Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi tikus tertangkap (pexels.com/ardeshir etemad)
ilustrasi tikus tertangkap (pexels.com/ardeshir etemad)

Intinya sih...

  • Dehnel’s phenomenon adalah kemampuan tikus celurut dan mamalia lain untuk menyusutkan otak hingga 30 persen demi menghemat energi saat makanan langka.

  • Studi memetakan seluruh genom Sorex araneus dan mamalia lain yang menunjukkan Dehnel’s phenomenon, mengungkap gen-gen yang berperan di balik penyusutan dan pertumbuhan kembali otak.

  • Analisis genom menunjukkan adanya mekanisme genetik bersama yang memungkinkan regenerasi otak terjadi tanpa merusak neuron yang sudah ada, membuka peluang baru dalam riset pencegahan dan terapi penyakit neurodegeneratif pada manusia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di alam liar yang keras dan penuh tantangan, bertahan hidup sering kali menuntut strategi ekstrem. Salah satu contohnya datang dari Sorex araneus, atau tikus celurut umum, yang memiliki kemampuan luar biasa menyusutkan ukuran otaknya hingga 30 persen. Mekanisme ini dilakukan demi menghemat energi. Lebih menakjubkan lagi, saat musim semi tiba, otak yang telah menyusut itu “tumbuh kembali” dengan neuron-neuron yang tetap utuh.

Kini, para ilmuwan berhasil menelusuri asal-usul evolusioner adaptasi langka ini sekaligus mengidentifikasi gen-gen yang kemungkinan berperan di baliknya. Temuan ini bukan hanya mengungkap keajaiban biologi mamalia kecil tersebut, tetapi juga membuka peluang baru untuk memahami proses degenerasi otak pada manusia.

1. Dikenal dengan nama Dehnel’s phenomenon

Fenomena unik ini dikenal sebagai Dehnel’s phenomenon, dinamai dari August Dehnel, zoolog asal Polandia yang pertama kali mendeskripsikan kemampuan luar biasa celurut dalam menyusutkan otaknya sebagai cara bertahan dari krisis energi musiman. Meski tergolong langka, adaptasi ini tidak hanya dimiliki oleh Sorex araneus.

Beberapa mamalia lain seperti Talpa europaea, Mustela nivalis, dan Mustela erminea juga mengalami penyusutan ukuran otak secara musiman. Hewan-hewan ini memiliki metabolisme sangat cepat dan tidak berhibernasi, sehingga pengurangan ukuran organ menjadi strategi drastis namun efektif untuk menekan kebutuhan energi saat makanan langka.

2. Studi memetakan seluruh genom Sorex araneus

ilustrasi tikus yang bersembunyi di dalam rumah (pexels.com/DSD)

Untuk memahami rahasia di balik kemampuan ekstrem ini, ahli ekologi William Thomas dari Stony Brook Universitymemimpin studi yang memetakan seluruh genom Sorex araneus. Genom tersebut kemudian dibandingkan dengan mamalia lain yang juga menunjukkan Dehnel’s phenomenon. Ini bertujuan untuk mengungkap “trik” genetik apa yang berevolusi untuk memungkinkan penyusutan dan pertumbuhan kembali otak secara musiman.

Penelitian ini melanjutkan karya tim sebelumnya yang meneliti perubahan musiman dalam ekspresi gen di dua bagian otak celurut. Mereka mengidentifikasi segmen DNA mana yang menjadi lebih aktif selama fase penyusutan dan pertumbuhan kembali. Dengan menggabungkan seluruh data, para peneliti menemukan bahwa gen-gen yang terkait dengan pembentukan sel-sel otak mengalami peningkatan aktivitas (upregulated) pada berbagai spesies yang mengalami fenomena ini.

Hal ini menunjukkan adanya mekanisme genetik bersama yang memungkinkan regenerasi otak terjadi tanpa merusak neuron yang sudah ada.

3. Mekanisme gentik di balik penyusutan otak

Analisis genom menunjukkan bahwa pada Sorex araneus terjadi peningkatan ekspresi gen VEGFA, yang berkaitan dengan permeabilitas sawar darah-otak (blood-brain barrier). Aktivasi gen ini diduga membantu otak lebih peka terhadap ketersediaan nutrisi saat energi terbatas.

Selain itu, genomnya juga diperkaya dengan gen-gen yang berhubungan dengan perbaikan DNA dan umur panjang untuk memberi perlindungan tambahan selama periode stres fisiologis ekstrem.

Menariknya, gen-gen yang mengatur keseimbangan air juga aktif, mendukung teori bahwa penyusutan volume otak terjadi akibat kehilangan cairan, bukan hilangnya sel-sel otak secara permanen. Para peneliti menyimpulkan bahwa temuan ini menunjukkan adanya “sistem yang disetel sangat presisi” yang memungkinkan celurut mengatur penyusutan otak secara reversibel.

Temuan ini menunjukkan bahwa alam telah lebih dulu menemukan cara melindungi otak dari kerusakan, bahkan saat ukurannya menyusut drastis. Dengan memahami mekanisme unik pada Sorex araneus, para ilmuwan berharap ini bisa membuka jalan baru dalam riset pencegahan dan terapi penyakit neurodegeneratif pada manusia.

Referensi

Thomas, William R, Tanya M Lama, Cecilia Baldoni, Laia Marín-Gual, Diana Moreno Santillán, Marta Farré, Linelle Abueg, et al. “Genomic Comparisons and the Adaptive Basis of Brain Size Plasticity and Chromosomal Instability in the Eurasian Common Shrew.” Molecular Biology and Evolution 43, no. 2 (January 8, 2026).

Editorial Team