Salah satu ciri khas Toprak Razgatlioglu di WorldSBK adalah gaya pengeremannya superagresif. Ia kerap melakukan late braking ekstrem, yang membuatnya bisa unggul saat duel 1 lawan 1 di lintasan. Namun, gaya ini justru menjadi tantangan besar di MotoGP.
Karakter motor prototipe dan ban Michelin menuntut gaya berkendara yang jauh lebih halus, terutama saat masuk tikungan dan membuka gas. Karakter ban Michelin juga membuat pengereman yang terlalu agresif memiliki risiko yang tinggi untuk kehilangan kontrol. Akibatnya, Razgatlioglu harus mengubah kebiasaan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun di WorldSBK.
Toprak Razgatlioglu sendiri mengakui, mengubah gaya balap bukan hal mudah. Ia menyebut, proses ini membutuhkan waktu panjang. Kebiasaan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun di WorldSBK harus disesuaikan ulang dari nol.
"Aku baru belajar sedikit, sedikit lebih banyak di beberapa tikungan. Aku masih belum bisa membawa kecepatan tinggi ke tikungan, tetapi aku mencoba mengubah gaya berkendaraku. Itu tidak mudah, tetapi aku harus melakukannya. Di tikungan tertentu, kamu harus berkendara seolah-olah sedang mengendarai motor Moto2, dan itu tidak mudah bagiku," pungkas Razgatlioglu dari GpOne.