Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi balap motor
ilustrasi balap motor (IDN Times/Mardya Shakti)

Intinya sih...

  • Toprak kesulitan beradaptasi dengan ban Michelin yang berbeda dari Pirelli di WorldSBK.

  • Gaya pengereman agresif Toprak harus diubah karena tidak sesuai dengan karakter motor prototipe dan ban Michelin di MotoGP.

  • Bentuk motor MotoGP membuat Toprak merasa tidak nyaman dan tekanan mental akibat performa buruk membuat motivasinya menurun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Debut Toprak Razgatlioglu di MotoGP pada 2026 menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu. Juara dunia WorldSBK tiga kali itu akhirnya pindah ke MotoGP bersama Pramac Yamaha. Namun, proses adaptasi di kompetisi berbeda ini ternyata tidak berjalan mudah bagi pembalap asal Turki tersebut.

Terdapat kendala yang dihadapi Razgatlioglu ketika tes pramusim di Sirkuit Sepang, Malaysia, pada awal Februari 2026. Ia bahkan secara terbuka mengaku frustrasi. Ada tekanan mental akibat performa yang belum sesuai harapan. Berikut empat alasan yang menyebabkan Toprak Razgatlioglu kesulitan beradaptasi di MotoGP:

1. Berusaha beradaptasi lagi dengan karakter ban Michelin

Toprak Razgatlioglu mengaku kesulitan besar beradaptasi dengan karakter ban Michelin yang digunakan di MotoGP. Ia sebelumnya terbiasa memakai ban Pirelli di WorldSBK yang memiliki karakter grip dan feedback sangat berbeda. Perubahan ini membuatnya kesulitan menemukan ritme balap sejak lap pertama saat tes pramusim di Sirkuit Sepang.

Ban Michelin dinilai lebih sensitif, terutama saat akselerasi keluar tikungan. Razgatlioglu kerap kehilangan grip roda belakang, sehingga sulit menjaga kecepatan secara konsisten. Kondisi ini membuat catatan waktunya di tes Sepang tidak mengalami peningkatan signifikan.

Situasi tersebut membuat Toprak Razgatlioglu frustrasi karena sudah mencoba berbagai pengaturan. Ia menargetkan bisa menembus waktu 1 menit 57 detik, tetapi hanya mampu berada di kisaran 1 menit 58 detik. Perbedaan 1 detik saja di MotoGP berpengaruh besar terhadap kualifikasi posisi start dan saat balapan berlangsung.

"Ban ini sedikit berbeda dari Pirelli. Dengan Pirelli, ketika kamu merasakan selip, mudah untuk mengendalikannya. Namun, tidak dengan Michelin," ujar Toprak Razgatlioglu dilansir Motorsport.

2. Toprak Razgatlioglu harus mengubah gaya balap WorldSBK di MotoGP

Salah satu ciri khas Toprak Razgatlioglu di WorldSBK adalah gaya pengeremannya superagresif. Ia kerap melakukan late braking ekstrem, yang membuatnya bisa unggul saat duel 1 lawan 1 di lintasan. Namun, gaya ini justru menjadi tantangan besar di MotoGP.

Karakter motor prototipe dan ban Michelin menuntut gaya berkendara yang jauh lebih halus, terutama saat masuk tikungan dan membuka gas. Karakter ban Michelin juga membuat pengereman yang terlalu agresif memiliki risiko yang tinggi untuk kehilangan kontrol. Akibatnya, Razgatlioglu harus mengubah kebiasaan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun di WorldSBK.

Toprak Razgatlioglu sendiri mengakui, mengubah gaya balap bukan hal mudah. Ia menyebut, proses ini membutuhkan waktu panjang. Kebiasaan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun di WorldSBK harus disesuaikan ulang dari nol.

"Aku baru belajar sedikit, sedikit lebih banyak di beberapa tikungan. Aku masih belum bisa membawa kecepatan tinggi ke tikungan, tetapi aku mencoba mengubah gaya berkendaraku. Itu tidak mudah, tetapi aku harus melakukannya. Di tikungan tertentu, kamu harus berkendara seolah-olah sedang mengendarai motor Moto2, dan itu tidak mudah bagiku," pungkas Razgatlioglu dari GpOne.

3. Bentuk motor MotoGP membuatnya tidak nyaman

Masalah berikutnya datang dari bentuk motor MotoGP, yang sangat berbeda dibandingkan motor WorldSBK. Toprak Razgatlioglu merasa posisi duduk, setang, hingga tangki bahan bakar membuatnya kesulitan mendapatkan rasa nyaman saat membalap. Ia mengaku sulit menemukan posisi ideal untuk mengerem dan bermanuver cepat di tikungan.

Yamaha bahkan harus menyiapkan komponen berbentuk khusus untuk Razgatlioglu. Tujuannya agar bisa mendapatkan posisi berkendara yang lebih nyaman, sekaligus membantu meningkatkan kestabilan saat pengereman dan akselerasi. Meski begitu, proses penyesuaian ini tidak bisa instan. Razgatlioglu membutuhkan waktu dan pengalaman lebih banyak agar bisa benar-benar menyatu dengan motor MotoGP.

4. Tekanan mental membuat motivasi sempat menurun

Kesulitan teknis yang dialami Toprak Razgatlioglu berdampak langsung kepada kondisi mentalnya. Ia mengaku mulai kehilangan motivasi karena performanya belum menunjukkan perkembangan positif. Tekanan ini menjadi tantangan besar pada awal karier MotoGP-nya.

Ekspektasi besar dari adanya gelar juara WorldSBK yang dimiliki Razgatlioglu bisa turut menambah beban di pundaknya. Razgatlioglu merasa berada dalam fase tersulit sepanjang karier balap profesionalnya. Ia bahkan menyebut, proses adaptasi di MotoGP jauh lebih berat dibandingkan WorldSBK. Meski begitu, Razgatlioglu tetap fokus untuk berusaha belajar lebih banyak lagi.

Perjalanan Toprak Razgatlioglu di MotoGP akan penuh tantangan. Adaptasi, perubahan gaya balap, hingga tekanan mental menjadi ujian besar pada musim perdananya. Namun, pengalaman sebagai tiga kali juara dunia WorldSBK membuat peluang Razgatlioglu bangkit dan bersaing di papan atas masih terbuka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team