ilustrasi perayaan Tahun Baru Imlek (freepik.com/Victor127)
Selain dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, mengutip dari Association of Asian Studies, air dalam tradisi China berkaitan dengan konsep Yin dalam Yin dan Yang. Air dianggap mewakili segala aspek yang terkandung di dalam Yin, yakni lambat, lembut, feminim, dingin, basah, menyebar, dan pasif. Konsep Yin ini berhubungan dengan bumi, bulan, air, feminitas, dan malam.
Maka tak heran apabila segala yang berhubungan dengan air, seperti hujan, sungai, air terjun, air mancur, laut, dan lainnya kerap memiliki makna sakral dalam kepercayaan umat agama Konghucu. Terlebih, pada perayaan Tahun Baru Imlek, kesakralan tersebut terasa lebih melekat, baik pada umat Konghucu maupun lingkungan di sekitar mereka. Jadi, jangan heran lagi, ya, apabila Imlek sangat identik dengan musim hujan.
Apakah hujan saat Imlek murni karena faktor mitos atau keberuntungan? | Secara budaya, banyak masyarakat Tionghoa menganggap hujan sebagai simbol keberuntungan (hoki) dan rezeki yang berlimpah. Namun, secara sains, hal ini dapat dijelaskan melalui fenomena meteorologi karena waktu perayaan Imlek biasanya jatuh pada puncak musim hujan. |
Mengapa penentuan tanggal Imlek sangat memengaruhi cuaca saat perayaan? | Kalender Imlek adalah kalender lunisolar (gabungan fase bulan dan matahari). Imlek selalu jatuh di antara tanggal 21 Januari hingga 20 Februari. Periode ini secara konsisten bertepatan dengan puncak musim dingin di belahan bumi utara dan musim hujan di wilayah tropis seperti Indonesia. |
Bagaimana masyarakat Tionghoa memaknai filosofi hujan dalam Imlek? | Dalam tradisi agraris Tiongkok kuno, hujan adalah berkah yang sangat dinantikan untuk membasahi lahan pertanian agar subur. Oleh karena itu, hujan dianggap sebagai pertanda bahwa tahun yang baru akan memberikan hasil panen (rezeki) yang makmur bagi semua orang. |