Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Risiko Memakan Daging Hewan Liar, Rawan Penyakit dan Parasit!
ilustrasi hewan liar (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)
  • Mengonsumsi daging hewan liar berisiko tinggi menularkan parasit dan penyakit zoonosis seperti trichinosis, anthrax, hingga Ebola yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
  • Daging hewan liar umumnya memiliki rasa kurang enak, tekstur keras, serta aroma menyengat sehingga perlu pengolahan khusus agar layak dikonsumsi.
  • Beberapa jenis daging hewan liar mengandung racun berbahaya seperti tetrodotoxin atau merkuri yang bisa menyebabkan keracunan serius bila tidak diolah dengan benar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Secara teori, hampir semua hewan bisa dimakan oleh manusia, entah itu hewan domestik atau hewan liar. Hewan domestik sendiri memiliki daging berlimpah, rasa yang lezat, harga terjangkau, dan dijual secara bebas. Sebaliknya, hewan liar lebih sulit ditangkap dan pasokan dagingnya terhitung minim.

Selain itu, memakan daging hewan liar juga memberikan berbagai risiko, bahkan bisa membahayakan nyawa manusia. Rasa daging hewan liar juga belum tentu enak. Jika dibandingkan hewan domestik, daging hewan liar juga lebih sulit diolah. Penasaran apa saja risiko memakan daging hewan liar? Berikut penjelasannya!

1. Daging hewan liar rawan terinfeksi parasit

ilustrasi hewan liar (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Salah satu risiko terbesar dalam mengonsumsi daging hewan liar adalah infeksi parasit. Hal tersebut bisa terjadi karena hewan liar merupakan hewan yang terbilang kotor. Mereka akan memakan apapun yang ada di alam dan hewan lain juga bisa menyebarkan parasit melalui berbagai metode.

Laman Mayo Clinic menjelaskan kalau manusia yang mengonsumsi daging hewan liar bisa terkena penyakit trichinosis. Penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi cacing bulat (roundworm) yang berpindah dari daging hewan liar ke tubuh manusia saat dimakan. Parasit tersebut kerap ditemukan pada beruang, kucing besar, rubah, babi hutan, hingga babi domestik.

2. Daging hewan liar bisa menyebarkan penyakit

ilustrasi hewan liar (commons.wikimedia.org/Acroterion)

Konsumsi daging hewan liar bisa menyebarkan penyakit pada manusia. Secara spesifik, penyakit yang disebarkan disebut sebagai penyakit zoonosis atau penyakit yang disebarkan dari hewan vertebrata ke manusia. Laman The Conservation menerangkan kalau ada banyak jenis penyakit berbahaya yang mengintai dari konsumsi daging hewan liar, seperti anthrax, mpox, Ebola, bahkan HIV. Sayangnya, beberapa daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi seperti Afrika masih menjadikan hewan liar sebagai makanan pokok. Alhasil, persentase penyakit zoonisis di sana masih terbilang tinggi.

3. Daging hewan liar punya rasa yang kurang enak

ilustrasi hewan liar (commons.wikimedia.org/Giles Laurent)

Dilansir berbagai sumber, daging hewan liar cenderung memiliki rasa yang kurang lezat atau enak. Jika dideskrispikan, daging hewan biar umumnya memiliki tekstur yang keras, berminyak, kurang berserat, aromanya sangat kuat, rasa yang terlalu kuat, bahkan terkadang sangat sulit untuk dimakan. Karena itu, pengolahan daging hewan liar harus dilakukan dengan teliti, entah diolesi banyak saus atau dimasak dalam waktu yang lama. Rasa yang tak enak juga berlaku pada banyak hewan, mulai dari babi, rusa, burung, bahkan ikan sekalipun.

4. Daging hewan liar bisa menyebabkan keracunan

ilustrasi hewan liar (commons.wikimedia.org/Byrdyak)

Tak semua daging hewan liar memiliki kandungan gizi yang berlimpah seperti zat besi, vitamin, atau protein. Justru, tak sedikit daging hewan liar yang beracun dan berbahaya bagi manusia. Dilansir Web Japan, salah satunya adalah daging ikan buntal yang mengandung racun tetrotodoxin. Jika diolah sembarangan, daging ikan tersebut bisa membunuh manusia.

Laman John Hopkins Medicine juga menerangkan kalau daging ikan liar bisa menyebabkan keracunan ciguatera. Efek dari keracunannya beragam, mulai dari pusing, muntah-muntah, mati rasa, dan diare cair. Selain pada ikan, keracunan hewan liar juga bisa terjadi pada daging mamalia, serangga, dan burung. Selain karena racun, keracunan juga bisa disebabkan oleh zat lain seperti merkuri.

5. Daging hewan liar sulit diolah

ilustrasi hewan liar (commons.wikimedia.org/Giles Laurent)

Daging hewan liar memiliki tekstur keras, bau menyengat, dan rasa yang kurang lezat. Jika pengolahannya salah, daging menjadi tak bisa dimakan, parasit dan bakteri di dalamnya tak akan mati, serta kandungan racunnya tak akan menghilang. Laman MeatEater menjelaskan kalau kamu bisa memanaskan atau menaburi banyak garam agar daging lebih lembut dan gurih. Pengolahan di suhu tinggi juga penting agar tekstur daging melunak. Beberapa orang juga melakukan dry aging supaya rasa daging lebih bisa diterima lidah.

Ada banyak risiko memakan daging hewan liar, karena itu sebisa mungkin kamu harus menghindarinya. Misal pun terpaksa memakan daging hewan liar kamu harus selektif dan mengolahnya dengan benar. Kamu juga harus memiliki pemahaman yang baik terkait spesies hewan liar. Pasalnya, tak semua hewan liar bisa diburu, diolah, dan dimakan dagingnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team