Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi Bumi
ilustrasi Bumi (pexels.com/Porapak Apichodilok)

Intinya sih...

  • Awal eksperimen pengukuran suhu

  • Pengukuran sistematis suhu Bumi dimulai sekitar tahun 1650–1800-an

  • Tahun 1850, ilmuwan mulai memahami perubahan suhu Bumi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak dari kita bisa mengecek suhu dan ramalan cuaca langsung lewat HP. Tinggal buka aplikasi, kamu bisa tahu apakah hari ini bakal panas terik atau hujan deras. Namun pernah gak sih kamu kepikiran, sejak kapan manusia bisa mengukur suhu Bumi dengan akurat? Teknologi canggih yang kita nikmati sekarang ternyata punya sejarah panjang penuh percobaan dan inovasi.

Faktanya, tidak selalu ada termometer seperti yang kita kenal hari ini. Dulu, manusia hanya memperkirakan suhu berdasarkan rasa panas atau dingin di tubuh mereka. Perjalanan menuju “tahun pertama” manusia mengukur suhu Bumi dimulai ketika ilmuwan akhirnya berhasil menciptakan termometer ilmiah yang bisa mencatat suhu secara sistematis. Dari sinilah era pemanatauan iklim secara lebih akurat resmi dimulai, jadi penasaran kapan tepatnya itu terjadi?

1. Awal eksperimen pengukuran suhu

ilustrasi alat termometer (commons.wikimedia.org/Rama)

Awal perkembangan thermometer menunjukkan perjuangan panjang dalam mencari standar pengukuran suhu yang seragam dan diakui secara global. Meski banyak inovasi bermunculan, seperti thermometer Galilea yang menggunakan bola kaca dan thermometer Florentine yang memanfaatkan manik kaca sebagai skala belum ada kesepakatan universal mengenai titik acuan maupun cairan yang digunakan. Dilansir laman University of Cambridge, Whipple Museum of the History of Science, pada abad ke-18, beberapa termometer menandai suhu berbagai “standar” untuk kepentingan medis, ekonomi, dan meteorologi.

Termometer bola panjang buatan René-Antoine Ferchault de Réaumur (1683-1757) berisi merkuri mencantumkan suhu-suhu seperti titik beku dan didih air, suhu tubuh manusia, air mandi hangat, hingga suhu rumah kaca dan udara terdingin di Paris pada tahun tertentu. Perkembangan ini bukan hanya kemajuan teknologi pengukuran, tetapi juga menjadi dasar penting bagi kemajuan sains, kedokteran, dan pemahaman kita terhadap cuaca dan iklim modern.

2. Pengukuran sistematis suhu Bumi dimulai sekitar tahun 1650–1800-an

ilustrasi pengukuran sistematis suhu Bumi (commons.wikimedia.org/Vicpeters)

Pengukuran sistematis suhu Bumi telah berlangsung sejak sekitar tahun 1650-1800-an, ketika ilmuwan mulai menggunakan termometer modern pertama untuk mencatat kondisi iklim secara ilmiah. Catatan iklim awal sebagian besar terkonsentrasi di Eropa, terutama di Inggris dan Belanda, karena wilayah tersebut memiliki perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dan pencatatan yang baik. Salah satu contohnya adalah Central England Temperature Series yang dimulai pada tahun 1659 dan menjadi fondasi penting dalam analisis perubahan iklim jangka panjang.

Dilansir laman National Aeronautics and Space Administration (NASA), tahun 1659 menjadi awal tahun pertama pengukuran suhu Bumi secara resmi. Kemudian ada juga catatan dari Hadley Centre yang memiliki beberapa pengukuran sejak tahun 1850. Namun data sebelum tahun 1880 terlalu sedikit bagi para ilmuwan untuk memperkirakan suhu rata-rata seluruh planet. Untuk mengatasi hal tersebut, para ilmuwan menggunakan rekonstruksi data dari catatan proksi seperti cincin pohon, hitungan serbuk sari, dan inti es. Karena catatan proksi ini secara fundamental berbeda dari pengukuran langsung, para ilmuwan biasanya tidak memasukkan keduanya dalam grafik yang sama dengan “rekaman instrumental.”

3. Tahun 1850, ilmuwan mulai memahami perubahan suhu Bumi

ilustrasi ilmuwan sedang mengamati perubahan suhu Bumi (commons.wikimedia.org/Richard Williams)

Berdasarkan laporan tahunan dari NOAA National Centers for Environmental Information, catatan perubahan suhu Bumi dimulai sejak tahun 1850. Kemudian 1850-1900 suhu rata-rata permukaan global adalah 2,32 derajat Fahrenheit (1,29 derajat Celsius) di atas rata-rata abad ke-20 (57,0°F atau 13,9°C) dan 2,63°F (1,46°C). Suhu global pada 2024 berada di atas rata-rata 1991-2020 di sebagian besar planet. 10 tahun teratas dengan suhu tertinggi semuanya terjadi dalam satu dekade terakhir (2015-2024), menujukkan tren pemanasan global yang terus meningkat.

Bumi menyerap lebih banyak energi daripada yang dipancarkan kembali ke luar angkasa karena pengaruh gas rumah kaca buatan manusia. Kenaikan sekitar 1°C sejak era pra-industri mewakili tambahan energi panas besar yang berdampak pada lautan, atmosfer, dan daratan.  Mengapa suhu permukaan global itu penting? Karena memengaruhi banyak proses lingkungan seperti siklus air, siklus karbon, dan keberlangsungan berbagai bentuk kehidupan.

4. Dampaknya bagi penelitian iklim masa kini

ilustrasi dampak bagi penelitian masa kini (commons.wikimedia.org/USDA photo by Scott Bauer. Image Number K7688-7)

Pengukuran suhu Bumi pada masa awal menjadi dasar yang sangat penting bagi penelitian iklim saat ini. Tanpa adanya catatan suhu historis, para ilmuwan tidak akan mampu membandingkan kondisi masa lalu dengan kondisi saat ini, sehingga perubahan iklim dan tren pemanasan global tidak dapat terdeteksi secara akurat. Data awal inilah memungkinkan kita memahami bahwa suhu Bumi terus meningkat sejak Revolusi Industri.

Selain itu, penemuan thermometer dan mulai digunakannya instrumen pengukuran suhu secara sistematis menjadi fondasi berdirinya ilmu meteorologi dan klimatologi modern. Teknologi pengukuran yang semakin berkembang mulai dari stasiun cuaca hingga satelit berhasil memperkaya pemahaman kita mengenai sistem iklim global. Dengan demikian, pengukuran suhu sejak ratusan tahun lalu memiliki kontribusi besar dalam penelitian iklim, mitigasi perubahan iklim, dan upaya melindungi masa depan Bumi.

Dari termometer sederhana di Eropa hingga jaringan pengamatan global berbasis satelit, setiap perkembangan teknologi membawa kita pada kesadaran bahwa suhu Bumi terus berubah dan kini menghangat dengan cepat. Tanpa jejak data dari masa lalu, kita mungkin tidak menyadari laju pemanasan global yang mengancam berbagai aspek kehidupan di planet ini. Karena itu, menjaga kualitas pengamatan iklim serta memahami data ilmiah menjadi langkah penting untuk melindungi masa depan Bumi dan generasi mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team