5 Fakta Museum Louvre, Saksi Sejarah dan Kemegahan Seni Prancis

- Museum Louvre awalnya merupakan benteng pertahanan yang diubah menjadi istana megah oleh Raja Francis I pada tahun 1546.
- Piramida Louvre merupakan karya ikonik arsitek.M. Pei yang ditunjuk oleh Presiden François Mitterrand pada tahun 1983 untuk memodernisasi akses museum.
- Sejarah nama Museum Louvre mencerminkan dinamika politik Prancis yang panjang, dimulai dari abad ke-12 saat bangunan ini dikenal sebagai Palais du Louvre (Istana Louvre).
Museum adalah tempat umum nirlaba yang mengelola dan memamerkan warisan sejarah serta budaya untuk tujuan edukasi, penelitian, dan rekreasi masyarakat. Saat ini, ada puluhan ribu museum yang tersebar di seluruh penjuru dunia—mulai dari yang menyimpan artefak purba hingga teknologi masa depan. Namun, jika bicara tentang museum yang paling ikonik dan megah, mata dunia pasti akan tertuju pada satu nama, yaitu Musée du Louvre, alias Museum Louvre di Paris, Prancis. Sebagai museum seni terbesar di dunia, Louvre bukan sekadar gedung tua berisi lukisan, melainkan sebuah labirin keajaiban yang menyimpan jutaan rahasia peradaban.
Tapi, tahukah kamu apa saja hal unik yang membuat museum ini begitu istimewa hingga dikunjungi jutaan orang setiap tahunnya? Yuk, kita bedah satu per satu fakta menarik tentang Museum Louvre dalam artikel berikut ini!
1. Bekas benteng pertahanan

Museum Louvre awalnya merupakan benteng pertahanan yang diubah menjadi istana megah oleh Raja Francis I pada tahun 1546. Selama berabad-abad, hampir setiap raja Prancis memperluas bangunan ini, termasuk Louis XIV yang mengumpulkan banyak koleksi seni berharga sebelum akhirnya memindahkan pusat pemerintahan ke Versailles pada tahun 1682. Setelah sempat terbengkalai sebagai kediaman kerajaan, pemerintah revolusioner Prancis resmi membuka Louvre sebagai museum publik pada tahun 1793. Pembangunan terus berlanjut hingga abad ke-19 di bawah kepemimpinan Napoleon I dan Napoleon III, hingga membentuk kompleks bangunan luas dengan dua halaman besar yang kita kenal sekarang.
Pada akhir abad ke-20, Louvre mengalami renovasi besar-besaran melalui proyek "Grand Louvre" yang memperkenalkan piramida kaca ikonik karya I.M. Pei sebagai pintu masuk utama serta fasilitas bawah tanah yang modern. Transformasi ini mencapai puncaknya pada tahun 1993 ketika seluruh area bangunan akhirnya sepenuhnya digunakan untuk fungsi museum setelah Kementerian Keuangan pindah dari Sayap Richelieu. Memasuki abad ke-21, Louvre terus berkembang secara global dengan membuka cabang satelit di Lens, Prancis, serta menjalin kerja sama internasional dengan dibukanya Louvre Abu Dhabi di Uni Emirat Arab pada tahun 2017.
2. Kontroversi piramida kaca

Piramida Louvre merupakan karya ikonik arsitek I.M. Pei yang ditunjuk oleh Presiden François Mitterrand pada tahun 1983 untuk memodernisasi akses museum. Sebelum merancang, Pei melakukan observasi mendalam selama dua tahun untuk memahami karakter bangunan asli. Ia akhirnya memilih bentuk piramida setelah mempertimbangkan berbagai geometri lain seperti kubus dan bola, karena merasa bentuk piramida paling serasi dengan siluet Louvre yang klasik. Meskipun sempat memicu kontroversi karena kontrasnya gaya modern dengan gaya Renaisans istana, piramida ini dirancang untuk menampung arus pengunjung dari tiga sayap utama melalui kompleks bawah tanah yang sangat luas.
Proses pembangunan piramida ini menghadapi tantangan teknis yang besar, terutama dalam menciptakan kaca yang benar-benar transparan tanpa warna kebiruan atau kehijauan. Perusahaan Saint-Gobain bahkan harus membangun tungku khusus dan melakukan penelitian selama dua tahun untuk menciptakan "Diamond Glass", jenis kaca laminasi ekstra-bening yang kuat tetapi jernih. Struktur megah seberat 200 ton ini terdiri dari 675 kaca belah ketupat dan 118 segitiga yang disangga oleh 6.000 batang logam. Kini, Piramida Louvre telah diterima sepenuhnya oleh masyarakat dan menjadi salah satu simbol arsitektur paling terkenal di dunia yang mempercantik lanskap kota Paris.
3. Pernah berganti nama

Sejarah nama Museum Louvre mencerminkan dinamika politik Prancis yang panjang, dimulai dari abad ke-12 saat bangunan ini dikenal sebagai Palais du Louvre (Istana Louvre). Awalnya dibangun sebagai benteng pertahanan, istana ini kemudian menjadi kediaman resmi para raja sebelum akhirnya dibuka untuk umum pasca-Revolusi Prancis pada tahun 1793. Pada saat itu, namanya diubah menjadi Muséum Central des Arts de la République (Museum Pusat Seni Republik) sebagai simbol bahwa koleksi seni di dalamnya bukan lagi milik pribadi raja, melainkan milik rakyat dan negara.
Saat kekuasaan beralih ke tangan Napoleon Bonaparte, museum ini sempat berganti nama menjadi Musée Napoléon pada tahun 1802 untuk menghormati sang kaisar yang telah memperbanyak koleksi melalui ekspansi militer. Namun, setelah Napoleon kalah pada tahun 1815, nama tersebut dihapus dan dikembalikan menjadi Musée du Louvre. Meskipun sistem pemerintahan Prancis sempat berganti berkali-kali setelahnya, nama "Louvre" tetap bertahan hingga saat ini sebagai identitas ikonik yang dikenal di seluruh dunia.
4. Skala yang sangat masif

Museum Louvre bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, melainkan sebuah "kota seni" dengan skala yang sangat masif. Dengan total luas bangunan mencapai 210.000 meter persegi, area yang digunakan khusus untuk pameran saja seluas 73.000 meter persegi, atau setara dengan 10 lapangan sepak bola. Ruang pameran ini terbagi ke dalam tiga sayap utama, yaitu Denon, Richelieu, dan Sully, yang masing-masing memiliki kemegahan seperti museum kelas dunia tersendiri. Saking luasnya, pengunjung yang ingin menyusuri seluruh lorong galeri diperkirakan harus menempuh perjalanan hingga 24 kilometer.
Di dalam ratusan ruangan yang ada, Louvre memamerkan sekitar 35.000 karya seni dari total koleksi yang mencapai lebih dari 550.000 objek. Sebagian besar harta karun tersebut disimpan dengan aman di ruang penyimpanan khusus dan hanya ditampilkan secara bergilir. Skala monumental ini sering kali membuat pengunjung merasa takjub sekaligus kewalahan, karena melihat setiap detail mahakarya di sana dalam satu hari adalah misi yang hampir mustahil. Oleh karena itu, memahami dimensi Louvre menjadi kunci bagi pengunjung untuk menghargai keajaiban logistik dan sejarah yang tersimpan di balik dinding bekas istana kerajaan ini.
5. Jejak pencurian legendaris

Museum Louvre kembali menjadi pusat perhatian dunia pada 19 Oktober 2025 setelah mengalami pencurian perhiasan kerajaan yang sangat canggih. Hanya dalam waktu tujuh menit, sekelompok pencuri yang menyamar sebagai pekerja berhasil membawa lari sembilan benda berharga milik Permaisuri Eugénie dengan cara memanjat jendela lantai dua. Meskipun alarm berbunyi, para pelaku bekerja dengan sangat efisien dan cepat. Kejadian ini menambah daftar panjang tantangan keamanan di Louvre, sekaligus memicu kekhawatiran mengenai keselamatan harta karun negara yang tak ternilai harganya karena benda-benda ikonik tersebut sulit dijual secara sah tanpa ketahuan.
Sejarah mencatat bahwa pencurian justru sering kali melambungkan popularitas sebuah karya seni, seperti yang terjadi pada lukisan Mona Lisa yang dicuri oleh Vincenzo Peruggia pada tahun 1911. Hilangnya mahakarya Leonardo da Vinci selama dua tahun tersebut memicu kemarahan publik sekaligus rasa penasaran global, hingga ribuan orang datang ke museum hanya untuk melihat ruang kosong di dinding. Setelah ditemukan kembali di Italia pada tahun 1913, Mona Lisa tidak lagi sekadar dianggap sebagai lukisan indah, tetapi berubah menjadi ikon budaya dunia yang kini dilindungi dengan pengamanan super ketat di dalam kotak kaca antipeluru.
Museum Louvre bukan sekadar tempat menyimpan benda kuno, melainkan sebuah simbol hidup yang terus berevolusi mengikuti sejarah. Meski sempat menghadapi berbagai tantangan, Louvre tetap kokoh sebagai penjaga warisan budaya manusia.


















