Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Imlek Identik dengan Hujan? Berikut Penjelasannya
ilustrasi perayaan Tahun Baru Imlek (pexels.com/Markus Winkler)

  • Imlek sering kali bertepatan dengan puncak musim hujan. Hujan dianggap sebagai simbol keberuntungan di budaya China

  • Hujan adalah simbol keberuntungan dalam kepercayaan China, dan semakin banyak hujan menandakan kemakmuran yang akan datang..Air berkaitan dengan konsep Yin dan Yang.

  • Air dalam tradisi China berkaitan dengan konsep Yin dalam Yin dan Yang, mewakili segala aspek yang terkandung di dalam Yin.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki bulan Februari 2024, umat Konghucu di seluruh Indonesia akan menyambut Tahun Baru Imlek (Chinese New Year) 2575 Kongzili. Seperti diketahui, Tahun Baru Imlek merupakan momen spesial dan sakral bagi umat Konghucu bak hari raya umat agama lain. Bagi penganut agama Konghucu, Chinese New Year dimaknai sebagai momen yang tepat untuk mengucapkan rasa syukur terhadap rezeki dan kebahagiaan yang mereka dapat selama satu tahun penuh.

Biasanya, rasa syukur umat Konghucu akan semakin bertambah apabila hujan turun pada momen spesial tersebut. Yap, hujan seperti hal yang tak terpisahkan dari perayaan Imlek. Setiap tahunnya, Chinese New Year selalu identik dengan hujan. Lalu, apa sebenarnya kaitan hujan dengan Imlek? Yuk, simak penjelasan lengkap mengenai kenapa imlek identik dengan hujan di bawah ini!

1. Imlek sering kali bertepatan dengan puncak musim hujan

ilustrasi hujan (pexels.com/Sitthan Kutty)

Penetapan Tahun Baru Imlek didasarkan pada penanggalan kalender China. Setiap tahunnya, perayaan Imlek selalu jatuh di antara tanggal 21 Januari—21 Februari. Pada tahun ini, Imlek 2024 jatuh pada tanggal 10 Februari 2024. Apabila menilik prakiraan musim hujan tahun 2023/2024 dari BMKG, bulan Januari dan Februari 2024 adalah puncak musim hujan di Indonesia.

BMKG menjelaskan bahwa puncak musim hujan di Indonesia diperkirakan terjadi pada bulan Januari hingga Februari. Prakiraan tersebut hampir sama setiap tahunnya, di mana puncak musim hujan di Indonesia selalu terjadi pada awal tahun. Oleh sebab itulah Tahun Baru Imlek tak bisa dipisahkan dengan musim hujan di Indonesia.

2. Hujan dianggap sebagai simbol keberuntungan di budaya China

ilustrasi perayaan Tahun Baru Imlek (pexels.com/RDNE Stock Project)

Dalam kepercayaan China atau umat Konghucu, hujan adalah simbol keberuntungan. Hal ini dibenarkan oleh Wakil Presiden Asosiasi Cairns dan Distrik Tiongkok Natahan Lee Loong, sebagaimana yang dilansir ABC Local. Ia mengatakan bahwa air yang mengalir atau hujan adalah simbol keberuntungan di Tiongkok. Itu artinya, hujan yang turun jelang Hari Raya Imlek atau pada saat perayaannya merupakan tanda keberuntungan dan kemakmuran di tahun yang akan datang.

Umat Konghucu percaya bahwa semakin banyak hujan maka semakin berlimpah kemakmuran yang akan datang. Di Indonesia sendiri, hujan pada saat perayaan Imlek sering disebut sebagai pembawa hoki atau keberuntungan. Sadar atau tidak, orang Indonesia yang bukan penganut agama Konghucu pun sudah terbiasa dengan istilah "hujan pembawa hoki" ketika Hari Raya Imlek.

3. Air berkaitan dengan konsep Yin dan Yang

ilustrasi perayaan Tahun Baru Imlek (freepik.com/Victor127)

Selain dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, mengutip dari Association of Asian Studies, air dalam tradisi China berkaitan dengan konsep Yin dalam Yin dan Yang. Air dianggap mewakili segala aspek yang terkandung di dalam Yin, yakni lambat, lembut, feminim, dingin, basah, menyebar, dan pasif. Konsep Yin ini berhubungan dengan bumi, bulan, air, feminitas, dan malam.

Maka tak heran apabila segala yang berhubungan dengan air, seperti hujan, sungai, air terjun, air mancur, laut, dan lainnya kerap memiliki makna sakral dalam kepercayaan umat agama Konghucu. Terlebih, pada perayaan Tahun Baru Imlek, kesakralan tersebut terasa lebih melekat, baik pada umat Konghucu maupun lingkungan di sekitar mereka. Jadi, jangan heran lagi, ya, apabila Imlek sangat identik dengan musim hujan. 

FAQ seputar kenapa Imlek identik dengan hujan?

Apakah hujan saat Imlek murni karena faktor mitos atau keberuntungan?

Secara budaya, banyak masyarakat Tionghoa menganggap hujan sebagai simbol keberuntungan (hoki) dan rezeki yang berlimpah. Namun, secara sains, hal ini dapat dijelaskan melalui fenomena meteorologi karena waktu perayaan Imlek biasanya jatuh pada puncak musim hujan.

Mengapa penentuan tanggal Imlek sangat memengaruhi cuaca saat perayaan?

Kalender Imlek adalah kalender lunisolar (gabungan fase bulan dan matahari). Imlek selalu jatuh di antara tanggal 21 Januari hingga 20 Februari. Periode ini secara konsisten bertepatan dengan puncak musim dingin di belahan bumi utara dan musim hujan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Bagaimana masyarakat Tionghoa memaknai filosofi hujan dalam Imlek?

Dalam tradisi agraris Tiongkok kuno, hujan adalah berkah yang sangat dinantikan untuk membasahi lahan pertanian agar subur. Oleh karena itu, hujan dianggap sebagai pertanda bahwa tahun yang baru akan memberikan hasil panen (rezeki) yang makmur bagi semua orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team