Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Stasiun Jakarta Kota, Arsitektur Art Deco di Kawasan Kota Tua
Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, juga dikenal sebagai Stasiun Beos, yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta, Indonesia. (unsplash.com/Lintang Drestanta)
  • Stasiun Jakarta Kota berdiri sejak 1929 dengan nama Batavia Zuid atau Beos, menjadi ikon cagar budaya yang masih aktif melayani rute utama seperti Bogor dan Bekasi.
  • Bangunan rancangan arsitek F.J.L. Ghijsels ini mengusung gaya Art Deco berpadu konsep Het Indische Bouwen, menghadirkan desain tropis dengan sirkulasi udara alami tanpa pendingin berlebih.
  • Sejak 1993 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, stasiun ini terus dibenahi dan kini terintegrasi dengan kawasan wisata Kota Tua serta transportasi modern seperti TransJakarta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bicara soal Jakarta tidak melulu tentang gedung-gedung tinggi yang mendominasi cakrawala kota. Jika menilik ke kawasan Jakarta Barat, tepatnya di daerah Pinangsia, terdapat Stasiun Jakarta Kota yang berdiri kokoh sebagai ikon cagar budaya. Sebagai stasiun kereta api besar tipe A, bangunan ini masih sangat aktif melayani mobilitas warga Jabodetabek, terutama mereka yang bepergian dengan rute Bogor dan Bekasi.

Di balik fungsinya yang vital sekarang, seperti apa sebenarnya perjalanan panjang sejarah stasiun ini sejak masa kolonial? Yuk, simak fakta sejarah Stasiun Jakarta Kota dalam artikel berikut ini!

1. Dikenal juga sebagai stasiun beos

Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, juga dikenal sebagai Stasiun Beos, yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta, Indonesia. Foto ini mengabadikan stasiun tersebut pada awal abad ke-20, kemungkinan tak lama setelah peresmiannya pada tahun 1929. (ccatalogue.leidenuniv.nl/Anonymous/ this item in Digital Collections UB Leiden)

Stasiun Jakarta Kota punya sejarah panjang yang dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Dahulu, stasiun ini dikenal dengan nama Batavia Zuid, alias Stasiun Batavia Selatan, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Stasiun "Beos". Nama unik ini sebenarnya berasal dari singkatan perusahaan kereta api saat itu, yaitu Batavia en Omstreken Spoorwegen.

Gedung yang berdiri megah saat ini secara resmi mulai beroperasi pada tanggal 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya pun cukup unik karena melibatkan tradisi lokal berupa penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jenderal jhr. A.C.D. de Graeff di area stasiun. Upacara tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan bagi bangunan dan seluruh operasionalnya di masa depan.

2. Mengusung gaya art deco yang dipadukan dengan konsep het indische bouwen

Aula utama Stasiun Jakarta Kota. Ini adalah contoh penting arsitektur kolonial Belanda, yang menampilkan langit-langit berkubah besar dan elemen art deco. (commons.wikimedia.org/Chainwit.)

Keindahan bangunan ini merupakan hasil karya arsitek kenamaan Belanda kelahiran Tulungagung, Frans Johan Louwrens Ghijsels. Ia menerapkan gaya Art Deco yang dipadukan dengan konsep Het Indische Bouwen agar cocok dengan iklim tropis Indonesia. Desain ini membuat stasiun terlihat modern pada masanya tetapi tetap memiliki sentuhan tradisional yang khas.

Ciri paling mencolok dari arsitektur ini terlihat pada atap aula utama yang berbentuk lengkungan besar menyerupai barel. Bentuk atap yang tinggi ini bukan hanya untuk keindahan visual, tetapi juga berfungsi menjaga sirkulasi udara di dalam ruangan. Hal tersebut membuat suasana di dalam stasiun tetap terasa sejuk meski tanpa alat pendingin udara yang berlebihan.

3. Stasiun ujung, di mana rel kereta api tidak berlanjut lagi

Pemandangan di Stasiun Jakarta Kota. Dua kereta KRL Commuter Line tujuan Bogor berada di peron yang bersebelahan. (commons.wikimedia.org/NFarras)

Stasiun Jakarta Kota merupakan stasiun tipe terminus, yang berarti semua rel berakhir di sini dan kereta harus berputar balik untuk memulai perjalanan baru. Sistem ini menjadikannya salah satu titik transit paling teratur dalam jaringan rel kereta api di Jakarta. Saat ini, stasiun memiliki 6 peron yang terlindungi kanopi baja kokoh untuk menjaga kenyamanan penumpang dari cuaca panas maupun hujan.

Meskipun awalnya memiliki 12 jalur, kini tersisa 11 jalur aktif karena satu jalur telah dialihkan fungsinya menjadi ruang tunggu penumpang. Jalur-jalur ini menghubungkan berbagai wilayah penting seperti Tanjung Priok, Pasar Senen, hingga jalur layang menuju Manggarai. Fokus utamanya kini melayani pengguna Commuter Line, terutama rute Bogor dan Bekasi, guna memastikan arus perjalanan tetap lancar meskipun sedang jam sibuk.

Manajemen di dalam stasiun juga telah ditata dengan sangat modern untuk meningkatkan kenyamanan para pengguna jasa transportasi. Alur masuk dan keluar penumpang dipisahkan secara jelas melalui sistem pintu elektronik guna mencegah penumpukan orang di area peron. Pengaturan ini memastikan suasana di dalam stasiun tetap tertib, aman, dan memudahkan mobilitas siapa saja yang sedang bepergian.

4. Ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak tahun 1993

Aula utama Stasiun Jakarta Kota. Ini adalah contoh penting arsitektur kolonial Belanda, yang menampilkan langit-langit berkubah besar dan elemen art deco. (commons.wikimedia.org/Chainwit.)

Stasiun Jakarta Kota telah resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya sejak tahun 1993 untuk menjaga keaslian arsitektur dan nilai sejarahnya. Meskipun sempat menghadapi masalah kebersihan, tumpukan sampah di rel, hingga isu pembangunan mal di atas gedung, status perlindungan ini memastikan struktur aslinya tidak boleh diubah sembarangan. Hal ini sangat penting agar nilai historis stasiun tetap terjaga dan tidak hilang dimakan zaman.

Saat ini, pihak KAI melalui unit khusus mulai bergerak aktif untuk menata dan memperbaiki kondisi stasiun yang sebelumnya kurang terawat. Upaya ini mencakup pembersihan area rel serta penertiban kawasan sekitar guna mengembalikan nilai estetika bangunan bersejarah tersebut. Dengan penataan yang lebih baik, stasiun ini diharapkan tetap berfungsi sebagai pusat transportasi modern tanpa meninggalkan identitas sejarahnya.

5. Terhubung dengan kawasan wisata kota tua dan transjakarta

Pemandangan di stasiun BRT Kota Transjakarta di Jakarta, Indonesia. Stasiun ini berfungsi sebagai pusat transportasi utama, mengintegrasikan sistem bus Transjakarta dengan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota yang berada tepat di sebelahnya. (commons.wikimedia.org/Slleong)

Stasiun Jakarta Kota telah bertransformasi menjadi pusat transit yang terhubung sempurna dengan kawasan wisata Kota Tua. Area di sekitar stasiun kini didominasi oleh jalur pejalan kaki yang luas, sehingga memudahkan turis untuk menuju museum. Integrasi ini membuat perjalanan wisata menjadi jauh lebih praktis dan menyenangkan bagi pengunjung lokal maupun mancanegara.

Selain koneksi pejalan kaki, stasiun ini juga terintegrasi erat dengan moda transportasi modern lainnya seperti TransJakarta. Masyarakat bisa dengan mudah berpindah dari kereta ke bus melalui jembatan penyeberangan atau jalur bawah tanah yang nyaman. Perkembangan infrastruktur ini sekaligus memastikan Stasiun Jakarta Kota tetap menjadi jalur utama transportasi yang vital di tengah kemajuan zaman.

Stasiun Jakarta Kota membuktikan bahwa bangunan bersejarah bisa tetap hidup dan berfungsi di tengah modernisasi Jakarta. Dengan statusnya sebagai cagar budaya yang terus dibenahi, stasiun ini bukan sekadar tempat pemberhentian kereta, melainkan warisan berharga yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan serta rasa kepedulian kita untuk menjaga fasilitas publik yang penuh cerita ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team