religious Movements, ternyata cukup banyak sekte sempalan yang muncul dalam beberapa dekade setelah munculnya Gereja Setan. Sekte-sekte ini seperti First Occultic Church of Man, Church of Lucifer, Joy of Satan, Temple of Hel, Synagogue of Satan, dan masih banyak lagi. Selain itu, dengan munculnya internet, banyak dari sekte-sekte ini yang merekrut anggotanya dengan mudah.

11. Kepanikan terkait Satanisme meyakinkan banyak orang bahwa Satanisme modern masih hidup dan berkembang

ilustrasi simbol Satanisme (commons.wikimedia.org/Courtney Brooke)

Pada tahun 1980-an, ternyata ada penganut Satanisme yang mengadakan misa hitam, mendirikan patung-patung dewa jahat, dan menjual literatur Satanisme mereka. Itu menandakan bahwa histeria terhadap Satanisme masih hidup dan berkembang.

"Kepanikan Satanisme," seperti yang kemudian dikenal, adalah teori konspirasi yang saat itu dikenal luas. Teori ini menuduh bahwa kelompok-kelompok Satanisme rahasia beroperasi di seluruh Amerika Serikat dan sekitarnya. Mereka melakukan ritual berdarah dan melibatkan anak-anak untuk dipersembahkan kepada Setan.

Para penganut Satanisme yang dikenal jahat itu juga mengelola tempat penitipan anak, setidaknya menurut rumor yang beredar luas. Nah, akibat kepanikan tersebut, beberapa yang dituduh terlibat bahkan sampai dipenjara selama puluhan tahun. Kendati begitu, tidak ada bukti bahwa pelecehan dari ritual Satanisme ini terjadi, sejauh yang dituduhkan oleh para penuduh.

Meskipun puncak kepanikan Satanisme terjadi pada tahun 1980-an dan 1990-an, kepanikan semacam ini sebenarnya berakar pada perburuan penyihir Abad Pertengahan dan pemikiran teori konspirasi modern, seperti yang dilaporkan Vox. Sekarang ini dikenal dengan nama QAnon. Nama yang populer setelah dipublikasikannya Epstein Files. Jadi, ketakutan terhadap pemujaan Setan di seluruh dunia tidak pernah benar-benar hilang.

12. The Satanic Temple dan organisasi politiknya

ilustrasi Baphomet (commons.wikimedia.org/Eliphas Levi)

Meskipun Gereja Setan dan kepanikan Satanisme masih ada di era modern, kemungkinan besar keduanya bukanlah aliran Satanisme utama. Aliran Satanisme yang paling ditakuti adalah The Satanic Temple.

Dikutip Vox, The Satanic Temple adalah Satanisme ateistik. Bahkan, organisasi ini lebih tepat digambarkan sebagai organisasi politik. Para anggotanya sibuk mengatur perlawanan terhadap hegemoni agama melalui demonstrasi yang menarik perhatian, seperti ketika The Satanic Temple meluncurkan patung Baphomet.

Para anggotanya ingin memasang patung tersebut di halaman gedung DPR negara bagian Arkansas, tempat monumen Sepuluh Perintah Allah ditempatkan pada tahun 2017. Kendati begitu, patung Baphomet tidak pernah secara resmi dipasang di sana. Namun, pada tahun 2020, monumen Sepuluh Perintah Allah tersebut sedang dalam proses hukum setelah The Satanic Temple, ACLU, dan banyak penggugat lainnya mengajukan gugatan terhadap monumen keagamaan di properti negara bagian.

Mengingat adanya tumpang tindih antara sistem kepercayaan mereka, kamu mungkin kaget kalau anggota Gereja Setan dan The Satanic Temple ternyata tidak bersahabat. Seperti yang dilaporkan TIME pada tahun 2013, beberapa anggota Gereja Setan mempermasalahkan tujuan politik The Satanic Temple yang terang-terangan dan bahkan menyiratkan bahwa organisasi baru tersebut menumpang pada kerja keras Gereja Setan.

Satanisme memang sering diperbincangkan akhir-akhir ini terkait dirilisnya Epstein Files. Diduga, Epstein dan elit besar lainnya mengorbankan anak-anak untuk kultus ritual Satanisme. Meskipun begitu, beberapa masih skeptis dan ada pula yang menganggapnya benar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team