Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Teleskop James Webb Deteksi Galaksi Tertua Usai Big Bang

Ilustrasi Sebuah Galaksi (unsplash.com/Alexander Andrews)
Ilustrasi Sebuah Galaksi (unsplash.com/Alexander Andrews)
Intinya sih...
  • Usia objek kosmik diukur menggunakan redshift
  • Galaksi mungil dengan jarak ekstrem
  • Penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) belum lama ini berhasil mengamati galaksi paling jauh yang pernah terdeteksi, sebuah objek yang diberi nama MoM-z14. Galaksi ini menjadi sumber paling jauh yang pernah dikonfirmasi secara spektroskopi, karena cahayanya berasal dari hanya sekitar 280 juta tahun setelah Big Bang.

Artinya, cahaya yang dipancarkan MoM-z14 telah menempuh perjalanan kosmik selama lebih dari 13 miliar tahun sebelum akhirnya tertangkap sensor inframerah JWST. Studi ini sudah muncul pada 23 Mei 2025 di server pracetak arXiv dan diterbitkan di Open Journal of Astrophysics pada Januari 2026.

1. Usia objek kosmik diukur menggunakan redshift

Sejak mulai beroperasi pada 2022, James Webb Space Telescope telah menemukan lebih banyak galaksi terang dan sangat tua daripada yang diperkirakan sebelumnya. Temuan ini menangkal teori lama tentang masa awal alam semesta.

Para peneliti bahkan menyebut populasi galaksi tak terduga ini telah “menggetarkan komunitas ilmiah” dan memunculkan pertanyaan tentang bagaimana galaksi bisa terbentuk dan berkembang begitu cepat.

Untuk memastikan apakah objek-objek bercahaya tersebut benar-benar galaksi purba, para ilmuwan melakukan penyisiran ulang terhadap arsip citra JWST. Tim yang dipimpin oleh Naidu mengidentifikasi MoM-z14 sebagai kandidat kuat, lalu mengarahkan JWST langsung ke objek tersebut pada April 2025 untuk pengamatan lanjutan.

Salah satu cara utama menentukan usia objek kosmik adalah dengan mengukur pergeseran merah (redshift). Seiring mengembangnya alam semesta, cahaya dari objek yang sangat jauh diregangkan ke panjang gelombang yang lebih merah.

"Dengan Webb, kita bisa melihat lebih jauh daripada yang pernah dilihat manusia sebelumnya, dan hasilnya sama sekali tidak seperti yang kita prediksi, yang merupakan tantangan sekaligus hal yang menarik," kata penulis utama studi, Rohan Naidu, dari Kavli Institute for Astrophysics and Space Research di Massachusetts Institute of Technology, dalam pernyataan NASA pada 28 Januari.

2. Galaksi mungil dengan jarak ekstrem

Ilustrasi galaksi (Vecteezy.com/Joydeep Mitra)
Ilustrasi galaksi (Vecteezy.com/Joydeep Mitra)

Dalam studi terbaru yang masih menunggu proses penelaahan sejawat, tim peneliti memastikan nilai pergeseran merah MoM-z14 mencapai 14,44. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang galaksi JADES-GS-z14-0 dengan redshift 14,18. Data ini memastikan bahwa MoM-z14 sebagai galaksi terjauh yang pernah diamati. Nilai redshift setinggi ini menunjukkan bahwa cahaya MoM-z14 berasal dari masa ketika alam semesta masih sangat muda.

Menariknya, meski memancarkan cahaya yang kuat, MoM-z14 tergolong sangat kompak. Diameter galaksi ini hanya sekitar 240 tahun cahaya, sekitar 400 kali lebih kecil daripada Bima Sakti. Para peneliti mengamatinya saat MoM-z14 sedang mengalami ledakan pembentukan bintang yang intens.

Selain itu, komposisi kimianya menunjukkan kandungan nitrogen yang tinggi dibanding karbon, pola yang mirip dengan gugus bola (globular clusters) di Bima Sakti.

3. Penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan

Kemiripan MoM-z14 dengan gugus bola memberi isyarat penting bagi para astronom. Gugus bola adalah kelompok bintang purba yang terikat rapat, berisi ribuan hingga jutaan bintang, dan diyakini terbentuk pada beberapa miliar tahun pertama sejarah alam semesta.

Bintang-bintang di dalamnya termasuk yang tertua di kosmos sekitar kita. Jika MoM-z14 memang menunjukkan karakteristik serupa, hal ini mengisyaratkan bahwa proses pembentukan bintang mungkin sudah berlangsung dengan cara yang sebanding, bahkan pada tahap yang sangat awal.

Meski demikian, para ilmuwan masih berupaya mengonfirmasi lebih banyak galaksi dengan pergeseran merah sangat tinggi untuk memperkuat gambaran tentang fajar kosmik. Harapan besar kini tertuju pada Nancy Grace Roman Space Telescope, teleskop inframerah yang dirancang untuk memetakan wilayah langit yang luas.

Jika diluncurkan sesuai rencana pada akhir 2026, teleskop ini diperkirakan akan menemukan lebih banyak kandidat galaksi purba.

Referensi

Naidu, Rohan P., Pascal A. Oesch, Gabriel Brammer, Andrea Weibel, Yijia Li, Jorryt Matthee, John Chisolm, et al. “A Cosmic Miracle: A Remarkably Luminous Galaxy at Z Spec = 14.44 Confirmed With JWST.” The Open Journal of Astrophysics 9 (January 30, 2026).

"NASA Webb Pushes Boundaries of Observable Universe Closer to Big Bang". Diakses pada Februari 2026. NASA.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

Studi: Teleskop James Webb Deteksi Galaksi Tertua Usai Big Bang

13 Feb 2026, 07:20 WIBScience