Hujan meteor leonid (commons.wikimedia.org/NASA)
Fenomena langit satu ini juga berhubungan dengan komet, tapi kometnya bernama 55P/Tempel-Turtle. Memang benar namanya berkaitan dengan rasi bintang Leo, soalnya titik asal hujan meteornya berada di area sabit rasi bintang tersebut. Ketika komet itu mengelilingi matahari, ada jejak debu halus yang tertinggal di ruang angkasa. Itulah yang kemudian masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan hingga 70 km/detik.
Kapan waktu terbaik untuk melihatnya? Hujan meteor ini berlangsung cukup lama, dari 6-30 November 2025 dan mencapai puncaknya pada 17 November 2025. Sayangnya, di tahun ini, visibilitasnya mungkin menurun saat bulan purnama karena cahaya bulan yang sangat terang sehingga cahaya meteor lebih redup.
Untuk menyaksikannya, pastikan kamu jauh dari sumber polusi cahaya. Disarankan untuk berada di tempat terbuka sehingga kamu bebas menyaksikan langit malam dengan tenang. European Space Agency menjelaskan kalau hujan meteor ini ada 5 hingga 10 meteor setiap jamnya pada 17 November.
Selain dari yang disebutkan tadi, kamu juga bisa menyaksikan konjungsi bulan dan planet yang terjadi beberapa kali dalam sebulan. Apa itu? fenomena ketika bulan tampak berada sangat dekat dengan sebuah planet terang. Itu terjadi saat bulan dan planet berada pada garis bujur langit yang hampir sama. Fenomena itu membuat keduanya terlihat sangat berdekatan, padahal sebenarnya jaraknya jauh.
Fenomena itu biasa terlihat saat matahari terbenam atau menjelang dini hari, tergantung planetnya. Untuk menyaksikannya, cukup lihat langsung tanpa gunakan teleskop. Menakjubkan, bukan? Segera pilih tempat ternyamanmu untuk menyaksikan hujan meteor yang tersisa, ya! Jangan sampai terlewatkan lagi.