Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tanaman kirinyuh
Tanaman kirinyuh (commons.wikimedia.org/Btcpg)

Intinya sih...

  • Alang-alang (Imperata cylindrica) mampu tumbuh kembali setelah dibakar, menyebabkan padang permanen yang sulit dipulihkan.

  • Lantana (Lantana camara) memiliki kemampuan bangkit agresif pascakebakaran dan menghalangi pergerakan satwa serta manusia.

  • Kirinyuh (Chromolaena odorata) mampu tumbuh massal dan menutup lahan hanya dalam satu musim setelah kebakaran.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Api sering dianggap sebagai cara cepat untuk membersihkan lahan dari tumbuhan liar yang mengganggu. Kenyataannya, tidak semua tanaman menyerah ketika berhadapan dengan panas dan bara. Beberapa spesies justru menyimpan strategi bertahan yang membuat mereka mampu bangkit kembali dari kondisi paling ekstrem.

Dari akar bawah tanah hingga biji berdaya tahan tinggi, mekanisme ini kadang luput dari perhatian kita. Yuk, kita kenali tanaman invasif apa saja itu!

1. Alang-alang (Imperata cylindrica)

Alang-alang (commons.wikimedia.org/Apurv013)

Alang-alang bukan sekadar rumput liar, melainkan pengendali lanskap di banyak wilayah tropis. Api memang menghanguskan daunnya, tetapi rimpang yang tersembunyi di bawah tanah tetap menyimpan energi hidup. Begitu hujan turun, tunas baru muncul serempak dan menutup permukaan tanah dengan cepat. Kondisi ini membuat tanaman lain kehilangan ruang tumbuh sejak awal. Tak heran, alang-alang kerap menciptakan “padang permanen” yang sulit dipulihkan menjadi hutan.

2. Lantana (Lantana camara)

Lantana camara (pixabay.com/nguyenthienlong)

Lantana biasanya lolos dari kecurigaan sebab bunganya terlihat menarik dan berwarna cerah. Namun di balik tampilannya, tanaman ini memiliki kemampuan bangkit yang agresif pascakebakaran. Pangkal batangnya sanggup bertahan dan memunculkan cabang baru dalam waktu relatif singkat. Semak lantana kemudian tumbuh rapat dan menghalangi pergerakan satwa serta manusia. Perlahan, struktur habitat pun berubah dan keanekaragaman tumbuhan lokal ikut tertekan.

3. Kirinyuh (Chromolaena odorata)

Kirinyuh (commons.wikimedia.org/DXLINH)

Kirinyuh dikenal karena kemampuannya mengisi ruang kosong dengan kecepatan tinggi. Biji-bijinya tersebar luas dan siap berkecambah saat cahaya matahari kembali mendominasi lahan terbuka. Sisa batang yang masih hidup juga mempercepat kemunculan tunas baru. Disisi lain, tanah bekas kebakaran menyediakan nutrisi melimpah yang dimanfaatkan kirinyuh untuk tumbuh maksimal. Akibatnya, tanaman ini sering muncul massal dan menutup lahan hanya dalam satu musim.

4. Akasia (Acacia mangium dan kerabatnya)

Akasia (commons.wikimedia.org/Judgefloro)

Akasia awalnya diperkenalkan untuk produksi kayu dan rehabilitasi lahan. Sayangnya dalam kondisi tertentu, spesies ini berkembang tanpa kendali dan bersaing dengan vegetasi asli. Kulit bijinya yang keras justru “diaktifkan” oleh panas kebakaran, memicu perkecambahan serempak. Pertumbuhannya yang cepat bikin akasia unggul di lahan terbuka. Dalam jangka panjang, dominasi ini bisa mengubah komposisi hutan secara drastis.

5. Mimosa pigra

Mimosa pigra (flickr.com/Tony Rodd, CC BY-NC-SA 2.0) diakses dari https://flic.kr/p/7PtXjF

Mimosa pigra tumbuh subur di lahan basah dan terkenal susah dikendalikan. Tanaman ini menyimpan cadangan biji dalam jumlah besar yang siap tumbuh ketika kondisi berubah. Hilangnya tutupan vegetasi akibat kebakaran memberi mimosa akses penuh terhadap cahaya dan ruang. Dalam waktu singkat, semak berduri terbentuk dan sulit ditembus. Keberadaannya kerap mengganggu jalur air, habitat satwa, serta aktivitas manusia.

6. Pakis resam (Dicranopteris linearis)

Pakis resam (commons.wikimedia.org/氏子)

Pakis resam cenderung mendominasi lahan bekas kebakaran di wilayah tropis. Rimpangnya tahan panas dan mampu menyimpan cadangan energi dalam jumlah besar. Walau daunnya terbakar habis, pertumbuhan bisa kembali terjadi dengan cepat. Hamparan pakis yang tebal kemudian menutup cahaya matahari di permukaan tanah. Kondisi ini membuat bibit pohon sulit berkembang dan memperlambat pemulihan hutan alami.

Fenomena tanaman invasif yang mampu bangkit pascakebakaran menunjukkan bahwa alam tidak selalu bereaksi sesuai dugaan manusia. Tanpa pengelolaan yang tepat, lahan yang terbakar sebaliknya dapat berubah menjadi wilayah yang semakin dikuasai spesies agresif. Memahami karakter tanaman-tanaman ini menjadi langkah penting agar upaya pemulihan ekosistem tidak berakhir sia-sia.

Sumber Referensi :

Kato-Noguchi, H. (2022). Allelopathy and allelochemicals of Imperata cylindrica as an invasive plant species. Plants, 11(19), 2551.

Love, A., Babu, S., & Babu, C. R. (2009). Management of Lantana, an invasive alien weed, in forest ecosystems of India. Current Science, 1421-1429.

Master, J., Fanani, A., Alim, N., Prastika, I., & Yunus, M. (2022). Potentially Invasive Plant Types in Way Kambas National Park. Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH), 9(1), 24-33.

Hauser, S., & Mekoa, C. (2009). Biomass production and nutrient uptake of Chromolaena odorata as compared with other weeds in a burned and a mulched secondary forest clearing planted to plantain (Musa spp.). Weed Research, 49(2), 193-200.

Pausas, J. G., & Lamont, B. B. (2022). Fire‐released seed dormancy‐a global synthesis. Biological Reviews, 97(4), 1612-1639.

Bakewell-Stone, P. Chromolaena odorata (Siam weed).

Shanungu, G. K. (2009). Management of the invasive Mimosa pigra L. in Lochinvar National Park, Zambia. Biodiversity, 10(2-3), 56-60.

Kato-Noguchi, H. (2023). Invasive mechanisms of one of the world’s worst alien plant species Mimosa pigra and its management. Plants, 12(10), 1960.

Hietz, P. (2010). Fern adaptations to xeric environments. Fern ecology, 140-176.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team