Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Imlek di China Disebut Apa?

ilustrasi perayaan Imlek
ilustrasi perayaan Imlek (unsplash.com/Jason Sung)

Banyak orang di Indonesia menyebut perayaan Tahun Baru China dengan istilah Imlek. Tapi, pernah gak sih kamu kepikiran kalau Imlek di China namanya apa ya? Pertanyaan ini cukup sering muncul di mesin pencari, terutama menjelang perayaan Tahun Baru China.

Faktanya, kata Imlek itu gak berasal dari bahasa Mandarin yang digunakan di China. Ada istilah resmi dan beberapa sebutan lain yang lebih umum dipakai oleh masyarakat Tiongkok sendiri. Supaya gak salah kaprah, yuk simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

1. Imlek di china disebut Festival Musim Semi (Chun Jie)

ilustrasi perayaan Imlek
ilustrasi perayaan Imlek (unsplash.com/Philippe BONTEMPS)

Di China, Imlek secara resmi disebut Chun Jie yang artinya Festival Musim Semi. Inilah nama yang paling umum dan diakui secara nasional. Festival ini menandai pergantian tahun berdasarkan kalender lunar, sekaligus simbol dimulainya musim semi setelah musim dingin.

Kenapa disebut Festival Musim Semi? Karena bagi masyarakat China, perayaan ini bukan cuma soal tahun baru, tapi juga melambangkan awal kehidupan baru, harapan, dan keberuntungan. Oleh karena itu, suasana Chun Jie selalu identik dengan warna merah, petasan, dan dekorasi yang penuh simbol keberuntungan.

Chun Jie biasanya dirayakan selama 15 hari, dimulai dari malam tahun baru hingga puncaknya di Festival Lampion. Jadi, kalau kamu bertanya Imlek di China namanya apa?, maka Chun Jie adalah jawabannya.

2. Istilah Imlek lebih populer di Indonesia dan Asia Tenggara

ilustrasi angpao Imlek
ilustrasi angpao Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Kata Imlek sendiri berasal dari dialek Hokkien, tepatnya dari istilah Yin Li yang berarti Kalender Lunar. Istilah ini berkembang dan lebih dikenal di Indonesia, Singapura, dan Malaysia, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa perantauan.

Di China daratan, kata Imlek sebenarnya jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Orang China akan lebih familiar dengan sebutan Chun Jie dibandingkan Imlek. Jadi, bisa dibilang Imlek adalah istilah lokal yang gak digunakan secara resmi di China.

Hal ini wajar karena perbedaan bahasa dan dialek membuat satu perayaan bisa punya banyak nama di berbagai negara. Yang penting, maknanya tetap sama tahun merayakan tahun baru berdasarkan Kalender Lunar.

3. Selain Chun Jie, ada juga sebutan Lunar New Year

ilustrasi perayaan Imlek
ilustrasi perayaan Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Selain Chun Jie, perayaan ini juga sering disebut Lunar New Year dalam konteks internasional. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan bahwa tahun baru tersebut mengikuti kalender bulan, bukan kalender matahari seperti kalender Masehi.

Namun di China sendiri, Lunar New Year bukan istilah utama. Istilah ini lebih sering dipakai dalam konteks global atau saat menjelaskan budaya China ke dunia internasional. Pemerintah dan media China tetap menggunakan Chun Jie sebagai nama resmi.

Jadi, kalau kamu melihat artikel atau konten berbahasa Inggris, Lunar New Year dan Chinese New Year sering dipakai secara bergantian. Namun di China, Chun Jie tetap jadi sebutan utamanya.

4. Nama Imlek mencerminkan budaya dan sejarah panjang

ilustrasi perayaan Imlek
ilustrasi perayaan Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Perbedaan nama Imlek di China dan di luar China menunjukkan betapa panjangnya sejarah dan penyebaran budaya Tionghoa. Chun Jie sendiri sudah dirayakan selama ribuan tahun dan berkaitan erat dengan mitologi, tradisi keluarga, serta ritual penghormatan leluhur.

Di China, Chun Jie bukan sekadar libur nasional, tapi momen sakral untuk berkumpul dengan keluarga. Tradisi mudik besar-besaran bahkan disebut sebagai migrasi manusia terbesar di dunia. Semua ini mempertegas bahwa Chun Jie adalah perayaan budaya yang sangat penting, bukan sekadar pergantian tahun.

Jadi, meskipun kita terbiasa menyebutnya Imlek, penting juga untuk tahu nama aslinya di China agar pemahaman budaya kita jadi lebih tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Common Shelduck, Bebek Pesisir yang Pintar Beradaptasi

10 Feb 2026, 17:49 WIBScience