Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi akhir alam semesta
ilustrasi akhir alam semesta (unsplash.com/Greg Rakozy)

Intinya sih...

  • The big freeze, alam semesta yang mendingin: Skenario paling mungkin terjadi menurut hukum termodinamika. Alam semesta akan terus mengembang hingga jarak antar galaksi sangat jauh dan bintang-bintang kehabisan bahan bakar nuklirnya.

  • The big crunch, alam semesta yang kembali menjadi satu titik: Jika densitas materi cukup besar, gaya gravitasi akan mengalahkan ekspansi, membuat alam semesta menciut kembali dan menjadi titik tunggal yang luar biasa panas dan padat.

  • The big rip, energi gelap yang membelah alam semesta: Energi gelap mendorong ekspansi alam semesta semakin cepat setiap detiknya. Jika kekuatan energi gel

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu bertanya, bagaimana alam semesta berakhir? Sejak ledakan besar (big bang) 13,8 miliar tahun lalu, alam semesta terus mengembang dengan kecepatan luar biasa. Namun, banyak ahli meyakini bahwa ekspansi alam semesta akan mencapai titik akhirnya suatu hari nanti.

Ada beberapa teori kosmologi yang mencoba memprediksi bagaimana alam semesta akan berakhir. Mulai dari alam semesta yang membeku hingga hancur berkeping-keping. Berikut lima teori mengenai akhir alam semesta.

1. The big freeze, alam semesta yang mendingin

ilustrasi alam semesta yang membeku (pixabay.com/ErikTanghe)

The big freeze atau heat death dianggap sebagai skenario paling mungkin terjadi menurut hukum termodinamika. Dilansir Sky Night Magazines, alam semesta akan terus mengembang selamanya hingga jarak antar galaksi menjadi sangat jauh dan bintang-bintang kehabisan bahan bakar nuklirnya. Akibatnya, tidak ada lagi energi yang bisa digunakan untuk membentuk kehidupan atau benda langit baru.

Pada titik tersebut, suhu alam semesta akan turun mendekati nol mutlak, membuat segalanya gelap, sunyi, dan dingin membeku. Alam semesta tidak menghilang, tetapi menjadi mati secara fungsi karena tidak ada lagi pertukaran energi.

2. The big crunch, alam semesta yang kembali menjadi satu titik

ilustrasi alam semesta yang memadat (unsplash.com/Javier Miranda)

Jika big freeze didasari oleh ekspansi tanpa batas, the big crunch adalah sebaliknya. Dilansir Space, teori ini berpendapat bahwa jika densitas materi di alam semesta cukup besar, maka gaya gravitasi suatu saat akan mengalahkan kekuatan ekspansi ini. Alih-alih menjauh, semua galaksi akan mulai tertarik satu sama lain dan menuju satu titik pusat.

Skenario ini membuat alam semesta menciut kembali dan menjadi titik tunggal yang luar biasa panas dan padat. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa setelah big crunch, alam semesta akan mengalami big bang kembali.

3. The big rip, energi gelap yang membelah alam semesta

ilustrasi kehancuran alam semesta (unsplash.com/Casey Horner)

Teori the big rip berfokus pada peran energi gelap (dark energy) yang mendorong ekspansi alam semesta semakin cepat setiap detiknya. Dilansir Space, jika kekuatan energi gelap terus meningkat melampaui batas tertentu, ia akan membelah struktur ruang dan waktu alam semesta dari tingkat yang paling besar hingga terkecil.

Dalam skenario ini, alam semesta akan hancur berkeping-keping karena gaya yang menyatukan materi tidak lagi mampu menahan tarikan energi gelap yang sangat kuat. Alhasil, galaksi-galaksi akan terlepas satu sama lain, diikuti oleh tata surya, bintang, hingga atom-atom yang menyusun tubuh kita akan hancur terbelah.

4. The big slurp, hancur karena ruang kehampaan

ilustrasi ruang hampa di alam semesta (pixabay.com/Vector_Horizon_YT)

Teori yang satu ini cukup menyeramkan karena bisa terjadi kapan saja. Dilansir Futurism, dalam fisika kuantum terdapat konsep “medan higgs” yang memberikan massa pada partikel. Jika medan higgs seketika berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah (kondisi vakum mutlak), ia akan menciptakan ruang kehampaan yang merambat secepat cahaya.

Ruang tersebut akan menghapus semua hukum fisika yang kita kenal dan menghancurkan segala materi yang dilewatinya dalam sekejap mata. Kecepatan perambatannya yang secepat cahaya membuat kita tidak akan pernah menyadari kiamat ini datang.

5. The big bounce, alam semesta ada di siklus keabadian

ilustrasi ledakan big bang alam semesta (unsplash.com/NASA Hubble Space Telescope)

Berbeda dari teori lainnya yang sangat suram, the big bounce memberikan pandangan yang lebih optimis. Teori ini adalah gabungan dari big bang dan big crunch. The big bounce berpendapat bahwa alam semesta berada dalam siklus abadi antara ekspansi dan kontraksi.

Menurut skenario ini, alam semesta kita sekarang mungkin hanyalah satu dari sekian banyak alam semesta yang pernah ada sebelumnya. Pada big crunch, sebenarnya alam semesta tidaklah hancur. Melainkan alam semesta akan “memantul” kembali, menciptakan ledakan baru (big bang) yang memulai alam semesta baru. Siklus tersebut terus berulang tanpa henti.

Memikirkan akhir alam semesta terasa menakutkan. Namun secara ilmiah, hal ini memberikan gambaran tentang betapa dinamis dan megahnya tempat yang kita tinggali. Serta, betapa kecilnya kita di alam semesta yang luas ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team